Share

1 - Kekecewaan

last update Petsa ng paglalathala: 2020-11-14 23:51:16

"Ke mana saja kamu baru pulang sekarang?"

Suara Ayah mengejutkanku tepat saat aku masuk ke dalam rumah. Aku meneguk saliva kasar. Kupikir ini masih terlalu pagi bagi Ayah untuk bangun. Ini masih jam 3 dini hari.

"A...yah belum tidur?" tanyaku terbata. Lampu tengah ruang tengah masih mati sehingga aku sedikit kesulitan mencari sosok pria dengan rambut hitam yang sudah mulai beruban. Duduk di mana dia?

Pertanyaanku terjawab tidak lama kemudian karena lampu tiba-tiba menyala. Mataku menyipit dan mendapati Ayah berdiri di depan saklar lampu. Ayah sudah memakai piyama, matanya melotot tajam ke arahku dan bibirnya merengut tipis.

"Jawab pertanyaan Ayah, dari mana kamu jam segini baru pulang?" desis Ayah tajam.

Aku menunduk. Tanganku mencengkeram kuat-kuat tas kulit berwarna hitam pemberian dari Bima, pacarku. Perlahan-lahan, rasa marah yang beberapa jam lalu menggelayut dalam hati berubah menjadi rasa bersalah luar biasa.

"Starla..."

"Maafkan aku, Ayah," gumamku tanpa berani menatap Ayah. Membayangkan apa yang baru saja kulakukan membuatku takut dan ingin menangis. Jika Ayah tau, ia pasti akan sangat marah, pikirku.

"Kamu pergi bersama Bimo lagi?"

Mendengar nama lelaki yang sudah menjalin hubungan denganku selama 3 tahun membuatku terpancing. Bimo, adalah pria yang berumur 2 tahun lebih tua dariku. Kami bertemu 3 tahun yang lalu saat jasanya disewa oleh sebuah perusahaan penerbitan sebagai fotografer. Bimo saat itu mendampingi seorang reporter majalah bisnis untuk melakukan wawancara dengan manajer di perusahaan tempat aku bekerja.

Kisah kami mungkin sangat klise seperti kisah yang lain. Saat itu tidak sengaja aku dan Bimo bertabrakan. Aku yang saat itu membawa dua gelas kopi harus menerima nasib buruk. Cairan berwarna hitam itu tumpah, menyebabkan bajuku basah. Bimo meminta maaf dan meminjamkan jaket yang ia pakai untuk menutupi dalaman yang tercetak jelas dari luar. Maklum saja saat itu aku memakai kemeja berwarna putih dan bra berwarna merah. Aku berterima kasih, meminta nomornya dengan tujuan jika nanti aku sudah mencuci jaket yang dia pinjamkan, aku bisa segera mengembalikannya pada pria itu.

Hubungan kami berubah menjadi sangat dekat dalam waktu yang cepat. Bimo sering mengirimiku pesan pendek, menyapa di setiap pagi hari, mengingatkanku untuk makan dan masih banyak lali. Terkadang dia juga mengirimi berbagai lelucon atau anime yang mampu membuatku tertawa terpingkal-pingkal.

Perhatian Bimo yang semakin lama semakin besar mampu menyentuh hatiku. Aku tidak terkejut menjumpai diriku yang akhirnya selalu menunggu sebuah pesan darinya dan mendapati bibirku selalu terkembang setiap mengingat namanya. Terlebih, kami sering bertemu saat pulang bekerja. Bimo sering mengantarku pulang dengan alasan ia tidak ingin aku kelelahan setelah seharian bergelut dengan pekerjaan. Padahal menurutku, pekerjaanku tidak terlalu berat, hanya menyusun laporan keuangan dan lain sebagainya.

Lalu setelah tiga bulan masa pendekatan, kami pun memutuskan untuk jadian.

"Iya...," jawabku lirih.

