Share

TERPAKSA MENIKAHI OM-OM
TERPAKSA MENIKAHI OM-OM
Author: Nurhana Anwar

Pernikahan

Author: Nurhana Anwar
last update Petsa ng paglalathala: 2020-11-06 21:41:04

Seorang wanita menatap pantulan dirinya didepan cermin, ia terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih yang melekat ditubuh rampingnya.

Hanya ia sendiri saja didalam kamar itu, kamar yang sangat indah untuk pasangan pengantin.

Setetes air mata mengalir di pipinya, kala mengingat hal yang akan terjadi padanya. Ia tidak mengerti apa keputusannya sudah benar atau tidak.

Wanita itu segera menghapus air mata yang menetes melewati pipinya, ia menoleh kala mendengar suara pintu kamar yang terbuka.

Seorang wanita paruh baya mendekat kearahnya dengan tatapan sayu.

"Maaf, sayang," ucap wanita paruh baya itu dengan linangan air mata, membuat wanita itu segera memeluk pinggang wanita paruh baya itu, yang tidak lain adalah ibunya.

Sang ibu terus mengelus puncuk kepala putrinya itu, berusaha untuk menenangkan putrinya.

"Sudah, jangan menangis lagi. Mama mohon sayang," ucap sang ibu dengan mengigit bibir bawahnya, agar suara tangisnya tidak terdengar.

"Maaf jika mama dan papa membuatmu harus melakukan hal ini, maaf karena kami kamu harus menikah dengan pria yang tidak kamu kenal, maaf karena kami merepotkanmu, sayang," ucap sang ibu dan dengan cepat wanita itu mengelengkan kepalanya.

"Hana minta maaf karena sudah kasar sama papa dan mama kemarin, Hana ngga akan buat mama dan papa malu, Hana janji," ucap wanita itu yang semakin membuat sang ibu menangis.

'Maafkan kami, sayang. Kami benar-benar minta maaf,' batin sang ibu meminta maaf pada putri keduanya itu.

***

Sedang dilantai dasar rumah kediaman Dishab, seorang pria tampan memakai setelan jas berwarna hitam kini berhadapan dengan pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah dari mempelai wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

Pria itu menghembuskan nafasnya perlahan untuk segera mengucapkan ijab kabul.

"SAYA TERIMA NIKAHNYA, HANA VIANSA BINTI RENDRA DISHAB DENGAN MASKAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI," ucap pria itu dengan sekali tarikan nafas dan menjabat tangan pria paruh baya itu, ayah dari mempelai wanita.

"Bagaimana para saksi?" tanya sang penghulu pada semua orang yang hadir disana, meski tidak terlalu banyak.

"SAH," ucap para tamu yang hadir.

***

Kini kedua mempelai tengah berdiri dipelaminan, menyambut para tamu undangan yang hadir.

Pria itu mengernyit melihat wanita yang berdiri disampingnya, yang hanya memasang raut wajah sedih, dan senyum paksa saat tamu datang menghampirinya.

"Kamu baik-baik saja?" tanya pria itu dengan raut wajah khawatir.

Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya, membuat pria itu menghembuskan nafasnya.

Pukul 9 malam.

Saat ini kedua pasangan pengantin baru itu kini berada didalam kamar dirumah mempelai wanita, yang sudah dihias dengan begitu cantik.

Wanita itu merenggangkan badannya yang begitu lelah karena berdiri seharian menyambut tamu undangan.

"Om ....," ucap lirih wanita itu, pada pria yang berdiri diambang pintu kamar mandi, bersiap untuk keluar dengan sudah memakai pakaian tidurnya.

"Kamu bicara dengan saya?" tanya pria itu dengan formal, membuat sang wanita mengernyit.

"Ngga, om. saya lagi bicara sama orang dibelakang om," ucap wanita itu, semakin membuat pria itu mengernyit lalu menoleh kebelakang.

'Ya ampun! bodohnya diriku ini!' batin wanita itu, berteriak.

"Saya bicara sama om-lah, masa sama tembok!" ucapnya yang mulai meninggikan suaranya, lalu segera beristigfar.

"Astagfirullah, astagfirullah," ucapnya berulang-ulang dengan mengelus dadanya lembut.

"Kamu kenapa?" tanya pria itu yang bingung dengan tingkah wanita dihadapannya.

'Ya Allah, dosa apa aku sampai engkau memberikan suami yang begitu menguras emosi seperti ini, bahkan bikin naik tensi,' batin wanita itu berteriak, ia benar-benar diuji kesabaran menghadapi pria yang kini berdiri dihadapannya.

"Hana Viansa," ucap pria itu melafalkan nama lengkap sang wanita, yang kini menyandang status sebagai istrinya, karena wanita itu yang mendadak melamun.

Wanita itu tersadar dari lamunannya dan sedikit mendongak dan menatap lekat manik wajah pria itu.

"Iya, pak Revano Abraham," ucap Hana menyebut nama pria itu, suaminya dengan wajah datar.

