LOGINAmara masih tidak yakin bahwa ia akan bekerja di salah satu perusahaan bonafid. Saat tes wawancara dengan kepala HRD langsung, ia menciutkan nyalinya. Apa yang semua Pak Abra katakan benar, ia hanya lulusan SMA dan jarang sekali ada yang ingin menerima. Namun sekarang bunga tidur yang sering Amara bayangkan menjadi kenyataan. Bak durian runtuh ia mendapat ini semua dari Engkoh Lim yang sudah terlalu baik.
Setidaknya jika finansial Amara tercukupi salah satu
"Kenapa lancang sekali memotong pembicaraan saya?" Pria itu menghardik keras. "Sekalinya orang miskin tetaplah miskin, mereka tidak ada tempat di dunia ini. Apalagi berhubungan langsung pada kita, jangan pernah! Jadi jangan buang-buang waktu berharga kita untuk meladeni mereka. Baju dan sepatumu bisa Papa belikan lagi nanti, tapi untuk acara kita tidak bisa ditunda."Amara semakin tak mengerti kenapa orang-orang kaya banyak yang terlalu merendahkan manusia lainnya. Bukankah semua terlihat sama saja di mata Tuhan? Apa yang membuat mereka berbeda?Amara semakin memeluk erat Cakra saat merasakan pelukan Cakra yang juga semakin mengerat. Ia tahu adiknya takut."Maaf, Pak ... Bu jika perbuatan adik saya sudah melukai perasaan Bapak dan Ibu." Amara menekankan setiap kata-katanya sambil menatap dalam pria baya itu di depannya. Tak ada rasa rindu yang terpancar, yang ada hanya rasa kesal dan merendahkan."Sudahlah, jika saya minta ga