LOGINPagi itu di kelas Dani, seorang wanita cantik berdiri di depan kelas didampingi oleh Bu Yati sang wali kelas. Semua siswa terheran karena wajah yang berdiri itu sangat asing bagi mereka.
"Anak-anak ini kita ada teman baru yang baru saja pindah dari Kota Bandung. Mulai hari ini dia akan sekolah di sini dan ditempatkan di kelas ini" Bu Yati memecah keheningan dan menjawab semua tanya yang ada di benak pada siswa, termasuk Dani.
Mamanya memanggil dia Mei, kakak dan adik-adiknya memanggilnya Yusi, atau mbak Uchi.
Tapi panggilan sayang dari papanya lah yang membuat gadis itu di panggil Yustika di semua aspek kehidupannya selain di rumah. Anak kedua dari lima bersaudara, hanya abangnya yang tertua dan adiknya yang paling bungsu yang laki-laki, sisanya perempuan semua.
Dani mengenalnya pagi itu, tepatnya pada hari keempat setelah kejadian murungnya Dani.
Pada hari itu, sebagai siswa baru Uchi diwajibkan untuk berkenalan pada seluruh siswa teman di kelasnya.
Dani adalah tipe cowok yang tak mudah jatuh cinta. Sungguh. Bukan dibesar-besarkan atau mencari pembenaran. Saat kelas 1, Dani jatuh cinta pada seorang gadis teman sekelasnya. Namanya Santi, gadis imut (dari tinggi badannya memang imut) dengan spek body yang proporsional, cantik berkacamata, lembut dan cerdas. Saat Dani sadari Dani menyukai Santi, Dani mulai dengan mengenal sosoknya terlebih dahulu. Dani cari tahu dulu bagaimana sifatnya, apa yang dia senangi dan apa yang tidak dia sukai. Ini memakan waktu 3 bulan, sampai akhirnya Dani menyatakan cinta padanya pada saat pulang sekolah.
Santi membutuhkan waktu 24 jam sebelum dia menjawab permintaan Dani menjadikannya kekasih. Santi tidak pernah mengatakan tidak mau saat Dani memintanya jadi pacar.
Dia bilang dia ingin konsentrasi pada pelajaran dulu, gak mau pacaran karena akan mengganggu pelajaran, apalagi Dani sekelas dengan dia. Dani tau Santi memang senang membaca, nongkrongnya di perpustakaan saat istirahat.
Santi memang kurang suka hangout sama teman-temannya, bahkan sekedar nongkrong di kantin saat istirahat, hanya sekedarnya saja. Dani tau apa yang dia sukai dan apa yang dia tidak sukai, tapi Dani tak pernah menyangka jika itu yang dijadikannya alasan tak mau menerima ajakannya untuk pacaran.
Sampai akhir kelas 1, Dani terus berusaha membujuknya agar mau menjadi pacar, menunjukkan seluruh perhatian padanya. Tapi itu semua seakan gak ada pengaruhnya. Santi tetap Santi. Belajar dan belajar. Konsisten dia. Bahkan sampai saat mau menyelesaikan bangku SMU ini, Dani gak pernah mendengar dia pacaran.
Good girl, konsisten. Sebelum ujian kenaikan kelas, Dani menenggelamkan bahtera cinta yang Dani bangun untuk Santi. Cukup. Hampir setahun Dani mengejar Santi dengan kesimpulan : Just wasting time.
Saat kelas 2, Dani kembali jatuh cinta. Pada anak kelas 1 yang baru masuk. Boleh dong ngincer yang masih fresh. Dani jadi panitia orientasi karena keaktifannya di ekskul Pramuka. Masa orientasi benar-benar Dani pakai buat nyari pacar, dan Dani bertemu dengan seorang gadis bernama Winnie.
Yup. Winnie, tanpa spasi dan hanya Winnie tanpa embel-embel lain, panggilannya ya Winnie. Anaknya tinggi, putih, bodynya yahud punya. Kebalikan dengan Santi, Winnie anaknya rame, senang hangout bahkan ngabur dari pelajaran, walau masih menyisakan kemayu khas Jogja yang lembut. Dan dia walau asik diajak hangout, jangan harap bisa sembarangan menyentuhnya.
Kembali 3 bulan Dani pakai buat mengenal siapa Winnie, sampai Dani putuskan untuk nembak dia karena Dani sudah yakin Dani benar-benar suka ama dia. Kembali tak ada penolakan yang Dani terima. Winnie bilang, "Yaahh kamu telat" minggu kemaren Winnie baru nerima Zainal. Ya Zainal sohibnya Dani , dan si Zainal ini bukannya gak tau kalo Dani suka banget ama Winnie.
Kejadian ini membuat Dani meninju si Zainal di parkiran motor, dan Dani sempat bermusuhan dengan Zainal dan Winnie, walaupun akhirnya 4 bulan kemudian mereka putus, Dani udah males buat ngedapatin Winnie. Dan kembali berteman baik dengan Zainal.
Begitulah.
