LOGINBerawal dari kecelakaan di malam purnama yang menewaskan kedua orang tua dan kakak Serena. Saat itu Serena yang masih berusia 4 tahun selamat dari kecelakaan naas tersebut. Semenjak itu dia hidup bersama dengan tanten Wijaya. Sebagai satu-satunya adik dari ibu Serena mempunyai kewajiban untuk menjaga dan merawatnya. Tetapi karena kecelakaan itu Serena menjalani hidup dengan penuh rasa kesedihan dan penyesalan. Kejadian yang terus dia ingat sampai berusia 15 tahun. Setelah itu dia sudah mulai bersahabat dengan kenangan itu. Memulai kehidupan yang normal sesuai dengan usianya. Namun ketika dia berusia 17 tahun dia merasakan keanehan pada tubuhnya. Keanehan yang Serena alami membuat dia menemukan rahasia keluarganya. Ini akan menjadi awal petualangan Serena. Tetapi dia tidak sendirian. Serena akan ditemani oleh seorang pelindung. Siapa kah dia? Apakah Serena mampu memecahkan masalah rahasia keluarganya?. Terus baca novel ini ya. Jika ada kesamaan nama atau tempat kejadian itu hanya kebetulan semata. Cerita ini hanya fiksi untuk mencurahkan imajinasi saya.
View MoreMalam itu adalah malam purnama yang tak akan pernah aku lupakan. Malam dimana terjadinya kecelakaan yang merenggut seluruh keluargaku. Saat itu kami meninggalkan rumah dengan sangat terburu-buru. Ibuku membangunkan aku dan kakaku yang sedang tidur di dalam kamar. Dia masuk ke dalam kamar dan membuka pintu dengan cukup keras yang menimbulkan suara decitan pintu. Kakakku yang berusia 7 tahun lebih mudah dibangunkan dibandingkan denganku. Aku yang berumur 4 tahun sangat sulit untuk dibangunkan sehingga ibuku yang langsung menggendongku. Dia berjalan menuruni tangga rumah kami dengan sedikit berlari. Sesekali dia memerintahkan kakakku untuk berjalan lebih cepat. Aku yang digendong oleh ibuku pun terbangun karena guncangan dan suaranya. Ketika kami sudah berada didepan pintu rumah terdengar suara mobil. Suara itu tak lain adalah suara mobil kami yang dikemudikan oleh ayahku. Mereka langsung bergegas pergi ke arah mobil. Ibuku membukakan pintu tengah untuk meletakkan ku duduk di bangku mobil sebelah kanan dan kakakku duduk di sisi kiri tepat di sebelahku sedangkan ibuku duduk di bangku depan sebelah ayahku. Setelah kami semua masuk kedalam mobil. Ayahku menancapkan gas pada mobilnya.
Mobil pun berjalan meninggalkan rumah yang sudah ditempati selama 7 tahun. Kami melewati jalanan kampung yang banyak rumah penduduk ditepi jalan. Aku melihat masih ada masyarakat yang terjaga pada malam itu. Ada yang bercengkrama dengan keluarga dan kerabatnya. Ada pula seorang bapak tua yang hanya duduk diteras rumah sambil menghisap sepuntung rokok. Mereka seperti menikmati malam itu. Malam yang dingin dan bulan pun terlihat terang karena purnama.
Pemandangan ini berubah ketika mobil kami mulai memasuki jalan tol. Pepohonan yang tinggi memenuhi tepi jalan tol. Lampu jalanan menjadi penerang jalan kami. Begitu banyak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi seolah mereka sedang dikejar oleh para koloni Belanda. Ayahku mengubah kecepatannya menjadi lebih cepat dari sebelumnya sama dengan mobil yang lain. Bahkan dia pun mengubah cara berkendaranya. Dia selalu menyalip mobil yang berada didepan, sehingga membuat kami sedikit terguncang. Ibu ku hanya terdiam sesekali melirik kearah ayah untuk memberi tanda lebih berhati-hati. Ayahku yang fokus menyetir hanya membalas dengan melirik ibu dan menganggukan kepalanya. Setelah itu ayah kembali melihat kearah depan dan fokus dengan jalanan.
