“Elard, bangun,” teriak Eiren dari luar kamar. Berulang kali dia mengetuk pintu kayu di depannya, tetapi tetap saja tidak mendapat jawaban apa pun. Hanya ada sunyi yang terus aja menghampirinya. Eiren berdecak kecil melihat kelakuan sang anak yang tidak jauh berbeda dengan suaminya. Membuat Eiren mengelus dada dan mencoba bersabar. Astaga, kenapa putraku bisa menuruni sifat Elio, batin Eiren kesal. Eiren menarik napas dalam dan mengembuskan pelan. Tangannya kembali mengetuk pelan pintu di depannya, berharap sang anak akan memberikan sahutan. Namun, yang didapat tetap sama. Hening. “Elard,” teriak Eiren yang sudah merasa putus asa. Matanya melirik jam di dekatnya dan sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Astaga,
Last Updated : 2020-09-03 Read more