Masuk
"Dani tunggu !!!" dari kejauhan Zainal teriak sambil berlari menghampiri Dani yang saat itu jalan sambil menunduk lesu.
"Iya cepetan!" Jawaban Dani yang kelihatannya malas menanggapi teriakan sahabatnya itu. Entah mengapa hari itu Dani sepertinya tidak semangat di kelas. Berkali-kali ia menjawab pertanyaan Pak Kusnadi dengan jawaban yang salah, padahal Dani itu anak yang pandai dan Pak Kusnadi sangat menyukainya karena selain pandai dia juga pemalu, dan sopan. Tapi entahlah hari itu Dani sepertinya kurang bergairah.
"Lu gimana sih gue bilangin tunggu malah jalan terus" ketus Zainal saat dia berhasil menyusul Dani.
"Hhhmm..." hanya itu yang keluar dari bibir Dani.
"Dan lu kenapa sih hari ini kusut banget?"
"Kusut emangnya gue jemuran yang belum di setrika"
"Ya habis keliatannya gak bernyawa gitu, dikelas ngelamun, jalan juga kayak kuntilanak, nyelonong gak tengok kiri Kanan" cerocos Zainal sambil menggandeng Dani.
Zainal memang sahabat Dani. Dari Hari pertama masuk sekolah Zainal dan Dani langsung berteman baik hingga sekarang mereka memasuki semester akhir kelas 3 sekolah menengah atas. Keduanya berasal dari latar belakang keluarga berbeda, Zainal berasal dari keluarga terpandang sedangkan Dani berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Zainal yang merupakan anak keluarga berada selalu berpenampilan rapi, gaul, dan terawat sedangkan Dani meskipun memiliki paras yang tampan tapi kesederhanaan tetap melekat pada dirinya maklum saja dia berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi yang pas-pasan.
Dani yang pandai dan Zainal yang mudah bergaul adalah kombinasi yang cocok, ditambah keduanya berparas menarik dengan ciri khas masing-masing. Dani yang bergaya rambut lurus belah dua di tengah dan mata yang sayu, sedangkan Zainal bergaya rambut pendek agak kriting dengan bibir seksi kemerahan. Sepasang sahabat inilah yang menjadi perhatian para cewek di sekolah. Tapi meskipun begitu Zainal lah yang paling populer di kalangan para cewek, ini karena Zainal yang mudah dan enak bergaul berbeda dengan Dani yang pemalu. Jika dihitung di semester ini saja Zainal sudah 2 kali berganti pacar, tapi sebaliknya Dani sudah 2 wanita yang bertepuk sebelah tangan.
"Dan tadi gw ketemu si Rosy anak kelas B, dia nitip salam ke lu"
"Mana salam nya?" Dani balik bertanya
"Nih, Assalamualaikum Dani" Zainal menimpali pertanyaan sahabatnya itu
"Koq kurang titipannya? Ingat loh titipan itu amanah, jangan dikorupsi" Dani mendadak berhenti dan menghadap ke Zainal
"Yeyyyy kurang gimana??? Orang dia cuma nitip salam bukan nitip makanan" protes Zainal sambil berjalan mendahului Dani
"Ya...kan kalau si Rosy itu suka kecentilan pasti nitipnya juga sambil centil, koq lu nyampeinnya biasa aja. Jadi ada yang kurang dong" Jelas Dani sambil bergegas menyusul Zainal
"Haduhhhhh.....iya deh nih Assalamualaikum Dani ganteng........" Zainal mengulangi perkataan Rosy sambil berlagak centil layaknya Rosy
"Ih amit-amit lu kayak bencong nal" jawab Dani sambil berlari menjauh
"Dasar lu Dani......" Teriak Zainal sambil melemparkan tas sekolah ya ke Dani sambil berlari mengejar.
Cukup jauh mereka berlari, hingga tak terasa sampailah mereka di sebuah warung tempat mereka biasa nongkrong sepulang sekolah.
