Mag-log in
Benar adanya, kertas yang sudah teremas tak akan bisa kembali lurus. Begitu pun hati yang telah hancur, tak akan dapat disatukan kembali.|Bu Fatika menghampiri sang suami di ruang baca pribadinya dengan mata sembab. Masih terlihat jelas sisa-sisa air mata membasahi pipi wanita itu. Ia menghempaskan bokong dengan kasar di atas sofa. Tepat di hadapan pria yang dikenalnya hampir tiga puluh tahun itu."Pa, mama sudah tak sanggup!" pekik Bu Fatika tiba-tiba sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.Bahu wanita pemi
Menarilah, menari di atas serpihan kaca. Sakitnya raga, tak akan sebanding dengan palung hati yang telah retak."Iren! ke mana saja kamu jam segini baru pulang, hah?" Suara Bu Fatika menggelegar di penjuru ruangan.Wanita bersurai sebahu itu menatap tajam anak gadisnya, layaknya predator yang siap menerkam mangsa. Otot-otot lehernya tergambar jelas. Manik mata sayu itu berkilat merah. Namun, anak gadisnya malah asik bermain ponsel."Jawab, Iren! Jangan hanya diam saja!"Wajar saja jika ia sangat marah, karena sejak petang tadi wanita itu mondar-mandir di depan pintu, menunggu kedatangan sang putri. Namun, Iren tak kunjung menampakkan batang hidung. Hingga dini hari anak semata wayangnya itu, baru menampakkan diri tanpa menyapa ibunya."Jawab!" bentak ibunya lagi.Iren memutar bola mata dan menoleh ke arah ibunya dengan malas. "Pulang kerja." Gadis itu beranjak pergi, tetapi langkahnya terhenti ol