Aku memutuskan untuk tetap kuliah sambil bekerja meskipun ayah melarang. Bukan karena apa-apa, tetapi semata karena aku sudah menemukan kenikmatan dalam berdikari. Rumah megahku memang selalu menunggu tubuhku untuk rebah ketika lelah, dan sepanjang aku membutuhkannya, tetapi, ada Kartika yang lugu, ada Mbak Ayu, Pak Bobby dan bibinya yang baik hati, juga teman-teman baruku di kafe. Semua membakar semangatku. “Ingat untuk tetap jaga kesehatan, dan menjadi yang terbaik,” kata ayah. Aku mengerling setuju. Pada malam ketika kembali ke mess karyawan, aku terlelap lelah. Dalam lelapku aku melihat lagi bangunan candi itu, tinggi menjulang dihadapanku. Dinding batunya dingin tapi memancarkan cahaya keemasan. Aku seperti dituntun oleh sesuatu, sebuah genggaman tangan kokoh berbalut beskap hitam nan gagah. “Raden Sastrawijaya …,”desisku tanpa mem
Last Updated : 2020-11-07 Read more