"Udah ah Nal gue capek" kata Dani sambil duduk pada bangku yang ada di warung itu.
"Mbak, es teh manis satu" lanjut Dani memesan minuman pada penjaga warung.
"Eh dua mbak...." timpal Zainal
"Siap mas teng...." penjaga warung menjawab mereka
"Koq mas teng mbak? memangnya saya Ateng....?" ketus Zainal pada penjaga warung
"Hehe, ndak...mas teng itu artinya mas ganteng..." jelas si penjaga warung.
Memang penjaga warung ini sudah akrab dengan mereka berdua. Janda satu anak yang diketahui namanya Ratni ini selalu ramah terhadap para pelanggan warung makannya tak terkecuali pada Dani dan Zainal. Bahkan seringkali Zainal menggodanya.
"Nggak makan nih mas? mbak bikinin masakan kesukaan kalian lho...." lanjut mbak Ratni
"Wah masak apa emangnya mbak?" tanya Zainal
"Semur jengkol....haha" mbak Ratni menjawab sambil tertawa lebar
"Idiiiihhh ogah ah ntar aku bau jengkol dong mbak, cewek saya bisa kabur ntar" sambung Zainal
"Nal motor lu dimana?" Dani tiba-tiba bertanya pada Zainal
"Motor gue di bengkel kemarin dipakai balapan rem nya habis" jawab Zainal sambil minum es teh manis yang disuguhkan mbak Ratni.
"Ohhhh...yahhh tadinya gue mau nebeng pulang sama lu" lanjut Dani
"Sorry hari ini gak bisa Dan, kayaknya kelar ntar jam 3 deh. Nih gue juga habis minum mau ke bengkel liatin motor gue dah kelar apa belum. Sekarang masih jam 2 an ntar lu kelamaan nunggu" lanjut Zainal
"Oh ya udah gak apa-apa" balas Dani
"Eh Dan lu belum jawab pertanyaan gue tadi, lu hari ini kenapa koq kayak gini?" lanjut Zainal dengan wajah yang penuh tanya.
"Kayak gini gimana?" sambung Dani
"Kayak gini, kayak gini, kayak gini" kata Zainal sambil memperagakan wajah risau Dani tadi.
"Hmmm iya Nal, maaf ya. Hari ini gue kurang semangat karena kemarin dapat kabar ayah kena PHK. Kalau ayah gak kerja gue bingung Nal ntar apa bisa gue masuk ke univeritas. Mana akhir pendaftaran masuk kuliah sebentar lagi" Dani mulai bercerita
"Ah yang begitu dipikirin masih jauh kali masuk kuliah. Masih 3 bulan lagi lu baru lulus sekolah, santai aja ntar juga ada jalannya" timpal Zainal
"Yeyy elu yang enak mau masuk ke universitas mana aja lu mah gampang, banyak uang. Kalau gue musti mikir darimana dapet uang buat masuk kuliah, paling tidak buat pendaftaran dan biaya semester pertama. Kalau buat kebutuhan harian pas kuliah gue masih bisa sambil kerja. Apa gue gak usah kuliah aja ya? ah pusing" sambung Dani
"Jangan Dan, lu harus kuliah bagaimana pun caranya !" Zainal menyemangati Dani seolah-olah tak ingin melihat sahabatnya sedih dan bingung.
"Iya Nal tapi kayaknya gak mungkin, kemarin aja ibu udah jual perhiasannya untuk bekal makan kita sekeluarga selama sebulan ini. Gue gak tega nambahin beban orang tua" lanjut Dani dengan nada pilu.
"Sabar dan banyak berdoa Dan, pasti aja jalan !" sambung Zainal.
"Oke deh Nal, makasih udah mau dengerin gue. Dah sore nih gue pulang duluan ya, tuh mumpung ada angkot lagi ngetem. Mbak, es tehnya dibayarin temen saya ya...." lanjut Dani sembari berlari menuju angkot yang ngetem.
"Eh sialan lu Dan, maen tinggal aja" ketus Zainal.
