"Dav, kamu nggak denger saya?" ulang Pak Abrisam. Aku pura-pura tuli saja. Pak Abrisam ada terus kemauannya. "Bapak, ini saya beneran banyak pekerjaan. Bisakan Pak, saya selesain dulu kerjaan saya?" aku bertanya dengan suara pelan. Aku masih di pangkuan Bos tengilku, ini. Rasanya, aku kesulitan bernapas. Bagaimana tidak? Setiap bernapas, rasanya kayak ada yang tidak nyaman. "Kamu pikir, saya nggak banyak pekerjaan juga? Maka dari itu buruan suapin saya supaya kita bisa kerja!" sahutnya dengan suara keras. Duh, suaranya sudah kayak guntur. Ini nih, yang membuat aku kadang menciut seciut-ciutnya. "Tapi, Pak. Bapak bisa makan sendiri kan? Atau begini saja Pak. Saya suapin Bapak, tapi saya duduk di sebelah Bapak aja, bagaimana?" tawarku. Lagian, Bosku aneh banget. Dia mau aku duduk di atas pangkuannya sambil menyuapi dia. Emang faedahnya apa!! Makan sendiri tetap kenyang, 'kan."Yaudah. Kamu duduk di sebelah saya. Tapi inget, suapin yang b
Last Updated : 2020-10-24 Read more