Share

My Name is Mawar (INDONESIA)
My Name is Mawar (INDONESIA)
Author: Renny Juliadi

1. Perkenalan

Author: Renny Juliadi
last update publish date: 2020-11-06 19:05:19

Perkenalkan namaku MAWAR ANASTASYA, tetapi cukup memanggilku dengan sebutan Mawar. Aku berumur 25 tahun, dengan tubuh mungil dan kulit kuning langsat. Saat ini aku bekerja sebagai pembantu di salah satu kompleks elit Jakarta. Keseharianku selalu sibuk mengurus rumah beserta isinya. Terkadang tak ada waktu untukku beristirahat, walau hanya beberapa detik saja pun tidak bisa. Namun, beginilah nasibku, bekerja dengan orang lain tanpa harus membantah sedikit pun. Demi mendapatkan uang, aku harus rela bekerja dari pagi hingga malam hari di sini. Untunglah aku diberi tempat tinggal di rumahnya, jika tidak, mungkin aku sudah pontang-panting hanya untuk bekerja sebagai pembantu di rumah ini.

"Mawar!" teriak seorang wanita dengan lantangnya padaku. Aku sudah terbiasa mendengar suaranya yang bernada tinggi seperti ini.

"MAWAR!" teriaknya lagi dengan nada yang lebih tinggi, aku segera berlari menghampirinya. Jika saja aku sedikit lamban, pasti ia akan memarahiku habis-habisan. Dan aku tidak mau itu terjadi.

"Iya, Bu," ucapku pelan. Aku cukup tahu diri menjadi pembantu di rumahnya, ketika ia marah dengan kesalahan yang tidak kulakukan pun, aku hanya bisa diam menerimanya. Toh, majikan yang berkuasa di sini, sedangkan aku hanyalah seorang pembantu.

"Kamu ini dipanggil nggak dengar-dengar. Pakai telinga kamu dong!" ucapnya dengan nada marah. Seperti inilah dia, selalu marah. Padahal sesuatu yang tergolong kecil sekalipun ia besar-besarkan. Untung saja aku yang bekerja di rumahnya ini, kalau orang lain pasti sudah mengundurkan diri dari dulu. Aku tahu ia majikan di sini, tetapi terkadang kelakuannya sangat keterlaluan. Ia bisa marah tanpa sebab, bahkan mengancam akan memecatku. Aneh sekali, permasalahannya juga aku tidak tahu. Ia menganggapku seperti cenayangnya saja.

"Iya, Bu, maaf," jawabku untuk meminta maaf.

"Maaf-maaf saja yang kamu bilang, cepat hidangkan makanannya. Sebentar lagi suami dan anak saya pulang!" suruhnya dengan nada tegas.

Aku minta maaf juga salah, diam apalagi? Mungkin ia akan menerkamku detik itu juga, kalau aku berani membantah perkataannya itu. Huh, mentang-mentang majikan ia bisa berlaku seenaknya padaku.

"Iya, Bu. Segera saya siapkan," ucapku ingin pergi, tetapi ditahan olehnya. Sudah biasa ia seperti ini, aku lamban ia marah, aku cekatan ia juga menahannya. Aneh, beginilah nasib pembantu sepertiku ini. Tidak dihargai, apalagi disayangi. Para majikan ini hanya bisa menyuruh dengan mata tertutup, ia tidak melihat apa yang sedang atau tidak pembantu kerjakan.

"Tunggu dulu," potongnya.

"Iya, Bu?" tanyaku, kulihat dia sedang memikirkan sesuatu. Berpikirlah sesukamu, Bu, biarkan saja aku kelelahan menunggumu di sini.

"Kamu nanti temani Keysha makan, saya mau pergi dulu," ucapnya pergi begitu saja, aku langsung melongo mendengar ucapannya barusan.

