Home / All / SORRY, MY HUSBAND / Bab 6 Kunjungan Rahasia

Share

Bab 6 Kunjungan Rahasia

Author: Pupe Maelani
last update publish date: 2020-09-07 12:36:23

Hujan turun dengan lebat membuat jalan-jalan digenangi air cukup tinggi serta menimbulkan kemacetan di beberapa ruas jalan. Rena melajukan mobilnya perlahan dan memasuki kawasan perumahan mewah di kawasan Pluit. Mobilnya perlahan memasuki sebuah pintu gerbang yang kembali tertutup ketika mobilnya masuk seolah pintu itu tak pernah dibuka. Dia menghentikan mobilnya tepat di halaman di mana dua orang pria tengah berdiri di ambang pintu dan menatap kedatangannya. Dimatikannya mesin mobil dan terdiam untuk beberapa saat.

“Aku akan menyelamatkanmu, Pa. Apa pun akan kulakukan demi membebaskanmu dari mereka,” gumam Rena menatap nanar rumah tersebut.

Tangannya membuka pintu mobil dan meraih tas kecil miliknya, lalu berjalan perlahan menuju pintu di mana dua pria tinggi besar menanti kedatangannya tanpa sedikit pun ada senyum di wajahnya.

“Aku mau bertemu Nyonya Tanaya,” ucap Rena dengan suara jelasnya. Pria itu tak menjawab dan bertukar pandang dengan rekannya untuk sesaat.

Tak lama kemudian, salah satu dari pria tersebut melangkahkan kaki dan Rena mengikutinya di belakang, sedangkan pria satunya tetap berjaga di depan rumah. Selama mengikuti langkah lebar pria dengan tubuh besar serta wajah seramnya, Rena hanya menatap sekeliling suasana rumah yang terlihat rapi dan bersih. Sesekali matanya melihat bingkai foto berukuran besar di mana foto pemilik rumah tersebut di gantung, Tanaya.

Tak lama berselang, tibalah Rena di sebuah ruangan dan terlihat sosok pemilik rumah tengah duduk bersantai sambil memegang secangkir teh di tangan dan meneguknya pelan. Rena yang melihat Tanaya duduk dengan santai mendadak hatinya mendidih dalam hati.

“Bisa-bisanya dia duduk santai begitu,” gerutu Rena dalam hati.

“Permisi, Nyonya. Tamu yang anda tunggu sudah datang!” ucap pria itu dengan suara tegasnya.

Tanaya bergeming seolah tak tertarik dengan laporan pria itu dan justru meneguk kembali teh dalam cangkir yang masih dipegangnya. Baik pria itu dan Rena tak bersuara, dalam hati Rena mengutuk tingkah Tanaya yang tak menganggap kehadirannya seolah tuli.

“Kau boleh pergi!” ujar Tanaya akhirnya sambil meletakkan cangkir ke meja.

Pria itu pergi mematuhi perintah majikannya meninggalkan Rena yang masih berdiri seperti patung. Sedetik kemudian, kepala Tanaya menoleh pada Rena yang menatapnya kini. Sekilas senyum tipis terukir di sudut bibir Tanaya melihat boneka mainannya sedang berdiri menunggu untuk dimainkan olehnya.

“Jangan menatapku seperti itu, menantuku tersayang!” kata Tanaya diikuti senyuman mengejeknya.

Rena terhenyak, tapi dengan cepat fokusnya kembali dan menatap benci pada Tanaya yang kini masih duduk santai tanpa menawarkan untuk duduk layaknya seorang tamu.

“Mana Papa?” tanya Rena yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan mertuanya, Evran.

“Hahaha … santailah Rena, untuk apa kau terburu seperti itu, huh?” ujar Tanaya merespon kalimat Rena yang mencemaskan keadaan Evran.

Rena menggenggam ujung gaun miliknya dengan kuat sebagai luapan emosi yang menggelayut hatinya kini. Rena benar-benar tak sabar ingin bertemu dengan Evran karena baru sekali dia melihat dan sekitar seminggu yang lalu, itu pun via video call yang Tanaya lakukan. Di tengah Rena yang sudah tak sabar ingin melihat Evran, tiba-tiba sosok lain muncul sambil berteriak.

“Ma … Mama … tolong berikan aku uang. Minggu depan aku akan pergi liburan bersama temanku!” teriak seorang wanita dengan penampilan yang begitu sexy tak jauh beda dengan Rena, meskipun lebih sexy Rena.

Seketika ucapannya terpotong ketika matanya yang ditempelkan bulu mata panjang nan tebal serta soflens berwarna cerah mendapati sosok yang tak disukainya berdiri mematung.

“Sial. Kenapa dia terlihat cantik dengan penampilan seperti jalang!” gerutu wanita itu dalam hati dan menatap penuh benci.

“Liburan? Mau libur ke mana lagi kamu, Anin?” tanya Tanaya dengan wajah kaget karena ucapan anaknya yang gemar berpesta dan jalan-jalan.