"Mas ganteng udah mau pulang ya? Mau bayar atau mau ngutang nih?" mbak Ratni mengagetkan Zainal dari belakang.
"Ehh hehe....iya mbak. Boleh nambah ngutang dulu ya...hehe" timpal Zainal agak malu.
"Hemmmm mas ganteng ini ngutang mulu, untung masnya ganteng kalau nggak mbak gak bakalan kasih ngutang".
"Hehe mbak Ratni memang baik dan cantik. Aku janji besok ya dibayar, soalnya uangku sekarang mau dipakai bayar bengkel dulu mbak" rayu Zainal.
"Iya mas ganteng..." timpal mbak Ratni sambil mengedipkan mata kirinya ke arah Zainal.
Di dalam angkot Dani duduk di pojokan, pandangannya tertuju ke luar jendela dengan tatapan yang kosong memikirkan nasibnya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Besar harapan dan keinginan untuk dapat kuliah di univetsitas negeri yang ia banggakan, tapi kenyataan saat ini kondisi ekonomi keluarga yang sangat berat. Jika bulan lalu setiap malam menjelang tidur Dani selalu membayangkan bagaimana rasanya masuk kuliah, tapi sekarang melihat iklan penerimaan mahasiswa baru saja Dani tak berani membacanya.
Sepanjang perjalanan Dani hanya diam. Sesekali menyeka air mata yang tak terasa menetes lembut di pipinya. Terlihat juga sesekali ia menghela nafas yang sepertinya terasa berat.
"Ikhlaskan.....ikhlaskan.....ikhlaskan" kata-kata itu yang ia coba bisikan pada hatinya, berusaha menenangkan hati.
Pagi itu di kelas Dani, seorang wanita cantik berdiri di depan kelas didampingi oleh Bu Yati sang wali kelas. Semua siswa terheran karena wajah yang berdiri itu sangat asing bagi mereka."Anak-anak ini kita ada teman baru yang baru saja pindah dari Kota Bandung. Mulai hari ini dia akan sekolah di sini dan ditempatkan di kelas ini" Bu Yati memecah keheningan dan menjawab semua tanya yang ada di benak pada siswa, termasuk Dani.Mamanya memanggil dia Mei, kakak dan adik-adiknya memanggilnya Yusi, atau mbak Uchi.Tapi panggilan sayang dari papanya lah yang membuat gadis itu di panggil Yustika di semua aspek kehidupannya selain di rumah. Anak kedua dari lima bersaudara, hanya abangnya yang tertua dan adiknya yang paling bungsu yang laki-laki, sisanya perempuan semua.Dani mengenalnya pagi itu, tepatnya pada hari keempat setelah kejadian murungnya Dani.Pada hari itu, sebagai siswa baru Uchi diwajibkan untuk berkenalan pada seluruh siswa teman di kelasny
"Dani tunggu !!!" dari kejauhan Zainal teriak sambil berlari menghampiri Dani yang saat itu jalan sambil menunduk lesu."Iya cepetan!" Jawaban Dani yang kelihatannya malas menanggapi teriakan sahabatnya itu. Entah mengapa hari itu Dani sepertinya tidak semangat di kelas. Berkali-kali ia menjawab pertanyaan Pak Kusnadi dengan jawaban yang salah, padahal Dani itu anak yang pandai dan Pak Kusnadi sangat menyukainya karena selain pandai dia juga pemalu, dan sopan. Tapi entahlah hari itu Dani sepertinya kurang bergairah."Lu gimana sih gue bilangin tunggu malah jalan terus" ketus Zainal saat dia berhasil menyusul Dani."Hhhmm..." hanya itu yang keluar dari bibir Dani."Dan lu kenapa sih hari ini kusut banget?""Kusut emangnya gue jemuran yang belum di setrika""Ya habis keliatannya gak bernyawa gitu, dikelas ngelamun, jalan juga kayak kuntilanak, nyelonong gak tengok kiri Kanan" cerocos Zainal sambil menggandeng Dani.Zainal memang s