Aneh, bukan? Seperti inilah dia. Tadi meneriaki namaku hingga terdengar sampai sudut rumah, menyuruhku untuk menyiapkan makanan untuknya. Eh, sekarang ia juga sudah berubah pikiran. Uhm, orang kaya memang sesuka hatinya saja. Cepat sekali berubah pikiran, begitu pun aku akan selalu dimarahi olehnya.

"Tapi, Bu, Keysha kan—" Ucapanku terpotong karena dia langsung menyela begitu saja, aku semakin heran kalau begini.

"Ah, sudahlah! Kamu temani saja dia!" Ia meninggalkanku yang mematung di tempat, semakin tidak mengerti dengan jalan pikirannya saat ini.

Coba pikirkan, tadi dia marah aku lamban, saat aku ingin melaksanakan suruhannya, ia menahanku. Sekarang apa lagi? Dia hendak pergi keluar dan meninggalkan anaknya di rumah. Sebenarnya dia ini jenis manusia seperti apa, sih? Aku tidak mengerti jalan pikirannya.

"Kesyha kan mau ditemani oleh Ibu, kenapa Ibu jadi php sama anak sendiri, sih? Kasihan Keysha," batinku sedih.

KESYHA PUTRI MORGAN, adalah anak semata wayang majikanku. Keysha anak yang riang, sangat baik, dan sopan. Namun, ia harus kehilangan kasih sayang seorang ibu akibat keegoisan ibunya sendiri. Keysha baru berumur 5 tahun, lebih tepatnya ia masih duduk di bangku TK. Ia memiliki tinggi badan yang lumayan, dengan postur tubuh anak-anak orang kaya, putih, dan tidak terlalu gemuk. Yang aku tahu, ia pintar di sekolah. Hanya saja, karena kurangnya kasih sayang oleh orangtua, ia menjadi anak yang pendiam. Meskipun begitu, jika bersamaku ia tidak merasa aku adalah orang lain. Karena dia sangat terbuka denganku, dia selalu menceritakan semua hal padaku setiap harinya. Mungkin karena hanya akulah yang bisa mendengarkan semua ceritanya. Aku juga tidak masalah, karena aku suka dikelilingi oleh anak-anak yang imut dan lucu sepertinya. Tak jarang pula kami bermain bersama, seperti kakak beradik tentunya. Kata Keysha, dia sangat menyayangiku dan sudah menganggapku seperti keluarganya sendiri. Aku yang tidak memiliki siapa pun, mendengar itu sangatlah bahagia dan terharu. Rasanya aku seperti memiliki keluarga jika bersama dengan Keysha. Tak jarang pula kami selalu menceritakan kesedihan masing-masing, kami tidak sungkan untuk curhat satu sama lain. Itulah yang menggambarkan kedekatan kami, tidak ada aliran darah tetapi sangat dekat seperti keluarga.

Huh, selalu seperti ini. Terkadang aku berpikir istri dan ibu macam apa dia. Di saat suami dan anaknya sedang membutuhkan kehadirannya, dia malah pergi entah ke mana. Setiap ditanya juga tidak pernah menjawab, aku harus bilang apa nanti pada Pak Anton?!

