MasukMungkin ini hanya kisah klasik, sebagai seorang istri Vanya tahu jika kebahagiaan bukan hanya sekedar harta, kehangatan dalam rumah tangga sangat ia butuhkan saat ini. Vanya sangat mencintai suaminya namun perasaan itu lambat laun luntur dengan keadaan. Keharmonisan itu lenyap Keharmonisan itu tiada Keharmonisan itu pergi tanpa ada yang menghalangi. Sudah berulang kali Vanya mencoba bertahan dalam bahtera rumah tangga yang mereka rajut selama lima tahun, menikah dengan seorang pengusaha kaya tak selalu indah dalam pandangan. Vanya merasa selalu kesepian, dunianya seakan-akan monoton. Jika kalian pikir menjadi istri seorang Billionaire itu menyenangkan? berbeda dalam kisahnya, Vanya tak merasakan kata bahagia. Semuanya hanya tergantung dengan uang dan uang sampai akhirnya ia jengah dengan keadaan. "Aku ingin kita bercerai Brian." Vanya meremas keras jemari lentiknya ketika ucapan itu terlontar dari mulutnya. Brian terdiam sejenak, melepaskan semua aktifitas kerjanya. "Baiklah, jika itu maumu." Dan kisah baru untuk Vanya di mulai ketika ia memilih untuk mendapatkan Surrogate Husband sebelum ia resmi bercerai dengan Brian Luxio.
Lihat lebih banyakPertanyaan berulang sudah Vanya lontarkan, tapi pria itu hanya celingak celinguk entah ke mana arah tujuan manik miliknya. Kadang menggaruk tengkuknya dengan kikuk, sebenarnya ada apa? satu pertanyaan muncul dari otaknya, Vanya sudah duduk tiga puluh menit dan pria itu tak kunjung memberitahukan di mana keberadaan Elard.Vanya berniat membuka pintu mobil, sebelum akhirnya urung oleh cegatan Alva. "aku akan mengantarmu.""Ke mana? apa dia tak ada di kantor?" Ayolah, Vanya sudah semakin penasaran untuk segera mencari tahu jika bayi ini akan di terima atau tidak, jika buruk kemungkinan yang Vanya dapatkan dalam koper yang ia bawa terselip satu tiket pesawat untuknya melarikan diri.Keputusan yang sulit, tapi mau bagaimana lagi satu wilayah dengan rasa sakit hatipun bukan perihal baik. Vanya ingin melupakan semuanya, cinta beserta kecerobohannya."Elard ada di tempat lain."
Maaf jika banyak typo ✌✌....Vanya kehilangan kesabaran, entah berapa malam lagi ia harus bertahan bahkan makanan yang sudah ia tata rapih lima jam yang lalu sudah tak menyelerakan. Brian kembali dengan ulahnya, pulang larut malam dengan keadaan mabuk dan aroma yang asing untuk Vanya.Wanita itu akhirnya menyerah, harus sampai kapan ia menunggu? bahkan ponselnya sama sekali tak berdering, pesan yang ia kirimpun di abaikan. "selalu seperti ini."Vanya bernostalgia sejenak, mengingat masa-masa tahun pertama mereka menikah. Vanya mengenal Brian dengan keberaniannya di saat ia masih berduka, waktu itu Brian serius ingin menikahinya. Katanya ia pengagum berat seorang Vanya sejak masuk universitas.
Maaf jika banyak typo :).....Warning 21++Ruangan temaram itu kembali menjadi saksi, saksi yang membisu. Elard tahu semua ini salah! tanpa sadar pria itu membalas pagutan yang sedari tadi menunggu balasan, tak perlu menunggu waktu terlalu lama sampai ia harus bergairah bahkan saat ini entah sejak kapan kemeja miliknya beralih tempat.Elard melepas kilatan nikmat itu dengan pembalasan yang tak kalah bergairah, ia tahu bahwa mereka adalah seseorang yang dewasa. "kau ingin kita kembali melakukannya?" bisik Elard di sela-sela cecapannya terurai meninggalkan kembali tanda kepemilikannya di sana. Bahkan Vanya tak keberatan jika pria i
Maaf jika banyak typo bertebaran di part ini ???.....Elard mengeluarkan sehelai kain berwarna merah lalu melangkah pelan ke arah Vanya, sesampainya pria itu mengitari tubuh Vanya dan berhenti di belakang tubuhnya.Vanya menelan salivanya susah payah, aroma musk berhasil membuat degup jantungnya berpacu dua kali lipat dari biasanya. Agak kurang nyaman situasi saat ini di mana hanya ada mereka berdua tanpa orang lain, Vanya hanya berpikir ia takut jika ada seseorang yang mengenalnya.Elard melingkarkan kain merah itu untuk menutupi kedua mata Vanya, "untuk apa ini?""Aku memiliki sesuatu untukmu, sebagai petunjuk awal genggamlah tanganku." Elard meraih telapak tangannya, menariknya perlahan dan berakhir dengan mereka saling menggenggam.