Selama perjalanan kakak ku terus menggenggam tanganku. Tangannya yang berkeringat menandakan kalau dia sebenarnya ketakutan dengan cara ayah menyetir. Tetapi seperti biasa dia selalu menutupi apa yang dia rasakan untuk terlihat keren di depanku. Dia selalu melindungi ku dari siapa pun yang berniat buruk. Dia bagaikan malaikat pelindung untuk ku. Aku selalu merasa tenang jika berada didekatnya. Kami tidak pernah bertengkar saat bermain bersama. Dia selalu mengalah untuk ku. Itu karena ibu ku selalu mengajarkan pada kakak ku untuk saling melindungi. Dimulai dari hal yang terkecil yaitu mengalah. Ketika mobil kami terguncang dia selalu memastikan keadaanku dengan melihat kearah ku. Tatapan yang sangat khawatir berubah saat dia mengetahui keadaanku baik-baik saja. Dia kembali melihat kearah jendela begitu juga dengan ku. Aku melihat pepohonan yang berbaris disepanjang jalan tol. Terkadang ada perasaan takut ketika melihat pohon yang menjulang tinggi dan gelap. Seakan pohon itu sedang menatap ku dan akan mengejar mobil kami. Mata ku dengan cepat mengalihkan pandangan ke sisi yang lain. Supaya aku tidak lagi ketakutan. Aku pun mencoba menghitung jumlah pepohonan yang ada di pinggir jalan tol itu untuk menghilangkan rasa takut dan bosan. Tetapi hitungan ku hanya bisa 1 sampai 10 saja. Jika sudah masuk dalam hitungan 10 maka aku akan mengulang lagi ke angka 1.
Ketika aku sedang asik berhitung tepat diangka 7 tiba-tiba ayahku membanting setirnya ke jalur lambat membuat aku terlempar dari mobil. Naas nya didepan mobil kami terdapat truk pembawa kayu yang sedang memperlambat lajunya. Kecelakaan pun tak terhindarkan ayah, ibu dan kakak ku yang tetap di dalam mobil meninggal ditempat karena tertusuk ujung kayu yang dibawa oleh truk tersebut. Aku sempat melihat keadaan mereka yang penuh darah saat tergeletak tak berdaya di aspal. Namun itu hanya beberapa detik kemudian aku pingsan karena benturan yang sangat keras di kepala ku.
Saat aku terbangun, aku sudah berada di rumah sakit dan ditemani oleh tante ku yaitu tante Wijaya. Dia adalah satu-satunya adik dari ibu ku. Tante yang melihat ku tersadar langsung mendekat dan memanggil nama ku. Dengan wajah yang sangat khawatir dia memegang kedua pundak ku.
"Serena kamu sudah sadar alhamdullilah gusti Allah." Kata tante ku sambil menggenggam tangan ku.
"Tante..." Kata ku.
"Tante mama sama papa mana? Kak Dimas juga kemana?" Tanya ku sambil melihat di sekeliling ruangan. Namun aku tidak melihat mereka. Tante ku yang terdiam membuat aku mengingat kecelakaan itu. Dimana ayah, ibu dan kakak ku yang meninggal penuh darah didalam mobil. Namun saat itu aku tidak memahami situasi ini. Aku mengira mereka masih didalam mobil.
"Papa, Mama sama kak Dimas didalam mobil Tante. Serena mau ke mobil mau sama Mama." Kata ku.
"Sabar ya nak sekarang ada tante. Tante akan selalu menjaga mu seperti anak tante sendiri." Kata tanteku yang langsung memeluk ku sambil menangis. Aku pun membalas pelukannya walaupun aku tetap tidak memahami situasi ini. Pelukan ini terjadi beberapa menit sampai akhirnya tante ku melepaskan pelukannya. Dia menghapus air matanya dan menatap ku dengan penuh khawatir.
"Serena kamu baik-baik saja nak? Apa masih ada yang sakit?" Tanya Tante ku dengan menatap lekat mata ku.
"Aku baik-baik saja tante. Aku tidak merasakan sakit." Jawab ku yang membuat tante ku berubah ekspresi lebih tenang.
