Home / All / A to Z / PART 2

Share

PART 2

last update publish date: 2020-11-12 11:28:54

“Kamu?!” ujar Arvi dengan nada kurang suka,ia lumayan terkejut melihat perempuan tersebut berada diruangannya, Arvi meletakan tas laptopnya diatas meja dan menatap tajam gadis yang memakai setelan peach tersebut. Sayangnya, tatapan tajam tersebut tak mempan untuk menakutinya, bahkan gadis tersebut menunjukan senyum lebar.

“Selamat pagi, mas” sapa Zevina dengan ramah, Arvi mengeraskan rahangnya. “Keluar kamu dari ruangan saya!” titah Arvi tegas, Zevina kembali tersenyum dan mengangguk patuh. “Kopinya diaduk dulu mas,” kemudian ia keluar dari ruangan tersebut.

Setelah Zevina keluar dari ruangannya, Arvi mengambil ponselnya dan menelpon Bayu. “Kenapa?” sapa Bayu dari seberang telepon, Arvi menghela nafasnya dan duduk. “Zevina” ucap Arvi, Bayu terdiam heran dengan ucapan Arvi, terlebih dengan helaan nafas Arvi yang terdengar sangat berat. “Kenapa sih Vi?” mendapati pertanyaan seperti itu, Arvi memijat pangkal hidunganya.

Ia sendiri, sebenarnya kurang paham apa yang menjadi masalah jika Zevina bekerja dengannya. Entahlah, ia hanya merasa dirinya sedikit aneh sejak Zevina tak lagi mengganggu dirinya dan dengan tiba-tiba muncul dalam wujud nyata dihadapannya.

“Lo ada masalah apa sama Zevina?”

“Enggak ada, gue cuma kaget aja.. ternyata dia yang lo pilih. Soalnya seingat gue, gue udah bilang kalau gue ngerasa enggak cocok sama dia” Arvi kembali menghela nafas berat, dan menoleh kearah pintu yang akan terbuka.

“Permisi mas, ini ada beberapa design yang baru saya terima dari email. Kata pak Bayu, untuk konfirmasi design saya disuruh langsung ke mas” ucap Zevina dengan sopan. Bayu yang mendengar suara Zevina memilih untuk memutuskan panggilan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Masuk” ucap Arvi, Zevina masuk dengan langkah hati-hati namun tegas. Tampak terpelajar dan berkelas. Arvi mengerjapkan matanya dan menggelengkan kepalanya sekali. Ia menggerutu dalam hati, bisa-bisanya ia mengagumi gadis itu.

Zevina berdiri tegap dihadapan Arvi dengan sebuah map yang ada ditangannya, “Ini mas” kemudian Zevina menyodorkannya pada Arvi. Arvi melirik Zevina sekilas dan mempersilahkan gadis tersebut untuk duduk. Setelahnya, Zevina mulai menjelaskan satu per-satu tentang yang ia unjukan pada Arvi. “Saya paham” ucap Arvi menghentikan ucapan Zevina, Zevina tersenyum tipis melihat ekspresi Arvi. Sedangkan yang ditatap meliriknya jengah, “Kamu, disini dipekerjakan sebagai pengatur keuangan. Bukan asisten saya yang berhak nentuin mana yang harusnya saya pilih”

Zevina mengangkat bahunya dan tersenyum tipis “Kan lagi belajar jadi istri yang baik, hehe” Arvi mendengus, rahangnya mengeras dan menatap tajam Zevina yang justru tersenyum dengan sangat manis. Ia sekarang sangat amat yakin jika dihadapannya ini adalah gadis yang selalu mengganggunya dan berhenti empat bulan lalu.

“Udah berhenti taubat gangguin saya kamu?” tanya Arvi sembari melihat-lihat kembali design. Hanya pengalihan sebenarnya, karena ia tadi sempat melihat Zevina mengulum senyum saat Arvi bertanya seperti itu. Ah, rasanya Arvi ingin menarik perkataannya, ia benar-benar merutukui mulutnya yang asal berbicara pada Zevina.

Tak ada jawaban dari Zevina, membuat Arvi terpaksa menolehkan kepalanya pada Zevina yang kini sedang mencatat sesuatu diketas Hvs yang tersedia diruangan Arvi.

