LOGINWarning! 18+ Umur pernikahan baru 2 bulan, Anjani harus menelan kenyataan pahit kalau suaminya akan meneruskan studinya di kota sebrang. Anjani tidak bisa berbuat banyak mengingat ia masih belum menyelesaikan kuliahnya di Jakarta. Dengan berat hati, Arsya pergi ke Jogja meninggalkan istri dan calon anaknya yang baru berumur 2 minggu di kandungan. Awalnya mereka kira semua hanya tentang waktu saja, karena lambat laun mereka akan bersatu kembali, tapi apa mungkin semua berjalan seperti yang mereka bayangkan, sedangkan orang ketiga hadir dan mencari ruang. Memilih bertahan atau meninggalkan?
View MoreDulu Juna pernah beranggapan bahwa dirinya bisa hidup meski sendirian, tanpa menikah dan tanpa memiliki rumah tangga.Baginya, rumah tangga adalah suatu yang rumit yang tidak akan bisa ia tanganin, menjalani hidup dengan seseorang yang mungkin akan selalu bertolak belakang dengannya.Terlebih ada sang mamah yang harus ia jaga. Kalau nanti Juna menikah, perhatian dan kasih sayang nya ke sang mamah pasti akan terbagi dua.Pokoknya, ada seribu alasan mengapa Juna enggan jatuh cinta dengan perempuan, kecuali mamahnya.Perempuan itu rapuh, hatinya sangat lembut. Sedangkan sifat laki - laki dominan kasar dan egois, meski tidak laki - laki semua seperti itu tapi Juna, ia mengakui kalau ia memiliki sifat seperti itu.Dan sebelum bertemu dengan Nalla, tidak ada yang bisa membuat Juna sadar bahwa jatuh cinta itu suatu hal mudah. Hanya saja, saat itu Juna belum menemukan tambatan
"Cucu oma jadi botak ya?" ujar Syerli sembari mengusap kepala Jeno yang baru saja di pangkas.Acara aqiqah Jeno berjalan dengan khidmat di kediaman Gerry. Selain mengundang para tetangga dan kerabat, Anjani dan Arsya juga turut menyantuni anak yatim dan piatu, mengamalkan sebagaian rezekinya sebagai rasa syukurnya kepada sang Maha Pencipta karena sudah memberikan Arsya dan Anjani anugrah terindah berupa buah hatinya.Acara Aqiqah Jeno hanya berlangsung selama dua jam, dan kini para tamu sudah mulai menyurut karena acara sudah selesai. Hanya tinggal beberapa saudara dan kerabat terdekat saja yang masih menetap di kediaman papahnya Anjani.Salah satunya Syerli -Mamahnya Anjani, mantan istri Gerry. Syerli yang selalu sibuk dengan butik dan pekerjaan nya menyempatkan diri untuk hadir di acara aqiqah cucu pertamanya. Syerli bahkan rela datang ke rumah mantan suaminya. Rumah yang dulu sempat mereka tinggali bersama sebelum mer
"Astaghfirullah, Anjani!"Arsya yang baru saja masuk kedalam kamar langsung berlari panik ke tempat tidur, tangannya langsung melempar bantal yang menindihi badan hingga wajah Jeno, membuat anaknya itu kelagepan. Setelah bantal itu terhempas ke lantai tangis Jeno yang semula tak terdengar karena tertindih bantal kini terdengar nyaring. Bayi itu menangis kencang hingga wajahnya memerah. Sang Bunda yang pulas di sebelahnya spontan terbangun dan menatap kaget Jeno yang menangis di gendongan Arsya."Kamu nih gimana sih, Jeno tadi ketindihan bantal. Gak bisa nafas dia." omel Arsya yang sedang menimang - nimang Jeno yang belum reda tangisnya.Anjani menunduk, ia lantas bangkit dari atas tempat tidur lalu berjalan menghampiri Arsya dan Jeno."Kalau aku buang air besar dulu tadi mungkin sudah lain ceritanya." kata Arsya masih merasa kesal pada istrinya yang ceroboh itu. Coba kalau Arsya masih berleha
"Pelakor!" "Dasar perusak rumah tangga orang!""Gak nyangka ya cantik - cantik ternyata hatinya busuk." "Oh dia yang pura - pura diperkosa supaya dinikahin suami orang itu sis?" "Padahal cantik ya, tapi kok kelakuannya kayak gitu."Sudah hampir seminggu Nisya mengurung diri didalam rumah. Tapi bisikan caci maki tentang dirinya itu terus terdengar di telinganya. Hidup Nisya menjadi tidak tenang setelah semua orang mengetahui kebohongan nya, Nisya bahkan sampai tidak berani keluar dari rumah karena selalu mendengar omongan orang lain yang mencacinya secara terang - terangan ketika dia lewat. Teman - teman Nisya pun menghilang sejak tahu bahwa Nisya melakukan perbuatan keji dan memfitnah Arsya telah memperkosa dirinya. Bukan cuma itu, akun sosial media nya pun tak luput dari serangan dan caci maki netiz