"Alhamdulillah kalau gitu. Tapi tante panggil dokter dulu untuk memastikan kondisi mu. Kamu tunggu disini ya nak." Kata nya sambil mengusapkan rambut ku dengan lembut.
"Baik tante." Kata ku dengan tersenyum pada nya. Lalu dia berjalan keluar dari ruangan ku untuk memanggil dokter ataupun perawat di luar. Tante ku memang sangat menyayangi anak dari ibu ku. Sejak dulu dia selalu membelikan sesuatu untuk ku dan kakak ku. Jika ibu ku pergi dia yang akan menggantikan menjaga kami. Walaupun dia masih lajang dan bahkan belum punya pacar tetapi dia merawat kami dengan penuh kesabaran. Kesabaran yang hanya di miliki oleh seorang ibu.
Didalam ruangan rawat, aku hanya menunggu tante ku yang sedang memanggil dokter. Selama aku menunggu, aku menatap sinar lampu yang ada diruangan itu. Aku pun melihat di sekeliling ruangan untuk menemukan kakak ku. Aku mencoba memanggil namanya namun tidak ada balasan. Kesunyian didalam ruangan itu membuat ku mengingat kejadian dimalam itu. Aku tidak mengerti kenapa saat ini aku tidak berada di mobil bersama mereka? Kenapa aku berada di ruangan ini. Dalam pikiran ku terus berkecamuk. Bertanya dimana ayah,ibu dan kakak ku sekarang.
Lalu tiba-tiba pintu pun terbuka, tante ku datang bersama seorang laki-laki berpakaian jas putih sepinggang dan celana bahan berwana hitam. Lelaki itu memiliki postur yang tinggi namun sedikit gemuk. Wajahnya yang lumayan tampan membuat ku tidak takut melihatnya. Dia berjalan mendekati ku lalu berdiri tepat di samping ku. Terlihat kulitnya yang putih dan bersih sangat terawat. Sedangkan tante berdiri tepat di samping lelaki itu.
"Halo Serena, saya dokter Dani bagaimana keadaan kamu sekarang?" Tanya dokter itu pada ku.
"Baik dok." Jawab ku.
"Apa kamu merasakan pusing atau sakit dikepala?" Tanya nya sambil mengambil testoskop di dalam jas putih lalu meletakkannya di dada ku. Dia terlihat sangat serius dalam memeriksa ku. Walaupun dia terus bertanya pada ku tetapi dia tetap fokus dengan tugasnya. Dia mengerutkan dahinya ketika sedanh mendengar detak jantung ku.
"Tidak dok." Jawab ku. Dia mengambil senter kecil dari dalam jasnya. Senter itu dia nyalakan lalu diarahkan ke mata ku.
"Serena ikuti arah lampu senter ini ya." Katanya sambil menggerakan tangan ke kiri dan ke kanan secara perlahan. Aku pun mengikuti apa yang dia perintahkan.
" Oke bagus sekali Serena kamu memang anak yang pintar." Kata nya sambil mematikan lampu senter dan tersenyum pada ku. Aku pun tersenyum bangga karena perkataan dokter itu. Setelah dia memeriksakan kondisi ku. Dia mengajak tante ku untuk membicarakan keadaan ku.
"Bisa kita bicara tentang kondisi Serena Bu." Kata dokter itu sambil memberikan kode untuk tidak berbicara didekat ku dengan mengayunkan tangannya. Tante ku pun memahami maksud dokter tersebut.
"Oh baik dok bisa." Jawab tante ku.
"Serena sebentar ya tante mau bicara sama dokter dulu." Kata tante ku sambil menatap ku.
" Oke tante." Jawab ku sambil tersenyum padanya.
Dokter itu pun bergerak menjauh dari posisi kasur yang di ikuti oleh tante ku. Mereka sekarang berada di depan kasur ku dan membicarakan bagaimana kondisi ku. Aku samar-samar mendengar mereka berbicara tentang ku.
"Anak ini tidak mengalami cidera yang parah akibat dari benturan kecelakaan. Dia hanya mengalami syok karena kejadian yang dia alami." Kata dokter itu yang sedang menjelaskan kondisi ku kepada tante.