"Kamu marah sama saya?" tanya Revan yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi sehingga membuat Hana seperti ini.

'Ya Allah, aku menyerah jika engkau meminta hamba menemani pria formal permanen ini, sungguh hamba tidak sanggup, bahkan ini baru beberapa jam setelah pengucapan ijab kabul, bagaimana kalau satu minggu?' batin Hana semakin tidak karuan dengan menatap wajah Revan.

"Tidak om, memangnya om salah apa dengan saya, toh om yang kebelet nikah, bukan saya!" ucap Hana membuat Revan menaikkan sebelah alisnya.

Pria itu melipat kedua tangan didepan dada, dan Hana dengan cepat meniru gaya suaminya itu.

"Sepertinya saya benar-benar punya salah sama kamu ya?" tanya Revan yang kini benar-benar serius.

"Saya sudah bilang tidak ada, om ....," ucapan Hana terhenti kala Revan menyelanya.

"Tunggu!"

Hana mengernyit bingung saat Revan mengangkat tangannya keatas.

"Kamu memanggil saya dengan sebutan Om?" ucap Revan mencoba memastikan apa yang ia dengar sedari tadi, ia berfikir jika tadi ia salah dengar. Tapi ternyata benar! Istrinya itu memanggilnya dengan sebutan Om!

"Iya, salah om?" tanya Hana menjawab dengan cepat.

Revan menghembuskan nafasnya lalu menatap wanita dihadapannya itu.

"Hana, saya suami kamu sekarang, jadi bisakah kamu memanggil saya dengan sebutan yang lebih sopan lagi dari itu?" tanya Revan dengan raut wajah mencoba lebih sabar.

Hana berfikir sejenak, pria dihadapannya ingin dipanggil dengan sebutan lain, apa? pria kaku? itu tidak mungkin, sangat tidak sopan jika hal itu. Hana mencoba berfikir apa yang cocok ia panggilkan untuk pria itu, tapi ia sama sekali tidak menemukan hal yang cocok.

Hana mengelengkan kepalanya membuat Revan menghembuskan nafas kasar.

"Terserah kamu saja," ucapnya pasrah lalu berjalan mendekat kearah tempat tidur untuk segera menidurkan tubuhnya yang sudah begitu lelah, tapi suara lirih wanita itu, membuatnya kembali menoleh.

"Om ....," lirih Hana dengan menatap Revan.

"Iya," ucap Revan penuh kesabaran.

"Om mau tidur disana?" tunjuknya ketempat tidur, membuat Revan bertanya-tanya.

"Iya, kenapa?" jawab Revan cepat, dan Hana segera mengelengkan kepalanya lalu berjalan mendekat kearah tempat tidur meraih salah satu bantal dan membawanya ke sofa diruangan itu.

Revan menatap gerak-gerik wanita itu dengan tatapan Aneh, ia bingung saat wanita itu meraih sebuah pulpen dan kertas lalu terlihat seperti menulis sesuatu disana.

Dengan langkah penuh sebarannya, Revan berjalan mendekat kearah Hana yang begitu fokus menulis sesuatu dikertas itu.

Revan mengernyit saat tiba didekat wanita itu, dan melihat sebuah tulisan yang sedikit besar bertuliskan PERJANJIAN.

"Kamu lagi menulis?" tanya Revan membuat Hana menghentikan tangannya, lalu mendongak menatap Revan.

"Ngga, om. Saya lagi corat-coret kertas aja," ucap Hana santai dengan tersenyum paksa yang membuat pria itu, menampilkan wajah ketidaktahuannya.

"Tapi kalau kamu corat-coret ngga akan sebagus itu," ucap Revan santai dengan mendudukkan diri berhadapan dengan Hana yang duduk dilantai.

"Udah tau nanya, gimana sih om," ucap Hana menaikkan suaranya satu oktaf.

Revan tersentak mendengar hal itu, dan Hana yang menyadari hal itu segera beristigfar.

"Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah," rafalnya dengan menghembuskan nafasnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • TERPAKSA MENIKAHI OM-OM   Pernikahan

    Seorang wanita menatap pantulan dirinya didepan cermin, ia terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih yang melekat ditubuh rampingnya.Hanya ia sendiri saja didalam kamar itu, kamar yang sangat indah untuk pasangan pengantin.Setetes air mata mengalir di pipinya, kala mengingat hal yang akan terjadi padanya. Ia tidak mengerti apa keputusannya sudah benar atau tidak.Wanita itu segera menghapus air mata yang menetes melewati pipinya, ia menoleh kala mendengar suara pintu kamar yang terbuka.Seorang wanita paruh baya mendekat kearahnya dengan tatapan sayu."Maaf, sayang," ucap wanita paruh baya itu dengan linangan air mata, membuat wanita itu segera memeluk pinggang wanita paruh baya itu, yang tidak lain adalah ibunya.Sang ibu terus mengelus puncuk kepala putrinya itu, berusaha untuk menenangkan putrinya."Sudah, jangan menangis la

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status