LOGIN
“Queen, apa yang mau kamu katakan denganku?” tanya Elard sembari menghentikan langkah, membuat Queen terhenti paksa. Queen menatap ke arah Elard berada dengan tatapan lekat. Rasanya kesal dengan tingkah pemuda tersebut yang tdiak pernah merasa bersalah sama sekali. Rasanya, gemas dengan tingkah Elard.
Yesi terdiam seketika. Dia mulai menatap ke arah Cakra dan melepaskan dekapannya, beralih mendekap lengan pria yang dicintainya dan menatap papanya bahagia. “Cakra sudah melamar Yesi dan meminta Yesi menikah dengannya satu bulan lagi, Pa. Jadi, apa Papa mau merestui kami?” tanya Yesi sembari menunjukan cincin di jari manisnya. Beni terdiam seketika. Matanya mengamati wajah Cakra yang terlihat te
“Kamu sudah baik, Bel?” tanya Elard ketika menatap wajah Belinda yang duduk di dekatnya. Ya, setelah lima belas menit Belinda meluapkan semuanya, Elard memilih mengajak wanita tersebut untuk naik ke mobilnya dan berangkat ke kampus bersama. Meski awalnya Belinda menolak, tetapi akhirnya dia memilih menurut karena Elard memaksanya. Belinda yang ditanya hanya diam, rasanya malu setelah dia sadar d
“Kamu mau ke mana, Sayang? Kamu mau menyusulnya?” tanya Belinda dengan tatapan serius. “Memangnya kamu lupa siapa kamu dan apa konsekuensi kalau kamu meninggalkanku dan mengejar dia?” Seketika, Cakra yang mendengar terdiam. Matanya menatap lekat ke arah wanita yang sudah berubah menurutnya. Membuat Cakra semakin diam dengan pandagan lekat.
Belinda membuang napas pelan ketika sudah menyelesaikan sarapannya. Matanya menatap dengan tatapan datar, merasa bingung apa yang akan dilakukannya saat ini. Pasalnya, dia merasa enggan menemui Cakra. Rasanya, masih benar-benar sakit karena pria yang dipercayainya ternyata menghianati. Belinda membuang napas pelan dan menghapus titik yang siap mengalir. Dia memilih bangkit dengan piring dan gelas dalam geng
“Pagi Ma, Pa,” sapa Elard ketika mendapati sang mama dan papa ada di ruang makan. Eiren yang mendengar segera mendongak ke arah putranya dan mengerutkan kening dalam. “Tumben anak mama sudah bangun. Biasanya harus diteriakin dulu baru bangun,” sindir Eiren dengan bibir mengulum senyum tipis.