Mag-log inPencarian! Mutiara yang dicuri dari Raja Aaron. Hilang di sekitar tebing utara Desa Voro. Kemungkinan dicuri makhluk misterius! Hadiah: Sepuluh ribu koin perak, diangkat menjadi pengawas di istana dan 3 hektar tanah. Datanglah di jamuan makan malam jika menemukannya! Waktu tidak terbatas! ----- Lazura yang gila uang langsung mengikuti sayembara. Dari sanalah dia kehilangan ibu kandungnya dan bertemu seseorang yang menakutkan.
view moreIbu ...Ah julukan itu tersemat padanya lebih lama yang dia kira. Sejak Lazura lahir dan memberikan kejaiban luar biasa dalam hidupnya. Meskipun jarak memisahkan mereka, dia masih bisa mendengar suara putrinya memanggil di antara malam yang menakutkan.Bisa ditebak, putrinya mungkin tertidur dengan igauan yang tidak jelas. Atau mungkin juga dalam mimpi itu Lazura tengah melihat kejadian-kejadian janggal. Sering kali dia temukan putrinya mengadu tentang mimpi ketika kecil. Abai. Kemudian kebiasaan itu menghilang sendirinya. Syrena menghela napas panjang."Apakah keputusanku mengusirnya salah?" tanyanya pada diri sendiri. Kemudian rasa bersalah itu hinggap tiba-tiba. Mencoba abai, wanita itu melanjutkan acara meracik sesuatu."Dia memang tidak pantas berada di sini," gumamnya lagi dengan nada datar.Di lain waktu, gadis elf yang terbangun tiba-tiba karena mimpi buruk menghampiri. Dia menyandarkan punggung pada sebatang pohon. Napasn
"Wahhh! Ada monster laut."Haze dan Zoe langsung menuju tempat Lazura berdiri. Gadis bermata safir itu tampak berjingkat-jingkat karena menemukan hewan besar berkepala tiga. Mempunyai tangan seperti gurita berjumlah sepuluh. Warnya kecoklatan seperti terbakar matahari. Ada api yang menyembur setiap kali makhluk itu berbicara. Dan, tempat skeitarnya akan terbakar dalam sekejap mata. Meninggalkan asap yang membumbung tinggi."Itu Hydra bodoh," celetuk Haze gemas. Disentilnya kening Lazura tanpa menyadari risiko setelahnya.Lazura tentu saja teringgung. "Aku tidak bodoh. Kamu saja yang tidak tahu mana orang cerdas mana orang pengecut," ujarnya menyindir secara blak-blakan.Haze mengusap wajahnya. Apakah dia bisa terus sabar sampai menemukan Laut Arve? Jawabannya tidak. Dia bisa mati muda. Tanpa pernah berkencan atau menikmati menjadi raja dulu."Hydra! Hydra! Hydra!" Lazura menjadi elf paling heboh di sini. Semua makhluk tak kasat mata maupun ya
Lazura memilih memutari hutan. Haze entah ke mana. Sedangkan, Zoe setia bermeditasi untuk mengembalikan energinya.Gadis itu mengepang surai peraknya. Mengikat ujungnya dengan serat daun yang ditemukannya di jalan. Jubahnya basah oleh embun. Tetapi, Lazura setia mengenakannya karena hanya satu-satunya yang tersisa."Aku. Kenapa dulu aku tidak pernah main ke sini?" tanyanya kesal pada diri sendiri. Ternyata, dia kurang jauh mainnya. Tidak tahu kalau perbatasan bagian selatan begitu indah. Indah yang dimaksud adalah tebingnya berwarna putih. Ketika matahari tersenyum samar, tebing setinggi gunung itu berkilau. Seolah-olah ada kristal saja."Kristal," gumamnya menyadari pikirannya sendiri. Mungkinkah ada kristal di sana? Yah, harganya memang tidak setinggi mutiara yang mencarinya harus di laut, tetapi kalau jumlahnya banyak pasti cukup untuk hidup jangka panjang.Lazura segera ke sana. Tergiur dengan uang semu yang menari-nari di otaknya.
Mereka memilih berjalan karena tenaga terkuras habis. Haze sedikit ragu karena mereka berjalan hampir memutari. Bahkan ia yakin mereka masih belum sampai di perbatasan. Meski pondok penduduk sudah jarang terlihat, tetapi jalanan setapak yang becek-tentu saja bekas dilalui- membuatnya yakin kalau mereka belum berjalan jauh. Hampir seharian setelah mengisi perbekalan, hingga menjelang petang. Tidak ada yang menarik mata Haze untuk bertanya-tanya."Apakah masih ada air?" tanya Zoe dari belakang. Wajahnya pucat sekali. Jelas sekali dia kewalahan berjalan hampir 30 kilometer.Hari sudah petang. Binatang-binatang bahkan bersuara lebih keras. Seolah saling berlomba memamerkan kebolehannya.Lazura ternyata berhenti. Haze melirik mereka berdua dari jarak seratus meter."Ah, sepertinya airnya habis," ujar Lazura seraya mengintip batang bambu yang dijadikan tempat air. Ketua dia memposisikan bagain atas terarah ke magnet bumi, tidak ada air yang keluar.&