“Ini alasan saya ngasih mas saran untuk pilih design yang nomor 3. Target pasar kita untuk tema kali ini, remaja kan? Remaja sekarang lebih suka sama hal yang bisa dipamerkan, yang medsos-able. Untuk harga, memang agak sedikit mahal dari yang lainnya. Tapi, kuntungan yang bakal kita peroleh bisa lebih banyak dari biasanya” jelas Zevina pada Arvi, Arvi memperhatikan Zevina yang masih asik menulis dan menghitung.

“Sekitar 20-30%” lanjut Zevina kemudian menatap Arvi, sehingga pandangan mereka bertemu. Zevina tak merubah raut wajahnya dan tak berniat mengalihkan pandangannya.

“Lumayan loh mas, buat modal nikah” mendengar hal itu, Arvi segera memutus kontak matanya dan mendengus keras. Ia kembali pada mode profesionalnya dan melihat design yang dipaparkan oleh Zevina.

Setelah menimbang beberapa hal, Arvi berujar “Kamu kirim laporannya ke Bayu dan kasih salinannya sama Dira, sekretaris saya” Zevina bangkit dari duduknya dan mengangguk paham perintah Arvi “Baik mas, saya permisi” ucap Zevina dan berjalan menuju pintu keluar. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan Arvi, Zevina membalikan tubuhnya.

“Mas?” panggilan Zevina tersebut, membuat Arvi yang sedang meneliti design menatap Zevina “Mas Arvi itu, bukan dosa, ngedeketin mas  juga bukan perbuatan maksiat. Jadi, buat apa taubat? Hehe..”

lalu ia keluar dari ruangan dengan perasaan Bahagia. Ia bahkan sampai menjerit tertahan karena tak menyangka akan sangat-sangat dekat dengan lelaki pujaannya. Sementara Zevina berbahagia, Arvi malah menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi yang ia duduki, mengacak rambutnya frustasi, frustasi dengan dirinya sendiri lebih tepatnya.

***


Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • A to Z   PART 2

    “Kamu?!” ujar Arvi dengan nada kurang suka,ia lumayan terkejut melihat perempuan tersebut berada diruangannya, Arvi meletakan tas laptopnya diatas meja dan menatap tajam gadis yang memakai setelan peach tersebut. Sayangnya, tatapan tajam tersebut tak mempan untuk menakutinya, bahkan gadis tersebut menunjukan senyum lebar.“Selamat pagi, mas” sapa Zevina dengan ramah, Arvi mengeraskan rahangnya. “Keluar kamu dari ruangan saya!” titah Arvi tegas, Zevina kembali tersenyum dan mengangguk patuh. “Kopinya diaduk dulu mas,” kemudian ia keluar dari ruangan tersebut.Setelah Zevina keluar dari ruangannya, Arvi mengambil ponselnya dan menelpon Bayu. “Kenapa?” sapa Bayu dari seberang telepon, Arvi menghela nafasnya dan duduk. “Zevina” ucap Arvi, Bayu terdiam heran dengan ucapan Arvi, terlebih dengan helaan nafas Arvi yang terdengar sangat berat. “Kenapa sih Vi?” mendapati pertanyaan seperti itu, Arvi memijat pangkal hidunganya.Ia

  • A to Z   Part 1

    Tatapan tajam dari satu diantara dua pria, sudah diterima Zevina anggarini sedari ia baru memasuki ruangan interview. Yang bisa ia lakukan hanya tersenyum pada sang pria yang masih menatapnya dengan malas dan tajam."Jadi kesibukan kamu sekarang ini, sebagai mahasiswa?" tanya pria dengan kacamata dengan ramah setelah membaca cv dan selebaran lamaran kerja Zevina.Zevina melirik pria satunya sebentar, lalu mengangguk membenarkan. "Iya pak," ujarnya. Pria berkacamata tersebut menatap Zevina, dan tersenyum."Kamu masuk kriteria yang kami cari. Sekarang kamu boleh pulang, tunggu telpon dari kami" ujar si pria berkacamata, pria disebelahnya menatap ke kiri dengan tatapan protes."Okey pak, saya tunggu" ujar Zevina fokus pada pria berkacamata. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan tersenyum tipis pada kedua pria tersebut."Assalamualaikum" salam Zevina dan hilang dibalik pintu. Yang harus ia lak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status