"Tapi dia terlempar jauh dan membentur aspal dok. Apa benar-benar tidak ada masalah yang serius dengan Serena?" Tanya tante ku seolah tidak mempercayai perkataan sang dokter.
"Yah memang suatu keajaiban Serene tidak mengalami cidera. Tetapi kita masih harus mengobservasi keadaannya di 5 hari ke depan. Untuk itu Serena harus tetap di rawat dan ibu harus sering menjaganya. Jangan pernah meninggalkan pasien sendirian." Kata dokter itu.
"Baik dok. Kalau itu yang terbaik untuk Serena saya pasti akan lakukan." Jawab tante ku sambil melihat kearah ku.
"Kalau gitu saya pamit ingin memeriksa pasien yang lain." Kata dokter itu sambil melangkah pergi menuju pintu ruangan. Disusul oleh tante ku yang mengantarkan dokter itu ke depan pintu.
"Ya baik dok silahkan. Terimakasih banyak ya dok." Kata tante ku dengan tersenyum pada dokter itu. Dia pun membalas senyuman tante ku.
"Ya sama-sama." Jawab dokter itu lalu berjalan meninggalkan tante ku yang masih berdiri didepan pintu. Tak berapa lama pintu pun terbuka tante ku yang tadi mengantarkan dokter itu sudah masuk kedalam ruangan. Wajahnya yang terlihat lebih tenang menghampiri ku. Kini aku melihat tante ku yang benar-benar sangat cantik mirip dengan ibu ku. Dia berjalan mendekati ku dengan senyumannya yang sangat lembut.
"Serena kamu istirahat saja ya. Sini tante temenin." Kata tante ku sambil mengelus-elus rambut ku seperti seekor anak kucing.
"Hmm iya tante." Jawab ku yang sangat mengantuk karena pengaruh obat yang diberikan dokter. Aku pun tertidur pulas.
Keesokan harinya, Aku terbangun di pagi hari pukul 6 karena jadwal pemeriksaan tekanan darah (tensi). Dua orang perawat masuk kedalam ruangan ku. Mereka membawa meja dorong yang berisi infus, kotak tensi dan buku-buku catatan medis pasien. Salah satu perawat menghampiri ku dengan membawa kotak tensi dan buku catatannya.
"Adek Serena ditensi dulu ya." Kata perawat itu dengan senyuman yang ramah. Aku yang masih merasa mengantuk hanya mampu menganggukan kepala dengan lemah. Perawat itu langsung membuka kontak tensi yang dia bawa dan mengambil isi kotak tersebut. Lalu dia melilitkannya ke tangan ku. Aku yang sudah sadar sepenuhnya mencari keberadaan tante ku. Aku melihat ke sekeliling ruangan itu tapi tidak menemukan tante ku. Perawat itu tetap sibuk walaupun dia melihat aku yang sedang mencari sesuatu. Tak beberapa lama tante ku datang dengan sekantong obat lalu diberikannya kepada perawat itu. Dia langsung menggatikan tabung infus ku yang sudah hampir habis dengan yang berisi penuh. Perawat itu juga memberikan beberapa butir obat kapada tante ku. Setelah semua tugasnya selesai dia pun pergi dengan tersenyum padaku. Tante ku duduk tepat di samping ku sambil memijat tangan ku.
"Tante aku mau pulang. Aku mau ketemu mama, papa sama kak Dimas." Kata ku dengan wajah memohon.
"Iya nak sabar ya kamu harus di sini dulu biar sembuh." Kata tante ku dengan tersenyum lembut. Senyumannya membuat ku tenang. Senyuman yang terlihat sangat cantik di wajah tante ku. Aku pun mengikuti apa yang tante ku katakan.
5 hari kemudian.
Hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu. Dokter telah mengizinkan ku untuk pulang. Akhirnya aku bisa merasakan hangatnya sinar matahari dan dinginnya hembusan angin malam yang sudah lama aku rindukan. Dan terlebih lagi aku sangat merindukan kak Dimas. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.
