LOGINSejak dua hari lalu Isabel sudah kembali ke rumahnya. Dia juga sudah aktif melanjutkan kuliahnya yang sempat terbengkalai beberapa waktu ini.Setelah aksi bar-barnya kemarin, Isabel seharian tidak keluar dari kamar. Bukan karena dia menyesal atas apa yang dia lakukan pada Chloe, dia hanya sedang malas untuk melakukan apapun. Ditambah, Aiden yang menghilang entah kemana."Eric. Apa yang telah dilakukan pria brengsek itu pada Aiden?"
Seorang gadis dengan hoodie hitam duduk di sebuah coffee shop sambil sesekali menyesap vanilla latte dalam cangkir keramik putih. Dinding yang terbuat dari kaca memudahkannya untuk melihat keadaan di luar coffee shop. Mata birunya tidak lepas dari pintu sebuah cafe yang berada di seberang jalan. Menunggu seseorang yang akan keluar dari sana.Gadis itu yang tak lain adalah Isabel, sudah menunggu selama hampir dua jam disana. Empat cangkir vanilla latte sudah dia habiskan. Dan dia masih memesan satu cangkir lagi tanpa peduli apa yang akan terjadi pada perutnya setelah ini. Masa bodoh!
Mata biru Isabel dan mata kelabu Eric beradu, saling menatap dengan tajam. Seolah mereka sama-sama mengacungkan pedang dan siap untuk bertarung.Meskipun sempat terkejut dengan kata-kata Eric yang menyebutkan bahwa cafe ini adalah miliknya, keberanian Isabel sama sekali tidak surut. Tidak sedikit pun Isabel mencabut pandangannya dari mata Eric.
Alice memiringkan tubuhnya, memerhatikan Isabel yang tertidur pulas di ranjangnya. Wajah Isabel tampak sangat pucat. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Perlahan tangan Alice bergerak membelai wajah Isabel. Rasanya Alice ikut merasakan sakit yang dirasakan sahabatnya itu."Kau pasti bisa melewati semua ini. Aku akan selalu ada untukmu, Bells," gumam Alice.Gadis itu membalik tubuh hingga posisi tubuhnya telentang. Dia melirik jam digital yang ada diatas nakas. Jam 3 dini hari.
Sepanjang perjalanan Isabel tidak berhenti menangis. Alice tidak tahu harus bagaimana lagi menenangkan Isabel. Yang dia lakukan hanya mengemudi dalam diam dan membiarkan Isabel mengeluarkan kesedihannya. Walau bagaimanapun, Alice pernah merasakan berada dititik terbawah dalam hidupnya. Dan yang dia butuhkan hanyalah waktu untuk sendiri. Mungkin masalah Isabel kali ini cukup berat, jadi dia hanya bersikap layaknya seorang sahabat yang pengertian.Sesekali Alice menoleh pada Isabel. Memastikan sahabatnya itu masih berada di dunia yang sama dengan dirinya.
Isabel memejamkan mata, berusaha meredam rasa sakit dan kecewa yang mendera hatinya. Hancur. Ya, satu kata itu yang bisa mendeskripsikan kondisi hatinya saat ini. Melihat foto Aiden dan Chloe di undangan itu sungguh menusuk dalam hati Isabel. Harusnya yang ada di foto itu Aiden dan Isabel. Tapi kenapa harus Chloe?"Isabel, aku minta maaf." Aiden meraih tangan Isabel. Kedua mata laki-laki itu pun tampak merah dan basah. Dia terlihat sama hancurnya dengan Isabel."Kenapa? Kenapa, Aiden?" Suara I