Mag-log in"Aku tidak memintamu jadi suami ideal atau ayah yang sempurna. Aku hanya memintamu jadi suami paruh waktu. Kamu boleh pergi ke mana saja, boleh melakukan apa saja, dan boleh bersama siapa saja. Namun, ketika kamu pulang, kamu adalah suamiku. Milikku."
view moreRapat kali ini terasa membosankan. Biasanya aku selalu antusias jika membahas penelitian baru. Terlebih lagi ini masalah batubara yang cukup menyita perhatian. Selain maraknya penambangan illegal dan bekas galian lubang tambang yang memakan korban, masalah lingkungan pun menjadi isu yang cukup serius akhir-akhir ini. Entah kenapa, aku tidak begitu minat kali ini.Aku tidak bisa konsentrasi selama rapat berlangsung. Wajah Tiara terbayang terus dalam pikiranku. Apalagi hari ini kencan pertama kami. Padahal, ia hanyalah Tiara—gadis bodoh yang selama ini menjadi sahabatku. Padahal kami sudah sering bertemu, makan bareng, jalan-jalan, dan melakukan hal-hal lainnya. Tapi, kali ini terasa berbeda.Rapat selesai sekitar jam empat. Aku permisi terlebih dahulu sambil menyalami para petinggi yang memimpin rapat satu persatu, dimulai dari pihak dinas, pengusaha, pengamat lingkungan, dan seterusnya. Ketika melangkah keluar dari convention hall, Tiara kebetulan m
Rapat kali ini terasa membosankan. Biasanya aku selalu antusias jika membahas penelitian baru. Terlebih lagi ini masalah batubara yang cukup menyita perhatian. Selain maraknya penambangan illegal dan bekas galian lubang tambang yang memakan korban, masalah lingkungan pun menjadi isu yang cukup serius akhir-akhir ini. Entah kenapa, aku tidak begitu minat kali ini.Aku tidak bisa konsentrasi selama rapat berlangsung. Wajah Tiara terbayang terus dalam pikiranku. Apalagi hari ini kencan pertama kami. Padahal, ia hanyalah Tiara—gadis bodoh yang selama ini menjadi sahabatku. Padahal kami sudah sering bertemu, makan bareng, jalan-jalan, dan melakukan hal-hal lainnya. Tapi, kali ini terasa berbeda.Rapat selesai sekitar jam empat. Aku permisi terlebih dahulu sambil menyalami para petinggi yang memimpin rapat satu persatu, dimulai dari pihak dinas, pengusaha, pengamat lingkungan, dan seterusnya. Ketika melangkah keluar dari convention hall, Tiara kebetulan m
Aku terbangun dengan kaget ketika mendengar seseorang berteriak. Aku membuka mata dan melihat sekeliling. Kamar Tiara. Mataku bertemu dengan Tiara yang tak kalah kagetnya juga, lalu melirik hati-hati ke sumber suara."Apa yang kalian lakukan?" Mitha berteriak sambil mengganti pandangan antara aku dan Tiara. "Kalian melakukannya?""Tidak! Kami tidak melakukan apa-apa," jawabku dan Tiara hampir bersamaan. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam. Bagaimana bisa aku seceroboh ini sampai ketiduran di kamar Tiara. Apa mungkin faktor hujan, membuat tubuh memproduksi hormon melatonin lebih banyak, sehingga rasa kantuk lebih cepat menyebar.Aku berusaha menggali ingatan semalam. Memang, kami tidak melakukan apa-apa. Tiara hanya memintaku untuk menemaninya sedikit lebih lama. Berhubung karena masih hujan, jadi apa salahnya menemani gadis itu sampai tertidur."Tidurlah, udah larut. Jaga kesehatanmu. Besok aku kembal
Malam turun bagaikan selubung kelabu, mengganti latar kota dengan titik-titik cahaya di berbagai penjuru. Jalan aspal yang basah, memantulkan cahaya dengan proyeksi berbagai warna, terlihat indah dan romantis. Aku mengancingkan jaket, lalu mengendarai motor menuju rumah Tiara. Udara dingin dan gerimis menerpaku sepanjang jalan. Kalau bukan karena tiga pesan yang dikirim Tiara, lebih baik aku pulang saja.Dua puluh menit kemudian, aku sampai di rumah bergaya victoria itu. Aku enggan masuk. Entah kenapa, seperti berada di tempat yang salah. Aku turun dari motor, lalu berteduh di dekat pos jaga sekuriti. Aku memeras baju yang terasa berat karena basah. Tanpa kusadari, ada seseorang yang berjalan mendekat. Tiara. Ia menatapku selama beberapa saat, lalu meneduhiku yang sudah basah kuyup."Kenapa nggak masuk saja, Don? Pagarnya nggak dikunci. Tadi aku udah beritahu sekuriti kalau kau akan datang." Tiara memberikan handuk tebal bergambar Hello Kitty