Terdengar helaan napas berat dari seberang. Ayah memang tidak menyukai Bimo sejak dulu. Aku tidak pernah tau alasannya karena Ayah tidak pernah memberitahuku. Apakah mungkin karena rambutnya panjang? Atau mungkin karena penampilannya yang lebih mirip preman dari pada seorang cowok baik-baik? Tapi, bukankah kita tidak bisa membandingkan penampilan seseorang dengan kepribadiannya?

"Lalu? Ke mana saja dia membawa pergi seorang anak gadis yang masih perawan sampai jam segini?"

Saat mendengar pertanyaan Ayah tersebut, remasanku pada tas kulit hitamku semakin mengetat. Aku menggigit bibir dan mataku mulai memburam karena berkaca-kaca. Jika saja Ayah tau bahwa aku baru saja memberikan keperawananku pada Bimo...

"Starla, jawab Ayah!" seru Ayah mulai tak sabar. Ia berjalan ke arahku dan aku semakin menunduk takut. Aku tidak siap menjawab pertanyaan Ayah.

"Apa ini?!" Ayah tiba-tiba menarikku dan mengangkat kepalaku hingga mendongak. Ia membuat kepalaku miring ke kiri dan mengamati leherku. "Apa ini, Starla?"

Aku mengerjab tidak mengerti. Apa maksud Ayah?

Semakin tidak sabar dan gusar, Ayah menarik tanganku, memaksaku untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar bernuansa biru muda. Kamarku.

"Coba lihat ini!" perintah Ayah tepat di depan sebuah cermin meja rias.

Aku mengikuti perintah Ayah dan terkesiap menjumpai bercak merah di leher. Refleks saja tanganku mulai menggosoknya, namun sia-sia saja. Bukannya hilang, leherku malah semakin merah.

"Starla, jelaskan pada Ayah apa yang sudah Bimo lakukan sama kamu?" Lagi-lagi Ayah bertanya. Nadanya terdengar menuntut. Dan rasa takut pun kembali memenuhi diriku.

"I-itu..."

"Jangan bertele-tele!"

"Ayah..." Aku pun mendapati diriku sudah menangis. Di dalam tangisan aku berharap jika Ayah setidaknya bisa sedikit luluh dan meninggalkanku. Agar Ayah tidak memaksaku untuk bercerita. Namun percuma saja, Ayah adalah seorang pria yang tegas dalam mendidik. Ayah adalah seorang yang jujur dan mempunyai komitmen yang tinggi dalam hidup. Ia selalu disiplin, menjunjung tinggi budaya dan berwatak keras. Karena itulah, Ayah tetap ada di dalam kamarku, menunggu sampai aku selesai menangis.

Setelah kira-kira satu jam lamanya aku menangis, mataku mulai merasa panas. Aku yakin mataku sudah membengkak. Suaraku sudah menjadi serak, dan tubuhku mulai merasa lemas.

Ayah masih di sana, duduk di atas kasur dan menunggu. Aku sadar jika aku tidak bisa menghindar.

"Aku..."

Tuhan, harus mulai dari mana aku menjelaskan semuanya pada Ayah?

Aku menggigit bibir, takut-takut melihat Ayah. Wajah tuanya terlihat sedikit lelah, membuatku semakin merasa bersalah. Tapi jika aku tidak mulai berbicara, Ayah tidak akan pergi dari sini.

"Aku... dan Bimo... Kami... Bimo menciumku," jawabku pada akhirnya dengan terbata.

Hening.

Ayah tidak mengatakan apapun selama beberapa menit lamanya.

"Hanya itu?"

Aku mengangguk cepat. Biarlah aku berbohong. Aku tidak ingin membuat Ayah marah atau kecewa padaku.

Menatap cukup lama, Ayah pun bersuara lagi.

"Kamu tidur sama dia?"

Bagaikan ada petir menyambar, jantungku berdetak kencang. Tanpa sadar aku sudah menunduk dan lagi-lagi ingin menangis.

"Jawab Ayah, Starla. Kamu tidur sama dia?" tekan ayah di setiap katanya. "Katakan yang sejujurnya karena kamu tau Ayah tidak suka segala jenis kebohongan," lanjutnya.