Suatu siang di hari Kamis di pertengahan Juni 2003 entah tanggal berapa Dani pun lupa, Dani sedang duduk disebuah batu di bawah pohon dekat lapangan basket, sambil menikmati pertandingan basket. Saat itu Dani benar-benar sudah lelah, karena sejak tadi Dani ikut bertanding hingga akhirnya memutuskan keluar dari pertandingan.
Segerombolan siswi terlihat dari jauh berbisik-bisik sambil melihat ke arah Dani.
"Ah, pasti mereka berencana memintaku untuk membantuku menyelesaikan tugas matematika dari Bu Yati" ketus Dani dalam hati.
5 orang gadis, yah nilai 5 sampai 6,5 semua lah. Standar.
Agak malas Dani melayani permintaan mereka untuk mengerjakan tugas singkat pada buku yang mereka bawa. Dan selama 10 menit Dani terpaksa mengutak-atik rumus pada buku mereka satu per satu.
Pada saat buku keempat selesai Dani kerjakan, sebuah buku terulur ke arahknya
"Punyaku dong, Dan"
Sebuah suara merdu membuat Dani mengangkat muka, menatap si manusia kurang ajar yang berani-beraninya menyodorkan buku tambahan.
Degh.
Waktu seakan berhenti.
Dani memanfaatkan detik-demi-detik yang berlalu untuk menatap wajah si pemilik buku.
Seorang gadis, sambil menunduk meletakkan lututnya ke tanah di depan Dani yang sedang duduk disebongkah batu, berjongkok menyamakan tingginya dengan Dani.
"Ternyata cantik sekali dia" dalam hati Dani memuji.
Memang ini bukan kali pertama melihat gadis itu, tadi pagipun dia melihat gadis itu berdiri di depan kelas, tapi entah kenapa waktu itu Dani kurang tertarik untuk memperhatikannya hingga saat ini dia berada tepat di depan matanya.
Sebelum sampai tangan Dani menyambut buku yang disodorkannya, Dani menyadari bahwa dirinya seakan jatuh cinta.
Jatuh yang teramat dalam, seakan membuat jatuh cinta yang sebelumnya terasa tak ada artinya.
Antara Dani, dan gadis itu, ada sebuah jurang yang teramat dalam.
Dan Dani terjatuh ke dalamnya, dengan penuh bahagia.
Dani yang sedang jatuh cinta.
Pada gadis baru yang membawa buku untuk minta mengerjakan tugas. Tangan Dani menyambut bukunya, sambil menatap dalam ke arah matanya.
"Duh, dia berani membalas tatapanku, dasar anak baru".
Hampir tiga menit Dani memegang buku itu tanpa mengambil darinya. Hampir tiga menit Dani menatap dalam ke matanya. Dua tangan, satu buku, dan dua pasang mata yang saling menatap.
Pagi itu di kelas Dani, seorang wanita cantik berdiri di depan kelas didampingi oleh Bu Yati sang wali kelas. Semua siswa terheran karena wajah yang berdiri itu sangat asing bagi mereka."Anak-anak ini kita ada teman baru yang baru saja pindah dari Kota Bandung. Mulai hari ini dia akan sekolah di sini dan ditempatkan di kelas ini" Bu Yati memecah keheningan dan menjawab semua tanya yang ada di benak pada siswa, termasuk Dani.Mamanya memanggil dia Mei, kakak dan adik-adiknya memanggilnya Yusi, atau mbak Uchi.Tapi panggilan sayang dari papanya lah yang membuat gadis itu di panggil Yustika di semua aspek kehidupannya selain di rumah. Anak kedua dari lima bersaudara, hanya abangnya yang tertua dan adiknya yang paling bungsu yang laki-laki, sisanya perempuan semua.Dani mengenalnya pagi itu, tepatnya pada hari keempat setelah kejadian murungnya Dani.Pada hari itu, sebagai siswa baru Uchi diwajibkan untuk berkenalan pada seluruh siswa teman di kelasny
"Dani tunggu !!!" dari kejauhan Zainal teriak sambil berlari menghampiri Dani yang saat itu jalan sambil menunduk lesu."Iya cepetan!" Jawaban Dani yang kelihatannya malas menanggapi teriakan sahabatnya itu. Entah mengapa hari itu Dani sepertinya tidak semangat di kelas. Berkali-kali ia menjawab pertanyaan Pak Kusnadi dengan jawaban yang salah, padahal Dani itu anak yang pandai dan Pak Kusnadi sangat menyukainya karena selain pandai dia juga pemalu, dan sopan. Tapi entahlah hari itu Dani sepertinya kurang bergairah."Lu gimana sih gue bilangin tunggu malah jalan terus" ketus Zainal saat dia berhasil menyusul Dani."Hhhmm..." hanya itu yang keluar dari bibir Dani."Dan lu kenapa sih hari ini kusut banget?""Kusut emangnya gue jemuran yang belum di setrika""Ya habis keliatannya gak bernyawa gitu, dikelas ngelamun, jalan juga kayak kuntilanak, nyelonong gak tengok kiri Kanan" cerocos Zainal sambil menggandeng Dani.Zainal memang s