LOGINWarning Area 21+ harap bijak dalam membaca. Fransiska Damayanti (33 tahun) bersama Arya Praptama (35 tahun) adalah sepasang suami istri dari kalangan orang kaya, namun 10 tahun pernikahan mereka belum dikaruniai anak. Hingga akhirnya demi mendapatkan seorang anak Siska rela menikahkan suaminya dengan gadis desa berusia 17 tahun bernama Dinda, gadis pilihan yang ia kenal sejak satu tahun belakangan ini. Pernikahanpun dilangsungkan secara diam-diam tanpa ada yang mengetahuinya, namun dalam perjalanan pernikahan kontrak suaminya bersama Dinda, tiba-tiba suaminya jatuh hati kepada gadis itu karena keluguannya, Akankah Arya bisa berbuat adil?
View MoreSampai dikamar Arya menghempaskan tubuhnya diatas kasur, perlahan ia menarik napasnya lalu menghembuskannya perlahan,"Dasar semua wanita selalu saja membuatku pusing, pertama Siska, kedua Dinda, katiga mama, dan sekarang siapa lagi? Arrrggggghhhh" teriak Arya sambil memukul kasurnya.Namun saat tangan Arya berada diatas kasur tiba-tiba ia merasa memegang susuatu yang menurutnya aneh, Arya langsung mengambil benda itu kemudian melihatnya. Seketika Arya langsung tersenyum saat melihat benda itu yang ternyata celana dalam milik Dinda yang tertinggal tadi."Dasar gadis konyol, kau selalu saja menggoda diriku, Dinda, hhhh" gumam Arya tersenyum sambil melihat celana dalam milik Dinda.---------Sore hari Dinda menunggu Arya diruang dapur dengan perasaan gelisah, karena Arya belum turun juga dari atas,"Kenapa Tuan belum turun juga yah? padahal ini sudah sore, Tuan kan sudah janji m
"Wah.. Terima kasih Tuan, aku sayang Tuan"Tanpa sadar kata sayang terucap dari mulut Dinda, sambil tersenyum memeluk tengkuk leher Arya, sehingga membuat tatapan mereka saling bertemu."Beneran kamu sayang aku Dinda?""Iya aku sayang Tuan""Hmm, Kamu sayang aku karena apa?" tanya Arya penasaran."Aku sayang Tuan, karena aku sudah menganggap Tuan seperti bapakku sendiri"Mendengar ucapan Dinda yang polos membuat Arya sedikit tersenyum karena ia tahu bahwa Dinda belum mengerti apa itu yang dinamakan cinta.Arya mulai mendekati wajah Dinda, sementara Dinda hanya mengerjapkan matanya menatap wajah Arya yang semakin MendekatinyaTriing Triiing triing (suara ponsel Arya)Seketika wajah Arya langsung terhenti, Arya dan Dinda bersama-sama melirik kearah ponsel yang berbunyi."Siapa lagi sih ini?" gusar Arya sambil menggapa
***Pagi hari Arya sudah bersiap dengan seragam kantornya, perlahan ia duduk dikursi makan sambil mengoleskan selai diroti nya, sementara Dinda datang membawakan secangkir teh hangat untuk Arya, Arya menatap wajah Dinda begitu muram tak ada senyuman dan keceriaan.Setelah Dinda meletakkan teh hangat diatas meja, Dinda berniat kembali ke dapur, namun saat Dinda akan berbalik tiba-tiba Arya menahan tangan Dinda. seketika Dinda langkah Dinda terhenti."Dinda, duduklah disini, temani aku sarapan yah?"Dinda hanya menganggukkan kepalanya sambil duduk disamping Arya, saat duduk Dinda hanya diam membisu tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Dinda, hingga membuat Arya serba salah."Hmm, Dinda apa kamu mau titip sesuatu saat aku pulang kantor?""Tidak ada Tuan" sahut Dinda."Mungkin kamu mau makan sesuatu Dinda? makanan kesukaanmu, nanti aku belikan!"
Hari ini Arya pulang agak larut dari biasanya karena pekerjaan yang sangat menumpuk, belum lagi klien yang harus ia tangani membuatnya tampak letih."Bi Dinda mana?" tanya Arya saat masuk ke dalam rumah."Dinda ada dikamarnya Tuan" jawab Bi ijah."Ooo, apa dia sudah makan malam?""Sudah Tuan""Hmmm baguslah kalau begitu"Arya pun berlalu pergi meninggalkan Bi Ijah menuju tangga. Setelah sampai dikamarnya ,Arya bergegas mengambil handuknya untuk mandi, setelah selesai mandi Arya menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, melepas segala kepenatan yang ada dipikirannya, namun disaat ia memejamkan matanya, tiba tiba Arya terbayang wajah Dinda, seketika Arya membuka matanya lalu mengingat semua kejadian yang pernah ia alami bersama Dinda. Entah kenapa jantungnya berdebar-debar saat mengingat wajah Dinda, ada perasaan aneh yang merasuki hatinya namun ia tidak mengerti perasaan apa itu. Perlah