Dengan berat, aku pun mengangguk. Mataku terpejam karena takut. Kedua tanganku meremas ujung pakaian yang aku pakai.

"KAMU GILA??!! KAMU SUDAH TIDAK WARAS LAGI? KAMU DAN BIMO ITU BELUM MENIKAH TAPI KALIAN SUDAH BERANI TIDUR BERSAMA?!"

Sesuai dugaan, Ayah marah besar. Aku kembali menangis.

"Maafkan aku, Ayah... Maaf... Aku nggak bermaksud untuk ...,"

"Lalu apa maksud kamu, hah?!" sela Ayah cepat. "Apapun itu, kamu sudah mengecewakan Ayah! Apa begini cara Ayah mendidik kamu? Untuk menjadi perempuan murahan? Kamu mau jadi pelacur?!"

Aku menggeleng. "Nggak, Ayah..."

"Lalu kenapa kamu tidur dengan laki-laki yang bukan suami kamu?!" bentaknya.

Menyeka air mataku cepat, aku memberanikan diri menatap wajah Ayah. Hatiku sakit melihat raut wajahnya yang tampak kecewa. Aku tau aku telah menghancurkan kepercayaan yang dia berikan padaku. Tapi aku bisa apa? Saat itu aku sedang tidak berpikir jernih. Aku terlalu marah pada sosok pria yang membesarkanku seorang diri selama 25 tahun.

Aku harus menjelaskannya pada Ayah. Suka tidak suka, senang maupun benci. Ayah harus tau. Bahwa ia juga telah mengecewakanku sama banyaknya.

Lalu saat aku mengatakan sebuah alasan yang masuk akal, tubuh Ayah menegang. Rahangnya mengetat, kedua tangannya terkepal kuat, dan ia melotot marah padaku.

"Karena Ayah menjodohkan aku dengan Pak Danu. Bos ayah yang sudah mempunyai tiga istri!"

***

Hai, hai, hai...

Bagaimana dengan bab satu ini? Berikan review kalian ya, agar cerita saya lebih berkembang di selanjutnya. Terima kasih!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • OBSESSED (Bahasa Indonesia)   1 - Kekecewaan

    "Ke mana saja kamu baru pulang sekarang?"Suara Ayah mengejutkanku tepat saat aku masuk ke dalam rumah. Aku meneguk saliva kasar. Kupikir ini masih terlalu pagi bagi Ayah untuk bangun. Ini masih jam 3 dini hari."A...yah belum tidur?" tanyaku terbata. Lampu tengah ruang tengah masih mati sehingga aku sedikit kesulitan mencari sosok pria dengan rambut hitam yang sudah mulai beruban.Duduk di mana dia?Pertanyaanku terjawab tidak lama kemudian karena lampu tiba-tiba menyala. Mataku menyipit dan mendapati Ayah berdiri di depan saklar lampu. Ayah sudah memakai piyama, matanya melotot tajam ke arahku dan bibirnya merengut tipis."Jawab pertanyaan Ayah, dari mana kamu jam segini baru pulang?" desis Ayah tajam.Aku menunduk. Tanganku mencengkeram kuat-kuat tas kulit berwarna hitam pemberian dari Bima, pacarku. Perlahan-lahan, rasa marah yang beberapa jam lalu menggelayut dalam hati berubah menjadi rasa bersalah luar biasa."Starla..."

  • OBSESSED (Bahasa Indonesia)   Prolog

    "Berlutut!"Suara itu terdengar begitu tegas dan tidak terbantahkan. Erik berdiri dengan jarak tiga meter dari tempat Starla berdiri. Mata Starla bergerak untuk menatap pria itu dan langsung dapat menangkap sosok pria bertubuh tegap dengan iris mata abu-abu tengah menatapnya dengan ekspresi tidak terbaca.Sungguh, jika mampu, Starla ingin menolak perintah tersebut. Namun tubuhnya justru berkata lain. Selalu begitu.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status