LOGINCaroline dan Garvin terjebak di waktu dan tempat yang ada pada masa lalu. Mereka berada di Oswald Kingdom, sebelum kerajaan itu mengalami keruntuhan. Situasi itu Caroline manfaatkan untuk bertemu seseorang di masa lalu, Chaiden. Namun, tak seorang pun tahu keberadaan Chaiden. Walaupun begitu, mereka tetap menjalankan misi yang luar biasa penting untuk kehidupan Caroline. Yaitu, misi pelepasan kutukan yang menjerat Caroline akibat perbuatannya di masa lalu. Kutukan hidup abadi.
View More~¤ETERNITY¤~____________________________“Kak Lin, maaf merepotkanmu, ya.” Agatha mengambil alih tempat duduk di hadapan Caroline, ia duduk dengan satu kaki yang terangkat ke atas kursi, meskipun meja makan menjadi penghalang, tetapi Caroline dapat melihat dengan jelas paha Agatha yang terekspos, karena gadis remaja itu hanya mengenakan hotspants. Sedangkan untuk bagian atas Agatha mengenakan kaus putih tipis yang menampakkan lekuk tubuhnya, terutama sesuatu yang dibalut bra berwarna hitam. Pemandangan itu sukses membuat Caroline memicingkan mata. Bukan, bukan karena ia seorang penyuka sesama jenis. Caroline enggan mengakui sebenarnya, tetapi kenyataannya Caroline tidak suka saat Garvin yang duduk di sebelahnya bisa menikmati pemandangan itu.“Ibu sangat berlebihan, padahal aku tak apa jika harus sendirian,” lanjut Agatha.Caroline menampilkan senyum dengan sedikit
~¤ETERNITY¤~____________________________Matahari telah benar-benar kembali ke peraduannya, tetapi Caroline dan Garvin belum juga sampai di kediaman masing-masing. Mereka tengah berjalan menyusuri perumahan The Huf Oswald. Tentu saja tujuan mereka adalah rumah masing-masing. Embusan malam dan suara jangkrik yang bersahut-sahutan sedikit memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. Cukup lama suasana seperti itu, hingga akhirnya Garvin berujar, "Kau mencium sesuatu?"
Seketika Garvin mematung saat pandangannya bertemu dengan pandangan Caroline. Kala itu, Garvin tengah berjongkok dengan tangan yang memegangi dedaunan. Ia bak pembunuh yang tertangkap basah sekarang. Lantas, Garvin beranjak menegakkan tubuhnya. Sinar senja yang menelusup masuk di antara celah-celah pohon yang rindang, menimbulkan siluet Garvin yang terpampang jelas di depan sosok aslinya. Caroline pun mengalihkan pandangannya dari sosok Garvin ke arah siluet cowok itu. Mendadak ia teringat masa lalu.★Flashback★“Bahkan siluet tubuhmu tampak menyebalkan,” ejek Caroline sembari memperhatikan siluet Chaiden yang sedang berdiri di sebelahnya.“Ucapan tampan yang bagus, Nona,” balas Chaiden tersenyum mengejek, ia mengetahui maksud di balik ucapan Caroline yang mengatakan bahwa Chaiden menyebalkan. Caroline, gadis itu memang terlalu angkuh, bahkan untuk sekadar mengatakan tampan pada Chaiden saja ia enggan.
"Soal buku itu aku bisa memberitahumu cara membacanya."Caroline menghentikan langkahnya, lalu menatap Frank dengan kedua alisnya yang bertaut. Lagi-lagi Frank berkata soal buku itu, dan untuk kesekian kalinya pula Caroline bertanya-tanya apa yang harus dibaca dari buku itu?“Bagaimana?” Frank menampilkan senyum meremehkannya kali ini, ia bak telah mengetahui reaksi Caroline yang akan menyetujui tawarannya.Caroline pun merasa tak ada salahnya ia menyetujui tawaran Frank, ia akan mengikuti alur yang dibuat Frank terlebih dahulu. “Baiklah,” balas Caroline pada akhirnya.“Yes!” girang Frank, ia menunjukkan rasa senangnya secara terang-terangan di depan Caroline. Cukup lama Caroline hanya memperhatikan raut wajah Frank, hingga tak sengaja ia bertemu tatap dengan Garvin. Cowok itu tengan berdiri di perempatan lorong, ia seperti tengah menguntit Caroline. Akan tetapi, saat pandangan mereka bertemu





