LOGINGhea merapikan rambut hitamnya yang panjang sekali lagi, menyambar topi hitam di atas meja dan memakainya. Melepas topi, menggulung rambut panjangnya dan memakai topi lagi.
Riasan di wajahnya juga sudah hilang, di gantikan dengan wajah halus yang murni sebening giok, sedikit senyum terlihat di bibir merah mudanya.
"Begini lebih cantik, riasan tadi benar-benar bukan diriku!"
Mengangkat kedua tangannya, Kemeja hitam yang Ghea pakai sangat besar dan panjangnya bahkan sampai ke lutut, benar-benar mengubur tubuh mungilnya.
"Sangat merepotkan".
Mengambil nafas pelan.
"Okay ... Waktunya pergi".
Keluar dari kamar mandi, langkah kakinya sangat pelan. Pintu ruangan terbuka sedikit, Ghea mengintip keadaan di luar ruangan.
Mulutnya melongo , jantungnya shock, Ghea menekan jantung di dadanya mengusapnya perlahan. Hal-hal yang memasuki matanya tidak tertahankan.
Sangat mewah.
Ghea merasa sangat konyol, seperti udik dari desa yang datang ke kota, yang baru melihat hal-hal mewah.
Ghea sudah terbiasa melihat hal-hal mewah, tapi di tempat dimana Ghea berdiri sekarang berbeda dari apa yang pernah dia lihat sebelumnya.
Andai Ghea tidak peduli dengan siapa dia menikah, Ghea dengan senang hati akan tinggal disini sebagai Nyonya.
Tapi, kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli dengan barang mewah maupun kehidupan mewah, Ghea tahu itu. Ghea tidak mau ketika dia menikmati kemewahan ini, suaminya bukan orang yang baik, apalagi jika Ghea bahkan tidak mencintainya.
Cinta?
Apa suaminya juga mencintainya?
Ghea menepuk kepalanya, sangat konyol memikirkan cinta dari orang yang tidak dia ketahui sama sekali.
Tidak ada orang di sekitar, Ghea mulai melangkahkan kakinya dengan sangat pelan. Kepalanya melongok kiri kanan, mencari sesuatu seperti Pintu atau apapun yang bisa membawanya keluar.
Berputar tiga kali, Ghea tersesat. Jalan yang ia lewati tidak membawanya keluar, hanya berputar-putar di sekitar.
"CK ... ".
Ghea sekarang berdiri di depan pintu yang sama seperti pertama kali dia keluar dari ruangan. Sepertinya Ghea hanya berputar-putar seperti orang bodoh, bahkan Ia kembali lagi ke ruangan tadi.
Suara langkah kaki terdengar dari jauh, membuatnya gugup. Ghea meraih knop pintu dan memasuki ruangan di depannya.
Ghea tidak menyadari, di atas pintu masuk tertulis " Ruang belajar".
.....
"Pergi!"
Satu kata terdengar, cukup membuat Ghea melompat terkejut. Mata coklatnya berkedip, melihat ruangan di depannya.
Ruangan luas dengan dominan warna hitam, berderet rak buku dimana-mana dan satu set meja kerja berada di tengah ruangan.
Duduk di kursi di belakang meja kerja ada seseorang, seorang lelaki.
Rak buku? Meja kerja? Bukankah ini ruangan tempat tidur dengan aroma mawar? Apakah Ghea salah masuk ... ?!
"Pergi!"
Suara dingin itu terdengar lagi, Ghea memperhatikan seorang lelaki yang duduk di balik meja kerja sedang fokus dengan pekerjaannya, pena yang dipegang lelaki itu masih bergerak.
Suara dingin itu, sama dengan suara yang Ghea dengar sebelumnya. Tuan? Ya benar, dia yang dipanggil ketiga pelayan tadi dengan sebutan Tuan.
Tuan? Suami?!
Kata ini melintas begitu saja di pikirannya. Kalau benar dia orang yang menikahinya, itu berarti rencana kepergiannya akan gagal total, Ghea sudah ketahuan. Tapi, lelaki itu memintanya pergi, apa maksudnya?
