LOGINMasih teringat pesan yang Guntur kirimkan siang tadi. Bagaimana jika Guntur bertemu ayah, bisakah kakaknya membuat ayahnya kembali lagi bersama? Sudah cukup lama ia menahan rindu. Besar tanpa didikan dan kasih sayang seorang ayah membuat hidup Amara jomplang sebelah. Ia lupa bagaimana dipeluk digendong bahkan main hujan bersama orang tuanya.
“Ayah, kenapa setiap kita mandi hujan Ibu selalu marah sih?” Amara mengelap mukanya yang terkena guyuran air hujan. Ayahnya beserta Kak Guntu
"Kenapa lancang sekali memotong pembicaraan saya?" Pria itu menghardik keras. "Sekalinya orang miskin tetaplah miskin, mereka tidak ada tempat di dunia ini. Apalagi berhubungan langsung pada kita, jangan pernah! Jadi jangan buang-buang waktu berharga kita untuk meladeni mereka. Baju dan sepatumu bisa Papa belikan lagi nanti, tapi untuk acara kita tidak bisa ditunda."Amara semakin tak mengerti kenapa orang-orang kaya banyak yang terlalu merendahkan manusia lainnya. Bukankah semua terlihat sama saja di mata Tuhan? Apa yang membuat mereka berbeda?Amara semakin memeluk erat Cakra saat merasakan pelukan Cakra yang juga semakin mengerat. Ia tahu adiknya takut."Maaf, Pak ... Bu jika perbuatan adik saya sudah melukai perasaan Bapak dan Ibu." Amara menekankan setiap kata-katanya sambil menatap dalam pria baya itu di depannya. Tak ada rasa rindu yang terpancar, yang ada hanya rasa kesal dan merendahkan."Sudahlah, jika saya minta ga