Home / All / You're the Toughest Guy in the World / Chapter 9 BAHASA_INDONESIA

Share

Chapter 9 BAHASA_INDONESIA

Author: Mo Sheng Ge
last update publish date: 2020-01-10 00:30:04

Aku tengah menyiapkan makan siang di dapurku yang lusuh, rumahku memang sangat sederhana, bukan, tapi rumah kami, aku dan suamiku, kebetulan kami belum di karuniai buah hati, pernikahan kami baru seumur jagung, kami menempati rumah dinas dimana suami di tugaskan.

"Bun... Bunda..." Teriak suamiku berlari dari arah luar pintu belakang yang terletak di belakang dapur, ia tadi pamit padaku pergi main ke rumah temannya yang tidak jauh dari rumah. Ku perhatikan dari dapur di tangannya sudah memegang barang yang belum terlihat jelas di pandanganku.

Aku rasa itu adalah sebuah handphone, setauku ponsel suami memang sudah rusak dan tidak bisa di pakai lagi, mana sangka dia diam-diam membelinya, aku fikir ia akan mengajakku saat membeli ponsel barunya.

"Bun, ayah sudah beli HP baru." Ucapnya dengan senyum riang menghampirimu yang tengah mengaduk masakanku di atas wajan, diperlihatkannya ponsel baru itu.

"Enak sekali beli HP baru, HP bunda ga di ganti?" Aku melengos, melirik sesaat hp yang ada di tangan suamiku, merk anu yang terkenal, tapi kalau di perhatikan bukan yang wow sekali, biasa-biasa saja, menurutku. Tapi aku iri, aku juga ingin ganti hp.

"Kan ayah memang hp sudah rusak bun, kalau bunda kan masih punya hp, hp masih bisa di pakai, masak mau beli hp lagi?" Ucapnya, itu tandanya dia tidak akan membelikanku hp baru.

Aku acuhkan ucapnya, ku lanjutkan aktifitasku memasak sampai selesai, lalu ku hidangkan di meja makan dan ku tutup dengan tudung saji.

Fikiranku terfokus pada hp baru, hpku juga merk anu, merk yang sama dengan ponsel suamiku yang baru. tapi sudah lama, sudah berkarat istilahnya, jaman sudah 4G, aku masih pake hp yang hanya bisa menangkap jaringan 3G, tanpa memakai pelindung dan sudah lecet sana sini pula karena seringnya terjatuh.

"Makan dulu yah, mungpung masih panas itu." Ucapku pada suamiku, sedangkan aku sudah memegang piringku, duduk bersandar di ruang tamu yang kecil, duduk lesehan, kami tidak memiliki sofa atau sejenisnya, karena aku tidak mau mengisi rumah dengan banyak perabotan, rencana kami ingin segera mengurus pindahnya suami ke Bali, itupun kalau rejeki.

"Iya sebentar bun." Jawab suamiku tanpa melirik ke arahku, ia masih fokus dengan hp barunya, ku lirik sesekali ke arahnya, ia begitu menikmati ponsel barunya, entah, mungkin sedang menyimpan nomor atau apalah, aku tak peduli.

Pelit sekali, minta ikut beli hp baru saja ga boleh, gerutuku dalam hati. 15 menit aku menyelesaikan makan siangku, suamiku masih saja pada posisi yang sama, duduk dan memainkan ponselnnya.

"Bun, ini gimana ya caranya? Mau mindahin nomor-nomor yang ada di kartu biar tersimpan di telpon? Ayah belum ngerti, belum paham." Tanyanya kemudian, aku masih sibuk mengunyah camilan kacang polong yang ku beli kemarin sore di warung depan asrama.

"Mana bunda liat." Jawabku mencoba meraih hpnya, tapi tangannya menahan, ia seperti enggan memberikan ponselnya padaku.

"Kasi tahu caranya gimana bun?" Ucapnya lagi, masih menatap layar ponsel itu.

"Bagaimana mau kasih tahu kalau dipegang saja ga boleh!" Gerutuku kesal. Percis seperti bapakku, sifat suami dari A sampai Z benar-benar mirip dengan bapakku.

"Ya liat saja to, bilangin, ayah harus pencet tombol yang mana? Trus apa? Gitu kan bisa, ga harus bunda yang pegang hp." Jawabnya ketus.

