A to Z

A to Z

last updateLast Updated : 2020-11-12
By:  oktaviona efel MalikOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
2Chapters
13views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Zevina anggraini tidak pernah menyangka, pria yang ia kagumi, ia idolakan, akan menghancurkan masa depannya. ia sama sekali tidak mengira, bahwa mengidolakan seseorang dapat berakibat buruk seperti ini. *** "Saya enggak nyangka, kamu sebegitu terobsesinya sama saya. sampai- sampai kamu rela saya tidurin" Arvi berujar menatap kedua bola mata wanita yang baru saja ia tiduri. ia sedikit tertegun kala mendapati mata tersebut mengeluarkan air mata. "Murahan" desisnya, kemudian bangkit dan meninggalkan wanita tersebut.

View More

Chapter 1

Part 1

Tatapan tajam dari satu diantara dua pria, sudah diterima Zevina anggarini sedari ia baru memasuki ruangan interview. Yang bisa ia lakukan hanya tersenyum pada sang pria yang masih menatapnya dengan malas dan tajam.

"Jadi kesibukan kamu sekarang ini, sebagai mahasiswa?" tanya pria dengan kacamata dengan ramah setelah membaca cv dan selebaran lamaran kerja Zevina.

Zevina melirik pria satunya sebentar, lalu mengangguk membenarkan. "Iya pak," ujarnya. Pria berkacamata tersebut menatap Zevina, dan tersenyum.

"Kamu masuk kriteria yang kami cari. Sekarang kamu boleh pulang, tunggu telpon dari kami" ujar si pria berkacamata, pria disebelahnya menatap ke kiri dengan tatapan protes.

"Okey pak, saya tunggu" ujar Zevina fokus pada pria berkacamata. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan tersenyum tipis pada kedua pria tersebut.

"Assalamualaikum" salam Zevina dan hilang dibalik pintu. Yang harus ia lakukan sekarang adalah pulang ke tempat ia mengontrak, bersama sahabatnya, Gita.

"Kayaknya yang terakhir tadi cocok deh,Vi" ucap Bayu, sang pria berkacamata setelah beberapa saat Zevina pergi. Arvi melirik Bayu dengan jengkel.

"Gue enggak suka. Enggak cocok" ujar Arvi sembari membaca biodata masing-masing pelamar yang lolos kriteria. Bayu meletakan biodata Zevina didepan Arvi yang langsung dialihkan Arvi kesebelahnya.

"Kenapa sih? Lo kenal sama Zevina? Kayak musuh bebuyutan gitu lo sama dia" tembak Bayu, ia kemudian membuka surat lamaran kerja Zevina yang menunjukan prestasi yang sudah didapatkan oleh gadis tersebut.

"Lo liat deh, ipk nya aja 3.8, dia kuliah fokus akuntansi. As what we need"

"Lo kayak enggak pernah kuliah aja. Ipk mah, gampang bikin tingginya. Yang kita cari itu,yang beneran punya skill" Bayu mengernyitkan dahinya heran.

"Why you act like you doesn't like her?" tanya Bayu penasaran, Arvi menatap Bayu lumayan lama, ia seperti berbicara melalui tatapannya tersebut. "no, im not"

Arvi bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju sofa dan mengambil tas yang berisi pakaian kerjanya. "Lecek?" tanya Bayu dengan nada mengejek, Arvi mengganti kemeja serta memakai jas yang syukur sekali ia gantung tadi.

"Makanya Vi, cepetan nikah. Biar ada yang ngurusin." Bayu tertawa setelah mengucapkan kalimat yang paling dibenci oleh Arvi. Sedangkan Arvi, ia hanya memutar bola matanya, jengah mendengar ucapan yang berbau suruhan menikah.

"Gue pergi, udah telat"

"Vi... Vi" Bayu menghela nafas dan tersenyum melihat biodata yang tertera pada lamaran kerja Zevina. Ia mengambil ponselnya dan menelpon Zevina.

****

"Gimana?" tanya Gita, sahabat Zevina, Zevina yang sedang mengunyah makanannya menatap Gita dan mengangkat kedua alisnya. "Interview kerjanya, gimana?" ulang Gita, Zevina menyelesaikan kunyahannya dan menatap Gita dengan antusias.