Aku dan tante ku yang sudah selesai membereskan barang-barang yang kami bawa berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Kami menunggu supir tante ku yang membawa mobil sedan berwarna hitam. Setelah menunggu sedikit lama akhirnya mobil itu datang. Kami pun langsung berjalan ke mobil. Tante ku duduk ditengah bersama dengan ku. Selama perjalanan aku hanya asik bermain dengan boneka kelinci yang berwarna pink. Tiba-tiba mobil pun berhenti aku yang sangat bersemangat saat itu langsung melihat ke arah jendela. Namun aku tidak melihat rumah kami. Hanya lahan kosong yang banyak gundukan tanah. Disetiap gundukan diberi batu nisan dengan tulisan tertentu. Tante ku yang membuka pintu mobil membuat ku sedikit terkejut. Aku melihat dia turun dan mengajakku untuk ikut turun dengannya. Aku pun mengikutinya turun dari mobil. Kami berjalan di sela-sela gundukan tanah. Tangan ku yang dipegangi oleh tante ku membuat kami berjalan berdampingan. Tak lama kemudian tante ku menghentikan jalannya. Sekarang kami berada didepan 3 gundukan tanah. Tante ku langsung berjongkok disalah satu gundukan itu. Dia menangis dan menyentuh kayu yang tertulis sesuatu dengan sangat lembut.
" Kak ini aku datang bersama anak mu. Aku janji akan selalu menjaganya. Kamu disana yang tenang ya." Kata tante ku sambil terus menangis. Lalu dia membuka buku yang sedari tadi dia bawa. Dia membacanya dengan suara yang pelan.
Setelah selesai dia membaca buku itu. Tante ku berpamitan dan membawa ku pergi dari tempat itu. Aku yang tidak mengerti situasi ini hanya terdiam dan mengikuti kemana tante ku pergi. Kami pun kembali ke mobil dan meninggalkan tempat itu kembali kerumah. Sesampainya dirumah aku tidak menemukan kakak ku. Aku menanyakannya ke tante ku tetapi dia hanya memeluk ku. Lalu mengajak ku bermain bersama. Saat itu aku sangat senang bermain dengan tante ku. Itu membuat aku lupa akan keberadaan ayah, ibu dan kakak ku.
Selama 1 tahun aku tidak menyadari apa yang telah aku alami. Namun berjalannya waktu aku menyadari bahwa aku sudah kehilangan orang-orang yang berharga dalam hidup ku. Selama Aku bertambah umur aku terus bertanya mengapa mereka meninggalkan aku sendirian di dunia ini? Apa salah ku sampai mereka meninggalkan ku? tapi tak satu pun pertanyaan itu terjawab. Aku hanya bisa terus bertanya tanpa adanya jawaban.
Ingatan malam itu membuat aku menderita. Terlebih saat aku sudah semakin paham dengan keadaan ku. Ketika malam datang semua itu terulang kembali. Setiap tatapan dan darah yang aku lihat masih tergambar jelas di mimpiku seolah sedang terjadi. Jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam dimana suara teriakan dan tangisan menemani malam ku. Suara detakan jam dinding menjadi pengiring rasa ketakutan dan kesedihan ku. Bagiku malam adalah waktu penderitaan ku. Aku sadar bahwa aku harus bisa melepas kepergian mereka. Tetapi entah mengapa semua itu sulit untuk aku lupakan. Tanteku yang selalu memberikan nasehat-nasehatnya ketika aku mulai mengingat kejadian itu. Sesekali aku dibawa olehnya ke psikiater untuk memastikan kondisi mentalku. Hingga pada usia 15 tahun akhirnya aku mulai bisa menerima keadaan yang terus terbayang dengan kejadian itu. Mencoba untuk berteman dengan kenangan masa lalu ku yang tragis.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
* Hallo gais salam kenal bagi seluruh pembaca novel. Terimakasih banyak bagi yang sudah membaca novel ini. Novel ini adalah karya pertama mimin. Jadi mohon dukungannya yaaa!!
Oiya jangan lupa terus baca update an cerita mimin yaa. Eps selanjutnya akan lebih seru lagi.
Semoga dapat menghibur kalian semua wahai sobat pembaca.😊😉