"Ya sudah, cari aja sendiri, otak atik sendiri, ga usah tanya-tanya, pegang aja ga boleh, pelit." Aku meninggalkan suamiku pergi, masuk ke dalam kamar, rebahan, ambil hp, nyalakan tivi, entah niatku menonton apa yang jelas perasaan kesal sedang merajaiku, ku ganti-ganti canel beberapa kali sambil menggerutu sendiri.

"Bun, coba aturkan ini, ayah ga ngerti." Suamiku ikut masuk ke dalam kamar, ia menghampiriku, bersandar di sebelahku.

"Apalagi? Usaha to, cari-cari sendiri, kan sudah bisa." Aku mendelik, ku lihat sesaat ke arah ponsel yang ia pegang.

"Pasang memorynya gimana bun?" Suamiku menyodorkan hpnya padaku.

"Itu lubangnya disitu liat." Ucapku ketus, ku lirik sekilas ponselnya, sementara tanganku masih memegang remote tv.

"Pasangkan bun, tolong." Tanpa ku jawab, ku ambil hp itu dari suamiku dengan cepat, ku bongkar, dan ku masukkan memory card'nya, belum juga terpasang sempurna, dengan gesit tangannya sudah merampas lagi ponselnya seakan-akan takut aku menemukan sesuatu yang tak ingin terlihat olehku.

Seharian ini ia disibukkan melihat layar ponsel barunya, padahal hp biasa-biasa saja, tapi sepertinya dia sangat menikmati semua aplikasi bawaan ponsel tersebut.

Aku di abaikan, bahkan sampai jam tidur kamipun ia masih fokus dengan ponselnya, awas aja kalau nanti minta anu, biar ku suruh aja dia anu sama tuh ponsel, biar tahu rasa.

Ku peluk gulingku erat, ku bungkus diriku dengan selimut, ku punggungi suamiku yang masih tidak mau melepaskan ponsel barunya itu.

"Bun..." Panggilnya lagi, ia mencolek punggungku beberapa kali.

"Hmmm..." Jawabku malas.

"Bun, f******k ayah ga bisa buka, lupa kata sandinya, tolongin dong." Ucapnya dengan nada memelas.

"Ga bisa, yang punya f******k ayah, bunda mana tau sandinya." Jawabku ketus.

"Ayah lupa bun, tidak ingat." Ucapnya.

"Tanya aja sama mantannya ayah, mungkin dia tahu sandinya." Aku kembali mengungkit-ungkit masa lalunya suami, kebiasaan burukku ya begitu, aku sering kali mengungkit masa lalu suami.

Aku baru bertemu suamiku setelah putus 7 tahun lalu, sekalinya ketemu kita langsung menikah, aku baru tahu setelah menikah, ternyata sebelum kami menikah ia sudah punya kekasih yang putus 1 bulan sebelum kami bertemu.

Aku membenci wanita itu, dia memang tidak salah, tapi aku tidak suka aja suamiku sempat berpacaran dengannya, aku iri dengan kecantikannya, iri dengan gayanya yang wow, beberapa kalipun diminta iklas aku tetap tidak bisa, padahal kalau di fikir-fikir dia tidak salah.

Aku sempat mencari tahu perihal putusnya mereka, semua karena beda keyakinan, dan 1 lagi, sifat keras kepala dan mengaturnya si perempuan itu membuat suamiku tidak kerasan.

Kembali ke topik, setelah bujuk rayunya, akhirnya ku buatkan akun f******k baru buat suamiku, aku kira setelah selesai, dia akan berhenti memgang hpnya lalu istirahat bersamaku, sayang, dugaanku salah, ia masih saja fokus dengan ponselnya itu, entah mungkin sibuk menambah pertemanan pada f******k barunya atau sibuk menghubungi teman-temannya, maybe lah, yang pasti aku jengkel sejengkel-jengkelnya.

Perasaan kesal semakin memenuhi kepalaku, rasanya pengen mengumpatnya, hp terus di pegangin, istrinya malah di anggurin kayak jemuran kering ga di angkat-angkat. Liat saja ya, aku juga bisa seperti itu. Ku pejamkan mataku kemudian, ku tinggalkan dia yang masih sibuk bermain ponsel, aku memilih berselancar ke dunia mimpi.

