Menarilah, menari di atas serpihan kaca. Sakitnya raga, tak akan sebanding dengan palung hati yang telah retak. "Iren! ke mana saja kamu jam segini baru pulang, hah?" Suara Bu Fatika menggelegar di penjuru ruangan.Wanita bersurai sebahu itu menatap tajam anak gadisnya, layaknya predator yang siap menerkam mangsa. Otot-otot lehernya tergambar jelas. Manik mata sayu itu berkilat merah. Namun, anak gadisnya malah asik bermain ponsel."Jawab, Iren! Jangan hanya diam saja!"Wajar saja jika ia sangat marah, karena sejak petang tadi wanita itu mondar-mandir di depan pintu, menunggu kedatangan sang putri. Namun, Iren tak kunjung menampakkan batang hidung. Hingga dini hari anak semata wayangnya itu, baru menampakkan diri tanpa menyapa ibunya."Jawab!" bentak ibunya lagi.Iren memutar bola mata dan menoleh ke arah ibunya dengan malas. "Pulang kerja." Gadis itu beranjak pergi, tetapi langkahnya terhenti ol
Last Updated : 2020-08-09 Read more