Sepanjang perjalanan pulang guyuran hujan. Pevita terus menangis terisak, meraung-raung membuat orang-orang yang melihatnya tertawa atau sedikit merasa iba dan kasihan.Tanpa tahu malu, Pevita manangis. Jujur, dalam hatinya masih mencintai Alex. Dia berharap hubungan langgeng sampai ke pelamian dan Alex bersedia menyembuhkan phobianya. Tetapi, tidak sesuai keinginan Pevita. Pevita mengutuk mantan kekasih yang akan meraih kebahagiaanya, tetapi lelaki itu mempunyai niat merusak masa depan dan kehidupan Pevita.“Alex! Brengsek!” Pevita memaki menyebut Alex dengan kata brengsek. Dada Pevita semakin bergemuruh tidak karuan dan sesak.“Aku kutuk, Alex menderita selamanya. Tidak punya anak, mandul sekalian baru tahu rasa,” kutuk Pevita. “Kalau tidak, menjadi bujang lapuk. Tidak ada yang mau sama dia untuk menjadi suami, mampus!”Semakin tidak jelas berkata, Pevita semakin tidak waras.Pevita tidak sadar, a
Last Updated : 2020-08-09 Read more