Bersambung....
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • You're the Toughest Guy in the World   Chapter 14 Russian

    – Катя, ну Катя! Ты же ходячая катастрофа! – выдохнул старший закупщик Сергей, с чудовищным восхищением глядя на меня и на оторванную дверцу холодильника на полу нашей корпоративной кухни.Грохот и звон ещё стоял в моих ушах. На руках кожа вздыбилась мурашками. Большинство сотрудников «Жирафа», подтянувшихся по обыкновению за сливками к кофе, лимончиком и плюшками, без которых с утра не выжить нормальному человеку в офисе, стояли рядом и оторопело смотрели на растекающееся по полу молоко, осколки и прочее безобразие. Лица коллег были вытянутые, глаза круглые.Ну почему последний день перед отпуском должен был начаться именно так?!– Я приберу... – пробормотала я, покрываясь холодом от смущения и продолжая сжимать ручку от дверцы в своей руке.Не холодильник, а пластиковый конструктор какой-то... Я только открыть хотела. Кто так строит?..– Где все?! – раздался позади недобрый утренний рык.В кухню заглянул Андрей Викторович. Наш начальник. Тиран, сын тирана. Мой Андрюша.Как все

  • You're the Toughest Guy in the World   Chapter 13 OTHER

    Viviane Coulibaly Je viens de rentrer chez moi après une dure journée de travail , Al Hamdoulillah j'ai pu tout vendre. Je passe dans la chambre de ma belle mère pour la salué mais elle me répond pas et se contentait de me regarder de travers. C'est toujours comme ça avec elle , dix longs années que je vie dans cette maison et je n'arrive toujours pas à m'y faire, je ne peux pas supporter son ignorance envers moi et ça me tenaille de jour en jour . J'aimerais avoir une belle relation avec elle et qu'elle soit ma maman mais c'est pas le cas . Elle me déteste à un tel point que même passé où j'ai déjà mis les pieds la répugne. J'ai tout fais pour qu'elle m'aime , qu'elle m'accepte mais ça devient de pire en pire. Elle me tient responsable du voyage de son fils qui est mon mari et qui est parti en Espagne il y a de cela dix ans. Je l'entends rarement au téléphone mais je vois qu'il appelle presque chaque jour sa mère et ça me fait mal de savoir que ma vie n'intéresse pas à mon ma

  • You're the Toughest Guy in the World   Chapter 12 THAI

    ก่อนพลบค่ำ ซาบริน่า สก๊อตต์ เดินออกมาจากเรือนจำเธอได้รับการประกันตัวออกจากมาชั่วคราวเป็นเวลาหนึ่งวัน ในมือของเธอกำเอกสารซึ่งระบุที่อยู่แห่งหนึ่งเอาไว้ จากนั้นเธอจึงเดินขึ้นรถที่จอดรออยู่ตรงทางเข้าเรือนจำ เธอมาถึงคฤหาสน์เก่าที่อยู่บนกึ่งกลางภูเขาในเวลาใกล้ค่ำ คนเฝ้าประตูนำทางซาบริน่าไปยังห้องนอน ทันทีที่เดินเข้ามาในห้อง เธอพบว่าห้องนอนนั้นมืดสนิท และมีกลิ่นคาวเลือดเตะจมูกอย่างรุนแรง ก่อนที่เธอจะปรับสายตาเพื่อให้เข้ากับความมืดในห้องนั้นได้ แขนอันแข็งแกร่งคู่หนึ่งฉุดรั้งตัวเธอมาไว้ในอ้อมกอด ลมหายใจที่ร้อนระอุเข้าโจมตีเธอ “เธอคือคนที่พวกเขาส่งมาให้ฉันเล่นสนุก ก่อนที่ถึงเวลาตายสินะ… นังผู้หญิงขายตัว?” ‘หญิง....ขายตัวงั้นเหรอ?’ น้ำตาของซาบริน่าร่วงหล่นลงมาจากดวงตา ในทันใด เธอรู้สึกหวาดกลัว และเสียงของเธอเริ่มสั่นเครือขึ้นทุกขณะ “คุณ… กำลังจะตายเหรอคะ?”“ใช่! เธอเสียใจเหรอที่กำลังทำแบบนี้กับฉัน?” ชายคนนั้นหัวเราะเยาะเบา ๆ “ฉันไม่ได้เสียใจเลยค่ะ” ซาบริน่าพูดออกมาอย่างยากลำบากเธอไม่มีที่ว่างให้กับความเสียใจหรอก เพราะแม่ของเธอกำลังรอความช่วยเหลือจากเธออยู่ ห้องนั้นมืดสนิท เ

