MasukPenerus bisnis, hal itulah yang menjadi alasan kedua orang tua Jingga untuk segera melakukan pertunangan yang hanya akan berjalan tiga bulan sebelum nantinya mereka menikah. Dan kecintaan Jingga terhadap pekerjaannya menjadi kuli tinta membuat dirinya menerima semua itu agar tidak terus direcoki untuk meneruskan bisnis keluarga. Sedangkan Samudra, adalah pria yang selalu menenggelamkan dirinya dalam urusan pekerjaan untuk pelarian dari kenangan masa lalunya. Semua bisnis yang tersentuh oleh tangannya selalu mendapat nilai sempurna dan apresiasi dari keluarga dan rekan bisnisnya. Namun, sebuah rasa yang rumit dengan mengatasnamakan cinta serta ambisi mengharuskan mereka untuk memilih dan berkorban. Lalu … apa serta siapa yang akan di pilih dan dikorbankan?
Lihat lebih banyakSeminggu yang lalu.Gelak tawa saat ini tengah memenuhi ruang tengah di kediaman keluarga Sultan. Kedua sahabat yang sudah lama tidak saling berjumpa, karena kesibukan pada bisnis masing-masing itu, akhirnya bisa meluangkan waktu untuk sekedar makan malam.“Jadi Sat, kamu masih terjun langsung menangani semua bisnismu?” Tanya pria paruh baya yang bernama Prama Wira itu terhadap sahabatnya Abisatya Sultan.“Mau bagaimana lagi, putri sulungku tidak punya jiwa bisnis dan aku juga tidak bisa memaksanya kan? Sedangkan yang bungsu masih duduk di kelas sebelas.” Jelas Satya. “Kau itu yang enak, kedua putramu k
Pria itu, Samudra Nandana Wira, pengusaha sekaligus pewaris tahta dari Wira Group, sudah berkali-kali melirik arloji di pergelangan tangannya. Waktu yang tersisa hanya sekitar dua puluh menit lagi, sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang VIP sebuah restoran, untuk menuju sebuah acara penganugrahan yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Namun hingga saat ini, gadis itu, Jingga Denallie Sultan belum juga menampakkan batang hidungnya.Pria itu, kembali menyandarkan tubuhnya dan mendesah sedikit lelah dengan segala rutinitas tanpa henti yang setiap hari harus ia lakoni. Ia pun melepas jas yang sedari tadi dipakainya, menyampirkannya dengan rapi pada kursi kosong yang terletak di sampingnya. Lengan kemeja putihnya kini sudah ia linting sampai mendekati siku. Jemarinya mengetuk meja tanpa henti hingga suara ha





