Home / All / Behind The Wedding [INDONESIA] / Jeda Sebelum Kembali

Share

Jeda Sebelum Kembali

Author: Ana Oshibana
last update publish date: 2020-11-13 07:04:39

Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?

Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan." 

Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.

Aku merasa demikian. Keputusanku sudah bulat. Esok hari, aku akan pindah. Kebetulan, hari ini adalah saat menerima gaji pertamaku. Lebih tepat disebut upah rasanya. Meski tetap sama. Pagi-pagi sekali sebelum Ahsan membeli sarapan, aku sudah bersiap diri. 

"Mau kemana, Ry?" Sapa Ahsan yang baru akan keluar membeli sarapan, agaknya.

"Kamu belum makan. Nanti dulu berangkatnya." Benar, ia akan membelikan sarapan untukku. Namun, berusaha kutahan. "Tidak usah, Mas. Aku mesti berangkat lebih pagi. Nanti gampang sarapan di sana." Jawabku sopan.

"Memangnya ada apa sampai harus berangkat lebih pagi seperti ini? Kamu baik-baik saja, Ry? Ada masalah di kerjaan??" Wajah cemas tergambar dari Ahsan.

"Ndak, Mas. Emang lagi banyak pekerjaan aja. Jadi mesti lebih berangkat pagi. Ndak enak kan kalau ndak pengertian dari aku sendiri."

"Ehm, gitu. Yasudah, semoga lancar, ya. Kalau ada apa-apa bilang ke Mas." Ahsan menepuk bahuku. Seolah meyakinkanku masih ada sosoknya yang bisa dipercaya di kota perantauan ini.

"Makasih, Mas. Saya pamit dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Aku segera bergegas. Meninggalkan segala ragu dan cemas. Cemas dan ragu kubisukkan oleh diriku sendiri.

***

"Ry,  lo di rumah? Bisa kesini lebih cepet?" Sebuah pesan dari Irfan masuk ke ponselku. Tersadar aku berangkat cepat, hanya alibi tak ingin banyak merepotkan Mas Ahsan dan istrinya. Namun, ini agaknya takdir meridhoi alibiku. Kebetulan secara tiba-tiba, Irfan memintaku berangkat lebih cepat.

"Iya, Bro. Gue lagi jalan ke sana, nih."

"Ok. Ditunggu, ya!"

"Ashiaap!"

Sepanjang jalan, aku melihat sisi yang berbeda. Biasanya, tak begitu banyak pedagang yang kulihat. Kalaupun aku melihatnya, kebanyakan sudah selesai. Sedang berkemas diri. Kali ini, aku melihat sepanjang rumah dan jalanan penuh pedagang.

Mulai dari pedagang bubur ayam yang baru mulai menjajakan dagangan dengan gerobak dorongnya. Pun, tak ketinggalan Ibu-ibu yang menjual aneka sarapan mulai menata dagangannya. Pagi yang tergambar sibuk sekali. 

Aku sempat tergoda dengan aneka makanannya. Namun, berusaha kutahan.

"Aku akan makan setelah dapat upah nanti. Sabarlah, perut! Kumohon!" Hardikku pada diri sendiri.

"Natanya yang bener, dong ah! Gitu aja gabisa! Gimana sih, cepetan! Keburu siang!!"  Dari arah aku menjedakan langkah, terdengar suara gaduh. Setelah kucari sumber suaranya, ia adalah pedagang sarapan tepat di depanku. Hanya beberapa meter. Pantas terdengar. Ah, tunggu dulu. Pantas? Apa seseorang yang meninggikan suara di depan umum pantas?

Terlihat seorang yang lebih tua—lebih mirip Ibunya sedang membentak seorang lebih muda—lebih mirip anaknya. Entahlah. Sebut saja seorang Ibu dan anaknya. Ibu berdaster merah itu melotot, matanya membesar saat membentak anaknya. Namun, tak ada jawaban apapun yang keluar dari anak itu. Perempuan berkerudung hitam dan berwajah manis. Ia seperti begitu rela dimarahi. Bahkan, tak ada gurat kecewa ataupun sedih dari wajahnya. 

"Ah, kenapa lagi aku diam di jalan begini? Aku harus segera berangkat ke rumah Irfan. Dia pasti udah nunggu!" 

Ya, Irfan. Dia adalah orang yang tak sengaja kutemui di sini. Di kota asing ini yang menawariku pekerjaan.

***

Apakah di dunia ini orang-orang selalu punya topengnya masing-masing? Gadis berkerudung hitam dan berwajah manis tadi, bukankah ia pun sedang mengenakan topeng yang apik sekali? Dan, apakah aku juga? Aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja saat Ibu dan Cahya bertanya kabarku. 

Seorang bapak berbaju rapi itu membangunkan lamunku.

"Heh... pagi-pagi sudah melamun. Sudah menunggu lama, ya?" Bapaknya Irfan mengagetkanku.

"Eh, ndak, Pak. Punten." Jawabku gugup. Membenarkan posisi dudukku.

"Maaf, ya jadi menuggu."