  • You're the Toughest Guy in the World   Chapter 11 ARAB

    مُقدمةلم يكُن يعلم ما الذي يُخفيه المُستقبل، لم يُخبره الساحِر ولكِنّه أصر على الذهاب لِمُلاقاة المجهول ولِيحصل على هدفه الكثير مِن الخطط وضعت لِيتفادى الأذى ولكِنّ لَم يكُن المُستقبل كما توقع في اول خمس دقائق فقط سُرقت بوابته التي ستعيده مرة أخرى لزمنه بعد إتمام مُهمته بِواسطة دورسيليا، سارقة سكريديا المُحترفة..إقتباسات وإهداء.«سَرَقت قَلبي مَع الخاتم و تركتني أسير الزَمان وعيناها« «لَقد كان كأُغنّية جميلة لَم تُكتب بَعد، كأُغنية ساحِرة لا يشوبها شئ»ماذا يحدُث إن كان مَن بيده طوق النجاه يَظُنّه كنز مُثَمَّن؟إهداء إلى الغارِقين في نشوّة الخيال فَلم يعُد الواقِع يُغريهُمالفصل الأول«شاونفيلد ألقى بالأريكة على مارثا»أيقظني توم على خبر كهذا مِن حُلمي الرائع «إلهي توم هل هو مُختل أم هل يريدنا جميعًا أن نُزج بالسَجن! هذه فتاة مخملية يا هذا فتاة مخملية وليست زوجتك العاصية»تمتمت بحنق بينما أنهض من فِراشي بشعري المُبعثر وأضع روبًا على ملابس نومي وأرتدي نعال المَنزل الفروي الأبيض لأتجه تجاه المنزل المُجاور «شاونفيلد لا أكترث إن كُنت تريد أن تتعفن في السج

  • You're the Toughest Guy in the World   Chapter 10 VIETNAMESE

    Happy readingTepuk tangan yang sangat meriah di sebuah gedung perusahaan keuangan ternama di Korea. Dan yang ada di dalam perusahaan tersebut, berisi orang-orang penting yang berpengaruh terhadap perusahaan tersebut.Penilik perusahaan tersebut bernama Lee minjae. Yang membangun perusahaan tersebut sejak dari tahun 1995 hingga kini."Terima kasih untuk semuanya telah hadir di acara ini" ujar Pak Lee."Saya sangat berterimakasih kepada manajer saya,staff dan semua karyawan yang sudah bekerja keras dari awal hingga sekarang ini dan juga keluarga tercinta saya. Yang selalu mendukung saya dari awal hingga sekarang""Saya juga berterimakasih kepada bapak/ibu yang datang dari berbagai negara untuk menghadiri acara ini. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesehatan untuk berbicara disini. Saya berharap untuk ke depannya, enormous company ini meningkat lebih pesat lagi""Sekian,dan terima kasih"Semua bertepuk tangan ketika Lee minjae menyelesaikan pida

  • You're the Toughest Guy in the World   Chapter 9 BAHASA_INDONESIA

    Aku tengah menyiapkan makan siang di dapurku yang lusuh, rumahku memang sangat sederhana, bukan, tapi rumah kami, aku dan suamiku, kebetulan kami belum di karuniai buah hati, pernikahan kami baru seumur jagung, kami menempati rumah dinas dimana suami di tugaskan. "Bun... Bunda..." Teriak suamiku berlari dari arah luar pintu belakang yang terletak di belakang dapur, ia tadi pamit padaku pergi main ke rumah temannya yang tidak jauh dari rumah. Ku perhatikan dari dapur di tangannya sudah memegang barang yang belum terlihat jelas di pandanganku. Aku rasa itu adalah sebuah handphone, setauku ponsel suami memang sudah rusak dan tidak bisa di pakai lagi, mana sangka dia diam-diam membelinya, aku fikir ia akan mengajakku saat membeli ponsel barunya. "Bun, ayah sudah beli HP baru." Ucapnya dengan senyum riang menghampirimu yang tengah mengaduk masakanku di atas wajan, diperlihatkannya ponsel baru itu. "Enak sekali beli HP baru, HP bunda ga di ganti?" Aku melengos, melirik sesaat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status