ANTONIO MORGAN, pria tampan nan gagah berumur 30 tahun ini adalah majikanku, suami dari Bu Isma. Berbanding terbalik dengan Bu Isma yang galak dan sombong, Pak Anton memiliki sifat ramah dan baik hati kepada siapa pun. Tak jarang orang yang mengaguminya, secara diam-diam maupun secara terang-terangan juga. Namun, aku hanya melihatnya sebagai majikanku saja. Tidak ada rasa buruk terbesit sedikit pun di hatiku untuk keluarga ini. Karena aku sadar siapa aku dan apa kedudukanku. Pak Anton adalah pria tampan, dengan kulit putih dan tubuhnya yang tinggi serta kekar. Beruntung sekali rasanya Bu Isma bisa mendapatkan Pak Anton di kehidupannya. Pak Anton sangatlah sempurna. Sudah tampan, baik hati, dan dia pun sangat kaya raya. Rumah yang ia tinggali bersama keluarganya ini sudah sangat mewah sekali, terlebih lagi perabotan-perabotan yanga ada di dalamnya. Bu Isma juga sering menghamburkan uang Pak Anton, itu juga tidak pernah dimarahi oleh Pak Anton. Kurang baik apalagi dia memperlakukan Bu Isma seperti ratu di sini? Wajar saja jika kekayaan Pak Anton tidak pernah habis, dia juga setiap hari pergi—pagi—pulang—malam hanya untuk bekerja di perusahaannya. Perihal keluarga Pak Anton, siapa orangtuanya dan berapa bersaudara dia, aku tidak tahu. Aku juga tidak bisa mencari tahu, memangnya siapa di rumah ini yang bisa kutanya?! Bukankah semuanya hanya benda di sini? Hanya kesunyian yang terdengar, tidak pernah sekalipun terdengar suara Pak Anton maupun Bu Isma yang tengah berbincang hangat layaknya rumah tangga harmonis.

ISMA PUTRI MORGAN, adalah seorang wanita berumur 27 tahun yang memiliki tubuh ideal semua wanita. Kulit putih, kaki jenjang, barang-barang branded, ia memiliki segalanya. Wajah cantik rupawan itu akan membuat siapa pun iri, aku contohnya. Terkadang aku merasa ingin seperti Bu Isma yang memiliki segalanya hingga tidak perlu bersusah payah bekerja hingga larut malam. Bu Isma adalah wanita yang beruntung bisa terlahir di keluarga yang memiliki banyak materi, tidak sepertiku yang tidak memiliki keluarga. Dengan semua kelengkapan hidup Bu Isma, ia tidak sebaik yang dikira. Sifatnya yang mudah meledak dan seenaknya membuat siapa pun terkadang tidak merasa nyaman dengannya. Apalagi aku yang terus-menerus mendapat semua amukannya ketika dia tidak senang atas apa yang kulakukan. Aku juga sedikit heran dengan sifatnya yang tergolong tidak terkontrol itu. Dia memiliki segalanya dan dengan mudahnya mendapatkan apa yang dia mau, tetapi mengapa sifatnya seperti orang stres? Bukannya dia hidup enak bersama Pak Anton? Tinggal di rumah megah, uang selalu mengalir indah di ATM-nya, saat ingin pergi ia bisa mengendarai mobil  mewahnya tanpa larangan dari siapa pun. Lalu mengapa sikapnya selama ini malah seperti itu?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Name is Mawar (INDONESIA)   5. Konflik

    "Isma mana?" tanyaku membuka pembicaraan.Dari tadi aku tidak melihat dirinya, entahlah dia ke mana lagi, terlalu banyak kesibukan yang dibuat untuk dirinya sendiri. Padahal dia bisa berdiam diri di rumah untuk menghabiskan waktunya dengan Keysha atau pun aku, tetapi dia tidak melakukan itu, dia malah memilih pergi keluyuran di luar sana tanpa memikirkan anak dan suaminya. Ketika pulang dia selalu membawa banyak paper bag, dan kalian tahu apa isinya? Ya, semua itu berisi pakaian dan tas branded terbarunya. Kalau kalian bingung dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli semua itu, jawabannya adalah karena ada aku yang menjadi mesin ATM-nya. Mungkin kalau istri lain akan sangat bersyukur sekali memiliki suami sepertiku. Aku tidak pernah menyuruhnya apa pun, aku juga membiarkannya melakukan apa yang dia suka, dengan semua uangku pula, tetapi dia malah membalasku dengan seperti ini. Entah bagaimana aku bisa mencintai wan

