Hermand keheranan melihat betapa cekatannya Arya memotong sayuran dan menyiapkan bumbu-bumbu. Untuk sesaat ia berdiri terpesona di pintu dapur dan tidak dapat berkata apa-apa."Kenapa kau berdiri saja di pintu? Ayo bantu aku. Petik leunca dan taruh di mangkok. Kakek suka makan sambal dengan lalapannya," kata Arya sambil menunjuk tumpukan sayuran mentah di sebelah kirinya."Astaga... kau sungguh-sungguh," cetus Hermand.Arya memutar matanya mendengar kata-kata sahabatnya itu. "Memangnya aku pernah berbohong? Dasar.""Maksudku.. astaga, demi Tuhan, Arya, kau itu cucu bupati. Tapi kau bisa memasak! Aku saja yang Belanda tidak pernah menyentuh sayuran mentah," tukas Hermand."Memang apa hubungannya dengan kau Belanda?" tanya Arya. "Memasak itu keahlian untuk bertahan hidup, tahu! Kalau kau tiba-tiba menjadi miskin dan tidak sanggup menggaji juru masak, siapa yang kau harapkan memasak untukmu?"Hermand buru-buru menepis kepala Arya dan mengomel.
Huling Na-update : 2020-10-05 Magbasa pa