Accueil / All / Part-Time Husband / Bab 5: Aku Mundur

Share

Bab 5: Aku Mundur

Auteur: Gusti Riant
last update Date de publication: 2020-10-13 11:04:28
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Part-Time Husband   Bab 9: Awal dari Sebuah Akhir

    Rapat kali ini terasa membosankan. Biasanya aku selalu antusias jika membahas penelitian baru. Terlebih lagi ini masalah batubara yang cukup menyita perhatian. Selain maraknya penambangan illegal dan bekas galian lubang tambang yang memakan korban, masalah lingkungan pun menjadi isu yang cukup serius akhir-akhir ini. Entah kenapa, aku tidak begitu minat kali ini.Aku tidak bisa konsentrasi selama rapat berlangsung. Wajah Tiara terbayang terus dalam pikiranku. Apalagi hari ini kencan pertama kami. Padahal, ia hanyalah Tiara—gadis bodoh yang selama ini menjadi sahabatku. Padahal kami sudah sering bertemu, makan bareng, jalan-jalan, dan melakukan hal-hal lainnya. Tapi, kali ini terasa berbeda.Rapat selesai sekitar jam empat. Aku permisi terlebih dahulu sambil menyalami para petinggi yang memimpin rapat satu persatu, dimulai dari pihak dinas, pengusaha, pengamat lingkungan, dan seterusnya. Ketika melangkah keluar dari convention hall, Tiara kebetulan m

  • Part-Time Husband   Bab 9: Awal dari Sebuah Akhir

    Rapat kali ini terasa membosankan. Biasanya aku selalu antusias jika membahas penelitian baru. Terlebih lagi ini masalah batubara yang cukup menyita perhatian. Selain maraknya penambangan illegal dan bekas galian lubang tambang yang memakan korban, masalah lingkungan pun menjadi isu yang cukup serius akhir-akhir ini. Entah kenapa, aku tidak begitu minat kali ini.Aku tidak bisa konsentrasi selama rapat berlangsung. Wajah Tiara terbayang terus dalam pikiranku. Apalagi hari ini kencan pertama kami. Padahal, ia hanyalah Tiara—gadis bodoh yang selama ini menjadi sahabatku. Padahal kami sudah sering bertemu, makan bareng, jalan-jalan, dan melakukan hal-hal lainnya. Tapi, kali ini terasa berbeda.Rapat selesai sekitar jam empat. Aku permisi terlebih dahulu sambil menyalami para petinggi yang memimpin rapat satu persatu, dimulai dari pihak dinas, pengusaha, pengamat lingkungan, dan seterusnya. Ketika melangkah keluar dari convention hall, Tiara kebetulan m

  • Part-Time Husband   Bab 8: Harga Sebuah Rahasia

    Aku terbangun dengan kaget ketika mendengar seseorang berteriak. Aku membuka mata dan melihat sekeliling. Kamar Tiara. Mataku bertemu dengan Tiara yang tak kalah kagetnya juga, lalu melirik hati-hati ke sumber suara."Apa yang kalian lakukan?" Mitha berteriak sambil mengganti pandangan antara aku dan Tiara. "Kalian melakukannya?""Tidak! Kami tidak melakukan apa-apa," jawabku dan Tiara hampir bersamaan. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam. Bagaimana bisa aku seceroboh ini sampai ketiduran di kamar Tiara. Apa mungkin faktor hujan, membuat tubuh memproduksi hormon melatonin lebih banyak, sehingga rasa kantuk lebih cepat menyebar.Aku berusaha menggali ingatan semalam. Memang, kami tidak melakukan apa-apa. Tiara hanya memintaku untuk menemaninya sedikit lebih lama. Berhubung karena masih hujan, jadi apa salahnya menemani gadis itu sampai tertidur."Tidurlah, udah larut. Jaga kesehatanmu. Besok aku kembal

  • Part-Time Husband   Bab 7: Ketika Hujan Jatuh Diam-Diam

    Malam turun bagaikan selubung kelabu, mengganti latar kota dengan titik-titik cahaya di berbagai penjuru. Jalan aspal yang basah, memantulkan cahaya dengan proyeksi berbagai warna, terlihat indah dan romantis. Aku mengancingkan jaket, lalu mengendarai motor menuju rumah Tiara. Udara dingin dan gerimis menerpaku sepanjang jalan. Kalau bukan karena tiga pesan yang dikirim Tiara, lebih baik aku pulang saja.Dua puluh menit kemudian, aku sampai di rumah bergaya victoria itu. Aku enggan masuk. Entah kenapa, seperti berada di tempat yang salah. Aku turun dari motor, lalu berteduh di dekat pos jaga sekuriti. Aku memeras baju yang terasa berat karena basah. Tanpa kusadari, ada seseorang yang berjalan mendekat. Tiara. Ia menatapku selama beberapa saat, lalu meneduhiku yang sudah basah kuyup."Kenapa nggak masuk saja, Don? Pagarnya nggak dikunci. Tadi aku udah beritahu sekuriti kalau kau akan datang." Tiara memberikan handuk tebal bergambar Hello Kitty

  • Part-Time Husband   Bab 6: Tiga Pesan dalam Hujan

    Aku sampai di Pekanbaru sekitar jam sepuluh malam. Aku membereskan barang bawaan, lalu mandi, makan, dan setelah itu langsung menulis laporan penelitian sampai jam dua dini hari. Aku mengecek gawai sebelum tidur, dan Tiara mengirim pesan kalau ia sudah sampai di Pekanbaru. Aku pergi tidur dengan perasaan agak tenang karena ia sudah sampai dengan selamat.Aku bangun sekitar jam tujuh, lalu siap-siap ke kantor untuk mengantar laporan. Setelah itu, aku pulang kembali untuk persiapan rapat besoknya. Pekerjaanku lebih banyak di lapangan, jadi waktu di kantor lebih fleksibel. Aku bisa datang dan pergi kapan saja tanpa terikat jam kerja.Ketika pulang, aku mendapati Tiara sudah ada di rumah. Ia punya kunci rumahku, sehingga ia bisa masuk kapan saja. Aku berjalan menuju ruangan keluarga dan menghempaskan tubuh di sofa. Aku mengabaikan Tiara yang sedang membereskan rumah yang berantakan. Aku tinggal sendiri di rumah ini tanpa ada pembantu yang me

  • Part-Time Husband   Bab 5: Aku Mundur

    Aku menatap hamparan kebun karet dan sawit yang silih berganti sepanjang jalan. Meski telah jauh meninggalkan Tiara, tapi pikiranku masih tetap bersamanya. Apa ia akan baik-baik saja? Apa ia akan kembali dengan selamat? Apa ia sedang menangis atas sikapku? Semua pikiranku masih terpaut segala hal tentangnya. Ingin sekali aku menghilangkan pikiran menyebalkan ini. Namun, tetap saja melekat dan tak bisa hilang.Sebenarnya, jauh dari lubuk hatiku, tidak tega meninggalkannya dan mengatakan hal-hal demikian. Tapi, rasa sakit ini telah membujukku untuk mengatakan. Rasa sakitku ingin melampiaskan kepada orang yang telah memberikannya.Aku mengembuskan napas panjang pada kaca jendela mobil, hingga meninggalkan embun, lalu menatap kepulan debu yang membubung di belakang. Kebun sawit terlihat berbaris rapi sejauh mata memandang. Sepi sekaligus menjebak, seperti labirin. Ke mana mata memandang, yang terlihat hanya tanaman yang seragam dan jalan yang serupa.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status