  • My Name is Mawar (INDONESIA)   4. Desiran Aneh

    Teng teng tengAku terbangun akibat suara jam dinding rumahku yang berbunyi sangat keras. Refleks, aku melihat jam kecil berwarna hitam yang melingkar di tanganku.18:00 WIBSudah hendak magrib ternyata, tetapi tidak ada yang membangunkan aku. Secepat kilat aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Setelah selesai, aku langsung turun mencari keberadaan anak dan istri tercintaku itu.Namun, masih berada di tangga bawah, aku melihat interaksi Keysha dan Mawar yang tengah asyik sekali."Lalu ke mana Isma?" batinku bertanya-tanya. Kuhilangkan lamunan itu dan kembali memperhatikan mereka.Betapa menariknya interaksi Mawar dan Keysha. Sungguh, seharusnya aku da

  • My Name is Mawar (INDONESIA)   3. Terima Kasih Mawar

    Anton's POV"Sudah. Tante Mawar yang membantu!" ucap Keysha, anak semata wayangku dengan cengiran khasnya. Aku langsung menoleh ke arah Mawar beberapa detik, ia sudah terlalu banyak mengurus Keysha selama ini. Hanya dialah yang mengerti apa yang Keysha suka atau tidak, sementara aku yang notabenenya adalah orangtua Keysha hanya bisa menafkahinya saja.Terkadang aku merasa kasihan pada Keysha, ia tidak mendapat perhatian lebih sebagaimana mestinya orangtua beri. Aku juga sedih dengan semua takdir yang kumiliki, aku ingin mengubahnya, tetapi aku tidak bisa melakukan semua itu. Tuntutanku yang lain membuatku terkadang tak bisa banyak berpikir untuk nasib Keysha di masa mendatang. Padahal, akulah orang pertama yang seharusnya memikirkan kesehatan mental Keysha saat ini. Aku tidak ingin Keysha kenapa-kenapa, tetapi bodohnya aku pun tidak bisa melakukan apa-apa.

  • My Name is Mawar (INDONESIA)   2. Rasa untuk Keysha

    CeklekKudengar suara pintu terbuka. Aku langsung berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang. Mungkin saja mereka sudah pulang, dengan begitu aku memiliki teman bermain nantinya."Assalamualaikum," ucap seseorang dengan suara baritonnya, tetapi masih terdengar samar karna pintu utama jauh dari tempatku berada."Waalaikumusalam." Kulihat siapa yang mengucapkan salam. "Eh, Pak Anton sudah pulang?" tanyaku langsung."Sudah, ini Keysha tolong gantikan pakaiannya dulu. Setelah itu baru siapkan makan siang," suruhnya dengan nada yang lembut."Eh, iya, Pak!" jawabku tegas, lalu berjalan menghampiri Keysha yang berdiri tak jauh dariku. "Ayo, Sayang!" ucapku pada Keysha yang nampak kelelahan. Kugenggam jemari Keysha dan segera membawa ke kamarnya untuk berbenah diri sebelum makan sian

  • My Name is Mawar (INDONESIA)   1. Perkenalan

    Perkenalkan namaku MAWAR ANASTASYA, tetapi cukup memanggilku dengan sebutan Mawar. Aku berumur 25 tahun, dengan tubuh mungil dan kulit kuning langsat. Saat ini aku bekerja sebagai pembantu di salah satu kompleks elit Jakarta. Keseharianku selalu sibuk mengurus rumah beserta isinya. Terkadang tak ada waktu untukku beristirahat, walau hanya beberapa detik saja pun tidak bisa. Namun, beginilah nasibku, bekerja dengan orang lain tanpa harus membantah sedikit pun. Demi mendapatkan uang, aku harus rela bekerja dari pagi hingga malam hari di sini. Untunglah aku diberi tempat tinggal di rumahnya, jika tidak, mungkin aku sudah pontang-panting hanya untuk bekerja sebagai pembantu di rumah ini."Mawar!" teriak seorang wanita dengan lantangnya padaku. Aku sudah terbiasa mendengar suaranya yang bernada tinggi seperti ini."MAWAR!" teriaknya lagi dengan nada yang lebih tinggi, aku segera b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status