"Ndakpapa, Pak. Baru dateng tadi, ko."

"Gini, Nak Genta. Kebetulan hari ini saya sekeluarga ada perlu. Karena kawatir nanti pulang malam, dan kamu sudah berhak dapat upah, makanya saya minta Irfan menghubungi kamu berangkat lebih pagi. Biar saya yang langsung kasihkan upah kamu sebulan ini. Semoga berkah ya, Nak." Ia menaruh amplop ditanganku. Membuat garis senyum bangga di depan wajahku. Seperti seorang ayah yang begitu bangga dengan prestasi anaknya.

"Bapak? Aku jadi teringat Bapak. Kemana sebenernya Bapak?" Batinku.

"Nak... kamu betah bekerja disini?"

"Eh... Iya, Pak. Saya betah ko."

"Alhamdulillah... Bapak berterimakasih sekali sudah dibantu pekerjaannya. Saya bangga sekali ada pemuda yang mau bekerja seperti ini. Secara, kelihatannya kurang bergengsi."

"Ndakpapa, Pak. Yang penting halal."

"Syukurlah. Semoga betah, ya. Dan dapat pekerjaan yang lebih baik. Mau bicara dulu sama Irfan?"

"Aamiin. Boleh, Pak."

"Oh, ya. Saya sudah siapkan sarapan di dalam. Sengaja, biar Nak Pria juga sarapan di sini. Sebentar, saya panggilkan Irfannya."

"Fan... Naaak, ini sudah ada Pria."

"Iya, Pak. Sebentar." Terdengar suara menyautnya. Datanglah Irfan dengan pakaian rapinya. Rambutnya klimis. Lebih rapi dari biasanya.

"Eh, lo udah dateng, Ta?"

"Iya. Baru aja ko. Kebetulan tadi ketemu Bapak dulu."

"Ouh yaudah. Langsung masuk aja gapapa kan, Pak? Biar sarapan bareng."

"Kamu gapengin ngobrol dulu?"

"Gampang nanti aja, Pak. Ngejar waktu. Barangkali macet. Yuk, F. Sarapan dulu."

"Anak muda yang perencana." Lirih Bapaknya.

Aku mengangguk. Mengikuti langkahnya.

Rumahnya tak begitu kecil atau besar. Sedang, tapi terlihat luas. Penataan interior dan segala peralatannya membuatnya terlihat begitu, mungkin. Aku duduk di kursi kayu bercat emas. Berbagai aneka makanan tersaji di atas meja persegi panjang itu.

"Ini meja makan paling tua dari semua peralatan yang di rumah ini, Nak. Saya sendiri yang buat."

"Waah, pantesan bagus, Pak. Terlihat klasik dan menarik."

"Saya senang merawat benda bukan karena benda itu bagus. Meski itu juga jadi faktornya. Tapi lebih kepada ceritanya. Ya kan, Bu?" Ia menoleh ke seorang perempuan berkerudung biru dan berkulit kuning langsat itu.

Yang ditanya hanya menjawab dengan segari senyum. 

"Meja ini jadi saksi perjuangan saya mendirikan mebel yang Nak Genta bisa bekerja sekarang. Dulu, dulu... sekali istri saya pengin sekali punya meja makan. Bisa makan di meja makan, sepertinya jadi cita-cita hidup saja."

"Maklum, dulu masih susah sekali. Boro-boro meja makan, Nak. Bisa makan tiap hari saja sudah bersyukur sekali."

"Tapi karena saya sangat mencintai istri saya, saya bertekad mengumpulkan modal sedikit demi sedikit. Belajar sana sini bagaimana membuat furniture yang baik. Jadilah seperti sekarang ini. Meski belum besar-besar amat, masih usaha rumahan. Setidaknya ini lebih baik dari dulu."

"Bisa membantu beberapa orang disini bekerja saja sudah kelegaan tersendiri bagi saya, Nak. Nyari kerja susah. Bisa membantu mereka, rasanya senang sekali."

"Makan dulu atuh, Pak. Jangan cerita terus." Istrinya meledek.

"Gapapa toh, Bu. Skalian ngingetin anak kita yang mau kuliah ini. Biar terus bersyukur. Selalu inget darimana ia berasal."

"Irfan masih hafal semuanya, Pak. Bapak selalu cerita tiap hari."

"Itu bentuk kasih sayang orangtua, Nak."

Istrinya tertawa kecil. "Sudah, sudah. Ayo, makan dulu."

***

Sebuah keluarga kecil yang amat bahagia. Tanpa kecuali. Aku ada di dalamnya. Bersama angin sejuk yang mereka beri. 

Sejenak naluriku teringat. "Apa disana sudah makan, Bu? Sukma, apa kamu baik-baik saja, Dek?"

Kekawatiran bercampur rindu menyelimuti Genta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Menjalani yang Ada

    Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Jeda Sebelum Kembali

    Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Keep Fighting

    "Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Pulang?

    "Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Inilah Jalanku

    Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai

  • Behind The Wedding [INDONESIA]   Memulai Pilihan

    "Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status