“Dekat, kok, Ma. Libur ke Sydney seminggu. Mau lihat konser Dua Lipa di sana. Di Indonesia tak ada konsernya. Jadi aku mau ke sana saja bersama teman!” sahut Anin merajuk dan duduk di sebelah Tanaya.

“Kamu sudah dewasa, Anin. Usiamu sudah 27 tahun dan sudah tak pantas kau pergi ke acara seperti itu. Harusnya kau mulai disibukkan dengan mencari pria kaya agar hudupmu sejahtera nantinya!” oceh Tanaya memarahi Anin yang tengah cemberut.

“Uang Om Evran tak akan habis tujuh turunan, Ma. Kita tak usah pusing memikirkan hal itu dan nikmati saja!” timpal Anin dengan otak malasnya.

“Mama tak izinkan kamu pergi karena ada pekerjaan yang harus kamu lakukan!” ucap Tanaya tegas dengan mata melotot.

“Tapi, Ma …,” sahut Anin coba membantah.

“Menurut atau Mama bekukan kartu kreditmu!” timpal Tanaya tak ada tawar menawar lagi.

Anin habis kata-kata dan hanya mampu bergumam tak jelas sambil menghentakkan kakinya yang memakai high heels. Matanya kembali menatap Rena yang sejak tadi diam menyimak dan berdiri.

“Dasar wanita sialan kamu. Gara-gara kau, aku selalu kena sial. Tak sabar aku ingin membunuhmu!” cicit Anin menatap Rena tajam seolah ingin mencekiknya saat itu juga.

Rena bergeming. Dia tak perduli dengan ucapa Anin barusan dan lebih tertarik pada Tanaya karena urusan dia adalah dengannya. Sedangkan Tanaya masih melirik Anin dengan raut jengkel karena memiliki anak satu-satunya, tapi pemalas, dan tak bisa dibanggakan.

“Berhenti bergumam, Anin. Lebih baik sekarang kau antarkan boneka ini untuk menemui pria tak berguna itu. Cepat!” ucap Tanaya pada Anin yang menatap jengkel pada ibunya.

“Yaelah, Ma. Dia bisa jalan sendiri. Biarkan saja dia melihatnya dan cukup berikan kunci. Jangan berlebihan karena dia tak akan bisa kabur dengan penjagaan ketat di rumah ini,” sahut Anin menolak dan seolah mengguri.

“ANIN!” teriak Tanaya yang membuat Rena kaget, tapi biasa saja bagi Anin yang sudah terbiasa dan sangat santai mendengar suara ibunya menggelegar. Melirik malas, akhirnya Anin bangun dari duduknya dengan mulut berdecih.

“Ikut gue!” ucap Anin menatap Rena yang memandang aneh karena perilakunya yang selalu membangkang.

Tanpa berkata, Rena mengikuti langkah Anin dan meninggalkan Tanaya yang masih duduk di sofa. Perlahan wajah Tanaya menyunggingkan senyum jahat yang sudah memiliki banyak rencana dan sebentar lagi rencananya akan terlaksana.

“Sebentar lagi akan lebih mudah menguasai harta keluarga William,” gumamnya lirih sambil terkekeh.

Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba di sebuah kamar tak jauh dari dapur. Tangan Anin membuka kunci kamar itu dan membukanya sedikit kasar.

“Cepat masuk!” katanya memerintah dengan wajah ketusnya yang begitu jelas.

Rena tak menjawab, apalagi mengucapkan terima kasih. Tubuhnya sedikit didorong kasar oleh Anin hingga terhuyung dan dengan cepat Anin menutup kembali pintu itu serta menguncinya dari luar sambil terkekeh.

“Selamat temu kangen dengan orang cacat tak guna itu!” cicitnya pelan lalu pergi meninggalkan pintu tanpa sadar jika Maida tengah berdiri di balik dinding dapur.

Di dalam kamar, Rena menatap sekeliling kamar dengan cat berwarna putih dan cukup luas. Matanya menyisir seluruh sudut kamar dan berhenti ketika melihat sebuah ranjang besar di mana sesosok tubuh sedang terbaring.

‘Degg’

Mata Rena membulat dan dengan cepat mendekat pada ranjang. Matanya semakin membulat ketika matanya bertemu pandang dengan sepasang mata yang terbuka lebar dan berkedip.

“PAPA!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SORRY, MY HUSBAND   Bab 7 Pertemuan

    Waktu menunjukkan jam 3 sore. Terdengar sebuah aktifitas tak wajar yang menyapa telinga bagi siapa pun yang melewati kamar tersebut di mana pintunya tak tertutup rapat. Sepasang anak manusia tengah mengais kenikmatan dunia dan sudah berlangsung sejak sejam lalu. Seorang pekerja wanita yang melewati ruangan tersebut mendadak terhenti langkahnya ketika mendengar samar-samar suara desahan yang tak sengaja didengarnya.“Suara apaan itu?” gumamnya yang berdiri seperti patung dengan indra pendengaran yang lebih dipertajam serta kening mengkerut.Tak berapa lama, terdengar erangan semakin kuat dari balik pintu yang terbuka sedikit dan membuat pekerja tersebut sadar apa yang sedang terjadi. Tanpa sadar, tangan kirinya menyentuh area antara dua pahanya, sedangkan ta

