LOGINHidup sebagai tulang punggung keluarga membuat Nada Aflah harus bekerja keras untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan adiknya-Alif. Sebagai anak pertama dari sebuah keluarga sederhana gadis itu paham akan kondisi ini. Bekerja di sebuah perusahaan ternama dengan posisi kedudukan sebagai karyawan tetap membuat Nada mensyukuri hal itu, walau kadang ada saja yang membuatnya goyah ingin berhenti bekerja di sana. Perlakuan Sang Ceo yang menyebalkan adalah masalah terbesar dalam hidupnya. Berbagai macam hal harus ia lakukan untuk Sang Ceo agar tetap bisa bekerja di perusahaan ternama itu. Meski berwajah bak pangeran akan tetapi sikapnya yang menyerupai iblis mampu membuat siapapun menundukkan kepala saat berhadapan dengannya. Pria mapan tanpa kekurangan, wajah tampan, harta berlimpah, dan juga aset di mana-mana. Tidak ada satupun kekurangan darinya, hanya saja menurut Nada dia hanya kekurangan akhlak. Dapatkah ia bertahan dari Sang Ceo? Atau mungkin ia menyerah? Mari baca kelanjutannya dalam kisah cerita Gadis Pilihan Ceo
View More"Nada!""Iya, Ma? ""Temen kamu datang, ayo keluar dulu. Katanya udah sehat." Perintah Mama dari luar kamar. Tanpa perlu banyak tanya lagi, aku beringsut dari kasur dan buru-buru memakai jaket untuk menutup baju dalam yang ketat.Pintu terbuka, sosok Mama sudah tidak ada. Mungkin sudah turun untuk membuat minuman untuk mereka.Aku mengintip dari atas melihat ke arah ruang tamu. Dua punggung yang membelakangi itu sangat familiar. Arumi dan Daniel mereka datang. Aku bberhati-hati menuruni anak tangga, mengeratkan pada peyangga, agar tak jatuh.Kedatanganku disambut senang oleh keduanya. Mereka langsung berdiri sesaat setelah melihatku.Arumi menuntunku duduk di sofa ruang tamu. Matanya menerawang pada wajahku, menyentuh daguku lalu memiringkan - nya ke kanan lalu ke kiri, setelahnya dia berucap gelisah,"Enggak ada yang lecet kan?"Pertany
"Ayo." Singkat ucapan yang keluar dari bibirnya. Pak Malik duduk di sebelahku agar lebih mudah membantuku berdiri.Tangan kekar miliknya berada di bawah ketiak-ku, membantuku berdiri dengan sekuat tenaga."Badan aja yang kecil, tapi berat," sindirnya tepat di telingaku. Berat katanya? Padahal sebulan yang lalu timbangan berat badanku hanya sampai 55 Kg. Berat darimana-nya coba?Aku mencebik."Sean bantu bawa tas aja ya. Dah, Sean tunggu di bawah!" Bocah itu berlari cepat keluar kamar.Lah, jadi kami ditinggal berdua?Tak sempat kutahan kepergian Sean. Dia terlalu cepat pergi.Ingin rasanya berjalan sendiri. Tapi kondisi fisikku tidak akan kuat menahan berat tubuh sendirian, apalagi harus menuruni tangga. Yang ada bisa-bisa nanti celaka. Aku pasrah saja dibantu oleh makhluk es ini.Entah kenapa setiap kali berduaan bersamanya sepert
"Malik enggak pernah suka bawa perempuan ke rumah. Baru kali ini dia bawa orang asing dan dengan senang menerima keberadaan orang baru di keluarga ini. Kamu, pasti istimewa buat Malik."Benarkah? Mana mungkin, bahkan dia itu sering menertawakanku saat aku gagal, juga tak berperasaan, kejam, dingin! Akan terlalu banyak jika disebutkan satu per satu. Bagaimana bisa wanita ini mengatakan bahwa aku itu spesial bagi Pak Malik. Itu adalah sebuah kebohongan besar.Wanita itu berdiri membelakangiku menghadap jendela. Dari belakang, kulihat rambut hitam miliknya berkibar diterpa angin.Saat pandanganku beralih pada foto di atas nakas. Wanita itu berbalik, berjalan mendekat padaku.Dia menyentuh bahuku, menuntun untuk duduk di atas ranjang berukuran besar yang kutebak ini adalah kamarnya. Besar dan sangat mewah dipenuhi dengan banyak barang mahal.Mataku tak bisa berhenti menyisi
Sepanjang jalan menuju rumah Keluarga Mahendra tak bisa kuhilangkan rasa kesal ini. Merengut sepanjang jalan dan membuat Bapak-Slamet-sopir pribadi keluarga Mahendra, begitu saat dia memperkenalkan diri sepanjang jalan, protes dan tertawa pada ekspresiku yang sangat menyeramkan itu, katanya. Biarlah, Bapak itu tidak tahu apa kalau aku sedang kesal?Aku mencebik.Pandanganku beralih keluar jendela. Mobil barusaja memasuki gerbang, kami di sambut oleh satpam yang kemarin kulihat. Dia masih mengenakan pakaian yang sama. Aku heran, apa mereka tidak ganti baju, atau punya baju seragam yang lain? Pertanyaan yang bagus.Mobil berhenti tepat di depan garasi. Pak Slamet menoleh padaku sembari tersenyum, aku yakin itu kode darinya agar segera keluar dan dia bisa memasukkan mobil ke dalam garasi segera.Aku mengeratkan pegangan pada tali tas, membuka pintu, beringsut ke luar mobil.Di depan teras seorang