Chapter: PART 2“Kamu?!” ujar Arvi dengan nada kurang suka,ia lumayan terkejut melihat perempuan tersebut berada diruangannya, Arvi meletakan tas laptopnya diatas meja dan menatap tajam gadis yang memakai setelan peach tersebut. Sayangnya, tatapan tajam tersebut tak mempan untuk menakutinya, bahkan gadis tersebut menunjukan senyum lebar.“Selamat pagi, mas” sapa Zevina dengan ramah, Arvi mengeraskan rahangnya. “Keluar kamu dari ruangan saya!” titah Arvi tegas, Zevina kembali tersenyum dan mengangguk patuh. “Kopinya diaduk dulu mas,” kemudian ia keluar dari ruangan tersebut.Setelah Zevina keluar dari ruangannya, Arvi mengambil ponselnya dan menelpon Bayu. “Kenapa?” sapa Bayu dari seberang telepon, Arvi menghela nafasnya dan duduk. “Zevina” ucap Arvi, Bayu terdiam heran dengan ucapan Arvi, terlebih dengan helaan nafas Arvi yang terdengar sangat berat. “Kenapa sih Vi?” mendapati pertanyaan seperti itu, Arvi memijat pangkal hidunganya.Ia
Last Updated: 2020-11-12
Chapter: Part 1Tatapan tajam dari satu diantara dua pria, sudah diterima Zevina anggarini sedari ia baru memasuki ruangan interview. Yang bisa ia lakukan hanya tersenyum pada sang pria yang masih menatapnya dengan malas dan tajam."Jadi kesibukan kamu sekarang ini, sebagai mahasiswa?" tanya pria dengan kacamata dengan ramah setelah membaca cv dan selebaran lamaran kerja Zevina.Zevina melirik pria satunya sebentar, lalu mengangguk membenarkan. "Iya pak," ujarnya. Pria berkacamata tersebut menatap Zevina, dan tersenyum."Kamu masuk kriteria yang kami cari. Sekarang kamu boleh pulang, tunggu telpon dari kami" ujar si pria berkacamata, pria disebelahnya menatap ke kiri dengan tatapan protes."Okey pak, saya tunggu" ujar Zevina fokus pada pria berkacamata. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan tersenyum tipis pada kedua pria tersebut."Assalamualaikum" salam Zevina dan hilang dibalik pintu. Yang harus ia lak
Last Updated: 2020-11-12