Aiden menahan tawanya, Rivan mengajaknya masuk. Saat ini, Aiden hanya ingin meredam seluruh kebencian terhadap ayahnya. Ayah yang selalu memaksanya untuk melakukan apa pun sesuai keinginan beliau."Untuk beberapa hari ini, aku takkan masuk kerja dulu," Aiden dan kedua kakak beradik itu duduk santai di rungan tengah."It’s oke. Tapi kalau ayahmu bertanya padaku tentangmu, aku harus menjawab apa?" tanya Rivan sambil menyeruput teh hangat yang disajikan Irene di tengah semilir angin yang menyelimuti malam."Dia takkan menanyakan itu padamu. Dia takkan peduli ke mana pun aku pergi."Rivan menghela napas, turut prihatin, "Ya, bersabarlah, Aiden.""Kuharap, kamu bisa menyelesaikan semua masalahmu. Lalu, kamu bisa menemukan kebahagiaanmu," ungkap Irene setulus hati.Aiden tersenyum manis, "Kebahagiaanku? Bersamamu?"Tak ada jawaban dari Irene. Hingga sampai larut malam, Aiden larut dalam tidurnya. Tidur yang nyenyak, tanpa sedikit pun
Last Updated : 2020-08-04 Read more