LOGINSean dan Anjani terikat status tali pernikahan lewat perjodohan. Mereka yang asing disatukan hanya dalam satu kali pertemuan. Tidak saling mengenal apalagi mencintai. "Ini apa?" tanya Anjani setelah disodorkan selembar kertas oleh Sean. "Surat perjanjian. Kamu gak berpikir kalo kita nikah sungguhan kan?" Kening Anjani mengernyit tak paham, "Maksudnya?" "Saya sudah punya pacar. Dan saya tidak mencintai kamu. Pernikahan ini hanya sementara. Jadi silahkan tanda tangani surat perjanjian ini." Ternyata kisah mereka berdua tak semulus yang orangtuanya bayangkan. Pernikahan kontrak Sean cetuskan karena alasan Anjani bukanlah wanita yang ia cintai. Tapi apa mungkin akhir dari kisah mereka hanyalah perpisahan? Sebab Anjani jatuh cinta pada Sean, dan mencoba membuat pria itu jatuh cinta padanya.
View MoreSean tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri sedari tadi, ia seperti orang yang baru saja kehilangan akalnya, berdiri canggung di depan Anjani yang baru saja memaki dan menamparnya. Sean sudah melakukan kesalahan besar hingga membuat istri kecilnya itu marah dan sakit hati. "Om benar - benar mengira aku semurah itu?" Sean terdiam, ia menundukkan pandangannya tidak tega melihat wajah Anjani yang terlihat terluka. Gadis yang selalu ceria itu mengeluarkan air matanya karena perbuatan Sean yang melukai batinnya. Tapi, mulut Sean seolah sulit untuk mengucapkan kata maaf. Meski maaf saja tidak cukup untuk Anjani. Anjani mengepalkan tangannya, menatap Sean murka dengan dada yang menggebu - gebu, beberapa orang yang dekat dengan Anjani mengatakan bahwa cewek itu pintar mengontrol emosi, tapi tindakan Sean tadi tidak bisa di toleransi. Tanpa segan Anjani layangkan tamparan nya. Apa Anjani puas hanya dengan satu tamparan saja? Tidak. Tangannya masih
CEKLEKSean membuka pintu kamar Anjani, tungkainya langsung berlari cepat menuju ranjang sang istri. Sontak kedua mata Sean langsung melebar ketika melihat Langit tengah tertidur dengan nyenyak di sana. Dengan sekali hentakan Sean tarik selimut itu hingga Langit terjungkal di lantai. Langit yang kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya itu meringis, mengusap - usap bokongnya yang di landa rasa perih karena baru saja berciuman dengan lantai. "Ngapain kamu di sini?" Suara tegas Sean terdengar, emosi Sean sudah mengepul di ubun - ubun saat mengetahui kalau Langit hanya mengenakan bokser saja. Dengan tatapan mata Sean yang menyalang menghunus tajam pada Langit yang sedang meringis kesakitan di lantai, menandakan bahwa Sean sedang murka. Mendengar suara bariton milik Sean, kedua mata Langit praktis terbuka lebar. Dia langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kemudian bangkit berdir
Anjani masuk kedalam apartemen nya di ikuti Langit yang membututinya di belakang. Pakaian keduanya basah kuyup karena Langit menuruti keinginan Anjani untuk menerobos hujan, alhasil, pakaian mereka kebasahan. Kedua bola mata Anjani menatap keseluruhan penjuru ruang apartement nya, sepi, sepertinya Sean belum pulang. Ah iya, Anjani lupa, kalau sama Yuna kan Suaminya itu suka lupa waktu. "Kamu duduk dulu, Lang, aku ambilkan baju om ku ya sebentar." titah Anjani sembari beranjak masuk kedalam kamar Sean. Tatapan Langit membuntuti kepergian Anjani hingga tubuh mungil cewek itu hilang karena tertelan pintu, Langit beranjak menuju sofa di ruang tengah. Baru saja Langit ingin mendaratkan pantatnya di sofa empuk itu, tapi ia langsung teringat kalau pakaian dan celana nya basah, kalau ia duduk maka sofa nya akan ikut basah juga, jadi Langit memilih menunggu Anjani kembali sambil berdiri saja. Sementara di ka
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sean sudah bersiap untuk mengakhiri pekerjaan nya hari ini. Dengan langkah lebarnya Sean berjalan menuju keluar dari gedung kantornya, sesekali ia tersenyum kecil ketika ada karyawan yang menyapa.Hari ini Sean lumayan bersemangat untuk menjemput istri kecilnya ke sekolah, awalnya Sean memang terpaksa menjemput Anjani karena sang Ayah, tapi sekarang Sean sudah terbiasa malah dengan senang hati Sean menjemput Anjani. Tiba di dalam mobil Sean langsung memakai seatbelt nya. DrttttPonsel Sean bergetar, sebuah panggilan masuk menginstruksikan pergerakan. Dengan cekatan tangan Sean meraih ponselnya ketika matanya melihat nama pacar kesayangan tertera di sana. "Hallo sayang," Sean mengangkat panggilan dengan manisnya. "Kamu dimana, sayang?" Suara merdu milik Yuna bertanya. "Aku baru mau pulang dari kantor, ada apa?" "Hm, aku udah di bandara, kamu bisa jemput aku?" Mata Sean mele