  • SORRY, MY HUSBAND   Bab 6 Kunjungan Rahasia

    Hujan turun dengan lebat membuat jalan-jalan digenangi air cukup tinggi serta menimbulkan kemacetan di beberapa ruas jalan. Rena melajukan mobilnya perlahan dan memasuki kawasan perumahan mewah di kawasan Pluit. Mobilnya perlahan memasuki sebuah pintu gerbang yang kembali tertutup ketika mobilnya masuk seolah pintu itu tak pernah dibuka. Dia menghentikan mobilnya tepat di halaman di mana dua orang pria tengah berdiri di ambang pintu dan menatap kedatangannya. Dimatikannya mesin mobil dan terdiam untuk beberapa saat.“Aku akan menyelamatkanmu, Pa. Apa pun akan kulakukan demi membebaskanmu dari mereka,” gumam Rena menatap nanar rumah tersebut.Tangannya membuka pintu mobil dan meraih tas kecil miliknya, lalu berjalan perlahan menuju pintu di mana dua pria tin

  • SORRY, MY HUSBAND   Bab 5 Rahasia Nona Muda

    Rena sudah rapi dengan pakaiannya. Dress sebatas lutut yang membalut tubuh indahnya bak biola dipadukan dengan high heels yang senada. Rambutnya dibiarkan tergerai indah dan sedikit bergelombang. Langkahnya tergesa menuju mobil yang sudah dipanaskan Mang Imun, sopir yang biasanya selalu mengantar ke mana pun dia pergi. Namun, sejak beberapa minggu terakhir, Rena memilih untuk mengemudinya sendiri dan hal itu sudah diketahui oleh Jeff.“Neng, gak Mamang saja yang antar?” tanya Mang Imun menawarkan.“Tak usah, Mang. Saya kemudi sendiri saja. Lagi pula nanti siang Bik Narsih akan belanja bulanan. Jadi nanti tolong temani, ya,” tutur Rena tersenyum.Mang Imun hanya mengangguk

  • SORRY, MY HUSBAND   Bab 4 Masih Hidup

    Di sebuah rumah, seorang pria paruh baya tengah duduk di ranjangnya dengan selimut menutupi sampai pinggang. Terdapat syal putih yang melilit di lehernya. Matanya terbuka lebar karena di depannya tengah duduk seorang wanita berpakaian biasa sedang menyuapinya makan. Pria itu membuka pelan mulutnya ketika makanan yang dikunyahnya habis dan begitu seterusnya hingga makanan di piring sang wanita habis tak tersisa. Diambilnya air dalam gelas yang terletak di nakas dan mendekatkannya pada mulut pria itu yang meminumnya pelan, dikuti beberapa obat yang terus dikonsumsinya hampir satu tahun.“Sudah selesai. Bapak mau nonton tv?” tanya wanita itu pelan dan dibalas kedipan mata oleh pria tersebut.

  • SORRY, MY HUSBAND   Bab 3 Hukuman Malam Hari

    Rena baru saja kembali ke rumah sekitar jam 10 malam. Dia terlihat sumringah sambil membawa beberapa paperbag hasilnya berbelanja hari ini. Langkahnya pasti tanpa dosa memasuki rumah yang tampak sepi. Ketika melewati ruang keluarga, langkah ringannya terhenti karena mendapati sosok Jeff yang tengah duduk sambil menatapnya tajam. Mendapati sosok Jeff yang menatap tak suka, Rena berhenti dan membalas tatapan tajam Jeff tanpa rasa bersalah, apalagi rasa takut.“Sudah pulang rupanya. Kupikir lembur malam ini. Maaf aku pulang telat karena terlalu asik berbelanja dan menggosip dengan teman,” oceh Rena tenang dan melangkah sambil meletakkan barang bawaannya ke meja.Jeff tak bersuara. Dia hanya menatap nyalang pada penampilan Rena yang begitu mencolok dengan gaun

  • SORRY, MY HUSBAND   Bab 2 Perubahan Mendadak

    Jeff duduk sambil memijat pelipisnya. Kesibukan di kantor sudah membuatnya pusing dan kini semakin stress menghadapi tingkah istrinya yang memamerkan kemolekan tubuh di akun instagram miliknya yang belum lama dibuat. Sebelumnya, Rena tak suka dengan hal-hal berbau media sosial. Jangankan instagram, foto saja dia tak suka. Namun kini, ada saja foto yang dia post di akun instagramnya yang sudah memiliki follower satu juta lebih dalam waktu 3 hari karena foto sexy dirinya. Perlu Jeff akui, Rena memang memiliki wajah cantik dan tubuh sexy yang selalu membuat libidonya cepat naik dan tak pernah puas bermandi keringat di ranjang bersamanya. Namun, kemolekan tubuh Rena awalnya hanya dia yang menikmati, kini juga bisa dinikmati oleh mata para hidung belang yang menatapnya penuh nafsu, dan membuatnya meradang.“Apa yang terjadi padamu Rena?&rdqu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status