"Suami?!" Ghea merendahkan suaranya.
Klik.
Suara benda patah.
Arion mendengar gadis itu memanggilnya "suami", kemarahan yang dia pendam melonjak. Tangannya terkepal erat menyebabkan pena yang ia pegang patah.
Ghea ketakutan melihat perubahan suasana yang mendadak. Dia hanya mengucapkan kata "suami", tapi reaksi yang dia terima dari pihak lawan diluar dugaan. Udara dingin yang disebarkan lelaki itu membuatnya merinding. Sangat dingin.
Arion menatap gadis yang masih berdiri di belakang pintu menghadapnya, pandangan gadis itu jatuh di kakinya, membuat Arion tidak bisa mengetahui pikirannya. Hanya dengan melihat tubuh gadis itu yang menggigil, Arion tahu gadis itu tengah ketakutan di bawah tindasan aura dingin yang ia keluarkan.
"Ck ... Sangat lemah".
Gadis itu mendongak mendengar ucapan lelaki itu. Apa yang dia katakan? Dia menyebutnya sangat lemah?!
Udara dingin yang merasuki tubuh Ghea menghilang. Kemarahan berkobar di mata coklatnya. Ghea melangkahkan kakinya menuju lelaki itu.
"Apa maksud anda menyebut saya lemah? Saya tidak lemah!" Meletakkan tangannya di pinggulnya, Ghea menatap lelaki itu dengan arogan.
"Lemah". Ucapnya kaku, Arion dengan dingin menatap gadis itu.
"Heyyy ...?!" Ghea menggebrak meja kerja Arion dengan tidak sabar dan kesal. Matanya menyalang ganas.
"Anda pikir anda siapa? Berani menyebut saya lemah, saya tidak lemah ... Ok?!" Ghea mendengus dingin.
"Dan jika memang saya lemah, kenapa anda menikahi saya?!".
Ghea merapikan rambut hitamnya yang panjang sekali lagi, menyambar topi hitam di atas meja dan memakainya. Melepas topi, menggulung rambut panjangnya dan memakai topi lagi.Riasan di wajahnya juga sudah hilang, di gantikan dengan wajah halus yang murni sebening giok, sedikit senyum terlihat di bibir merah mudanya."Begini lebih cantik, riasan tadi benar-benar bukan diriku!"Mengangkat kedua tangannya, Kemeja hitam yang Ghea pakai sangat besar dan panjangnya bahkan sampai ke lutut, benar-benar mengubur tubuh mungilnya."Sangat merepotkan".Mengambil nafas pelan."Okay ... Waktunya pergi".Keluar dari kamar mandi, langkah kakinya sangat pelan. Pintu ruangan terbuka sedikit, Ghea mengintip keadaan di luar ruangan.Mulutnya melongo , jantungnya shock, Ghea menekan jantung di dadanya mengusapnya perlahan. Hal-hal yang memasu
"Uugh" Erangan kesakitan terdengar dari bibir tipis merah mudanya. Ghea perlahan membuka matanya. Sinar menyilaukan membuat matanya sedikit menyipit.Ruangan dominan warna putih hitam memasuki matanya. Mencoba mengangkat tangan kanannya untuk memijat kepalanya yang terasa berat. Kelopak mawar merah jatuh di atas matanya saat Ghea mengangkat tangannya."Mawar?!"Tangannya yang terangkat turun ke bawah tempat ia berbaring, meraba-raba yang ada di sekitarnya. Ranjang king size yang Ghea tempati, diatasnya bertabur kelopak mawar merah. Meraup beberapa kelopak mawar, matanya menggelap.Sial.Tangannya terkepal erat saat Ghea mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya.Ghea ingat, saat itu dia sedang dalam perjalanan pulang kuliah, dia diculik beberapa pria berpakaian serba hitam. Pukulan ringan di kepalanya membuatnya pingsan. Ghea hanya samar-samar mengingat seorang wan