Mag-log inKisah petualangan cinta yang penuh sensasi diwarnai dengan keharuan dan romantika cinta yang bikin greget, walaupun cinta tak pernah direstui.
view moreTiba dirumah Donni langsung masuk kamar, kemudian Donni langsung membuka baju karena merasa gerah, tekanan demi tekanan seakan mulai menghantui Donni, kini dilema hidupnya semakin rumit Lia gadis pujaannya akan segera menikah, belum lagi Rena yang terus memaksa untuk dinikahi.Malam semakin larut Donni tak dapat memejamkan matanya, rasa gelisah terus menemani malam Donni bagaimana tidak, esok kekasih pujaannya akan menjadi milik orang lain, rasa tak percaya pada Lia yang tega mengambil keputusan yang begitu cepat tanpa memikirkan hati Donni yang terluka.Air mata Donni terus membasahi bantalnya, sungguh ia tak bisa menerima jika Lia harus dimiliki orang lain, cintanya pada Lia membuat Donni merana, baru kali ini Donni meneteskan air mata hanya untuk Lia, biasanya Donni yang selalu membuat gadis menangis karena ulahnya.Pagi pun datang menyapa rasa kantuk karena kurang tidur semalam, membuat Donni malas untuk pergi n
Disepanjang jalan wajah Donni tampak pucat, mengingat perkataan Wulan yang mulai mengusik bathinnya, ternyata Lia masih tulus mencintai Donni, membuat Donni hatinya dilanda galau."Ayo Ren, kita udah sampai," ucap Donni lemas.Donni menghentikan motornya di sebuah cafe yang cukup terkenal saat itu di Bandung._ Cafe Strawbery_Rena yang sedari tadi hanya diam, masih penasaran dengan sikap Donni yang terkesan dingin, apalagi tadi seorang gadis mendatangi Donni, entah apa yang dibicarakan Donni dengan gadis itu, yang jelas setelah mereka bicara, Donni tampak sedih."Kamu mau pesan apa Ren? tanya Donni seraya membuka buku menu."Terserah mas aja," jawab Rena memelas.Seorang pelayan cafe menghampiri Donni, wajahnya begitu ramah, menyambut kedatangan mereka berdua.Setelah memesan minuman, Donni melirik jam tangan, sungguh sore itu
Menjelang sore Donni belum keluar dari kamarnya, Tini dan ibunya mulai khawatir melihat sikap Donni yang sedari pulang kerja mengunci di kamar, tentu saja bu Halimah sangat cemas dan berusaha menegur Donni."Donni! buka pintunya! dari tadi mamah lihat kamu dikamar terus! apa kamu gak lapar?" ujar bu Halimah, seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar.Mendengar teriakan ibunya, Donni pun keluar kamar, wajahnya begitu tak bersemangat, teguran ibunya tak dihiraukan lagi oleh Donni, iapun bergegas ke kamar mandi."Sana makan dulu! mamah udah bikinin sayur asem kesukaan kamu tuh!"Tini yang sedari tadi memperhatikan sikap kakaknya, hanya bisa diam, kartu undangan pernikahan Lia, masih dipegang ditangannya, ingin rasanya Tini memperlihatkan pada kakaknya, tapi melihat keadaan Donni, Tini merasa tak tega, Tini kemudian menyimpan kartu undangan di meja makan, berharap Donni bisa melihatnya.
Keluarga Lia tampak sibuk mempersiapkan kedatangan keluarga Dwi, beraneka macam kue, sengaja bu Yuni hidangkan untuk menyambut kedatangan mereka.Lia yang dari kemarin mengurung diri di kamar, meratapi nasib cintanya dengan Donni, ingin rasanya Lia menemui Donni sebelum acara pernikahan di gelar, tapi apa daya, ayahnya begitu ketat mengawasinya."Ayo nak, sebentar lagi keluarga Dwi datang, kamu harus siap-siap," sapa bu Yuni seraya mendandani Lia, baju kebaya warna krem sengaja bu Yuni siapkan untuk mengulang lagi proses lamaran yang kemarin telah dibatalkan oleh keluarga Dwi."Mah! apa keluarga Dwi gak malu! kemarin membatalkan perkawinan Li, sekarang mereka mau melamar Li lagi, Li gak mau nikah sama mas Dwi mah...hiks..hikss," rintih Lia menyeka air matanya, yang sejak semalam tak henti menangis."Kenapa? kamu masih mikirin si Donni ya? kamu tahu sendiri kan? gimana kelakuan Donni pada