"Gue enggak peduli mau diterima atau enggak, yang penting gue udah ketemu dia dengan mata kepala gue sendiri." Ujar Zevina senang, Gita memutar bola matanya malas. Malas sekali mendengar cerita pria yang disukai sahabat karibnya itu. Ini sudah lebih dari dua tahun, dan perasaan sahabatnya terhadap pria tersebut, tidak padam sedikitpun.

"Seriously? Lo ikut lamar kerja di perusahaan dia cuma karena kepengen ketemu dia?" Gita lagi-lagi bertanya dengan nada malas, ia sudah tahu jawaban pastinya. Hanya saja, terkadang ia masih ingin mengulik mengapa sahabatnya itu, bisa tergila-gila dengan pembawa acara berita itu.

Gita menatap ke televisi yang sedang menayangkan keadaan politik Indonesia, acara tersebut dipandu oleh Arvi renandra, kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali pada Zevina yang sedang tersenyum sendiri melihat televisi tersebut.

"Tau ga sih Git, dia ganteng bat parah" ujar Zevina dengan tingkahnya yang terlalu antusias, "Mukanya bening banget" ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, gemas sendiri dengan memorinya beberapa jam lalu.

Gita memutar bola matanya jengah, ia kemudian menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa dan memakan camilan yang ada ditangannya.

"Dan, lo harus tau yang paling penting itu apa.." Zevina kemudian memposisikan diri menghadap Gita, ia meletakan mangkok yang berisi serealnya ke atas meja dan menggenggam tangan Gita.

"Aura pintarnya, keliatan banget!" setelahnya, Zevina kembali mengambil mangkoknya dan melanjutkan makannya yang tertunda.

"Mau sampai kapan?" tanya Gita. Tanpa melihat Gita, Zevina menjawab dengan santai "Sampai dia jadi milik gue hehe"

"Sadar diri, lo sama dia kayak babu sama prince. Kayak emas sama tembaga" setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu, Gita bangkit dari duduknya, ia akan ke kamar dan mengerjakan beberapa tugasnya.

Zevina yang ditinggalkan dengan kalimat seperti itu, hanya bisa memberenggut. Ini, bukan kali pertama Gita mengucapkan hal serupa itu. Namun, mau bagaimana lagi? Ia menyukai Arvi. Ia sangat kagum dengan sosok Arvi. Sangat menyayangi Arvi. Dan, bisakah ia disebut mencintai Arvi?

***

Arvi mengusap wajah bangun tidurnya dengan gusar, semenjak kemunculan gadis itu beberapa hari lalu, hidupnya menjadi sedikit kacau,entah mengapa.

Tatapan lembut gadis tersebut, tatakramanya, cara ia tersenyum pada Arvi, benar-benar membuatnya jengkel. Arvi mengusap wajahnya berkali-kali, berusaha mengusir pikiran tentang Zevina. Zevina anggraini, gadis yang sudah dua tahun ini selalu saja memperhatikannya, selalu memberinya dukungan melalui dm media sosial.

Zevina selalu melakukan hal tersebut setiap harinya, bahkan ketika Arvi sendiri tak menanggapi sama sekali, Zevina masih akan tetap mengiriminya pesan.

Jujur saja, Arvi hanya menganggap sikap Zevina sama seperti perempuan lain yang mendekatinya. Hanya fans, begitu pikir Arvi. Namun,empat bulan lalu kepalanya dibuat pusing, jantungnya berdetak tak karuan karena Zevina.

Zevina mengirimnya sebuah surel yang berisi tentang perasaannya pada Arvi, dan itu membuat Arvi jengkel sekali. Jengkel karena dirinya tak mampu untuk mengendalikan diri, padahal surel seperti itu sudah sangat sering ia dapatkan.

Ia bahkan sudah mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa Zevina hanya fans nya. Zevina tidak mungkin benar-benar mencintainya. Zevina hanya terobsesi pada dirinya.

Arvi menghela nafas, ia bangkit dari kasur dan bersiap menuju kantor. Ini hari sabtu, itu berarti gilirannyalah yang berada dikantor. Sedang Bayu, akan pergi berlibur bersama istrinya.

"Istri?" tanya Arvi pada dirinya sendiri dan berdecih sembari menuangkan air kedalam gelas, ia kembali terbayang akan surel dari Zevina. "Bisa apa dia jadi istriku" setelah itu, Arvi berlalu menuju kamar mandi dan membersihkan diri.

***

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
2 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status