LOGINBerawal dari salah direct message Instagram, Haura Anwar menjadi mengenal Park Hyun Jae, seorang Presdir muda dari salah satu brand kosmetik dan softdrink di Korsel. Dan saat awal musim semi, Haura Anwar yang berasal dari Cilacap berlibur ke Seoul dengan menginap di rumah pamannya, menjadikannya dapat bertemu secara langsung dengan Park Hyun Jae. Park Hyun Jae, ia adalah seorang agnostik yang menilai segala sesuatu berkenaan dengan Tuhan tak mungkin bisa dipahami, maka tak perlu dipikirkan. Namun, perlahan, setelah lebih mengenal Haura Anwar, ia menjadi berpikir ulang, jika sungguhkah demikian yang harus dipahamkan?
View More"Senyumlah kau, Hyun Jae-ya!" cicit Jiyeon seraya menepuk sebelah pipi Hyun Jae. Mencoba membuat Hyun Jae mengulas senyum untuk berfoto selca dengannya. Pasalnya, Hyun Jae masih saja bersungut marah kepadanya karena hal sepele. Berfoto selca dengan latar Moonlight Rainbow Fountain yang penuh dengan warna-warni air mancur yang cerah ceria."Ya!" decak Jiyeon setelah beberapa kali potret dan hasilnya tidak ada satu pun foto Hyun Jae dengan bibir tersenyum."Kau akan mudah cepat terlihat tua jika pelit untuk tersenyum, Hyun Jae-ya!" Jiyeon mencicit dengan memukul sebelah pundak Hyun Jae."Katakan padaku, ada apa denganmu akhir-akhir ini, hmm?" Hyun Jae menangkap sebelah tangan Jiyeon yang mencoba memukul sebelah pundaknya lagi. Menatap penuh selidik sepasang mata jernih Jiyeon dalam malam yang estetik sebab pencahayaan warna-warni pertunjukan Rainbow Fountain yang belum kunjung usai."Kenapa, hmm? Jangan di
Kelam malam, gemuruh guntur bertalu mengiring rintik hujan yang menghujam sebagian belahan bumi, sesekali desau angin ikut berpadu. Suasana yang sesungguhnya nyaman untuk berbaring di kamar menarik selimut hingga ke leher, namun tidak demikian dengan anak-anak di sebuah panti asuhan kecil di daerah Seongeup Folk Village, Jeju Island.Dari balik jendela kaca dengan tirai terbuka, suasana menegangkan tengah terjadi di baliknya."Siapa yang merobekkan syal rajut kesayangan Ahjumma?!" Bong Hee, ibu panti asuhan yang sudah berumur 50 tahun dengan rambut kepalanya yang dicepol, mendadak datang ke meja makan, memamerkan syal rajut warna cokelat yang robek di ujung tengahnya, menatap tajam satu persatu anak asuhnya untuk menyelidik.Anak-anak yang berjumlah 13 orang di meja makan menunduk ketakutan, kecuali Jiyeon dan Hyun Jae. Mereka tetap menegakkan kepalanya. Hyun Jae bahkan mendengkus kasar akan kemasygulannya.
Hyun Jae mengejap dari tidurnya. Peluhnya membasahi area kening dan lehernya, bahkan hingga membasahi kurung bantal latex-nya.Hyun Jae beringsut duduk. Mengibaskan bed cover katun yang membalutnya. Menyeka peluhnya sekilas dengan punggung tangannya. Menghembuskan napas panjang akan mimpi lama yang hadir kembali. Tentang Jiyeon yang menanyakannya penuh selidik perihal apakah hatinya merasa kosong?Sesaat kemudian ponsel Hyun Jae berdering. Panggilan masuk di dini hari. Membuatnya mendesah mendapati siapa gerangan penelepon kurang kerjaan dan tidak tahu sopan santun ini.Hyun Jae meraba nakasnya meraih ponsel. Mengamati nama kontak di ponselnya. Ye Jun. Mendadak ia langsung teralih fokus mengangkatnya penuh selidik."Yoboseyo.""Apa kau menemukan sesuatu?""Hmm, aku menemukan tanaman beracun di taman bunga atas rumah Mi Cha."Dahi Hyun Jae berkerut.
"Sebelumnya aku meyakini Tuhan sepertimu, namun sekarang tidak demikian, Haura-ya.""Wae?""Karena memang Tuhan itu tidak ada. " Hyun Jae tersenyum masam sesaat. "Bahkan aku sebelumnya adalah umat beragama yang sangat taat, berpindah menjadi agnostik, lalu menjadi atheis. Hmm, begitulah."Haura tetap bergeming di tempatnya. Tepatnya di kursi santai gazebo taman belakang rumah Paman Zubair. Menatap Hyun Jae dari balik layar ponselnya dengan pikiran yang mengembara ke lain arah.Pagi yang sungguh menyenangkan di musim semi. Mentari mulai terasa menghangat di udara lembap. Pucuk-pucuk dedaunan mulai kering dari gelayutan embun. Bunga asoka dan kenikir dengan varian warna bermekar segar. Beringin yang dibentuk topiari meneduhkan. Seharusnya demikian itu menyejukkan dan sangat menyenangkan dipandang, namun Haura sekarang justru merasa gerah menikmatinya saat sepasang matanya mengedar sesaat untuk mengalihkan kecang