LOGIN"Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma.
"Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya.
"Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin.
"Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?"
"Apa dia sudah makan?"
"Kenapa sampai sore hari tak berkabar?"
"Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?"
"Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi."
"Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa."
"Iya, Bu... Ibu tenang, ya."
"Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.
***
Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang dirasa. Setidaknya, beban itu kian menunjukkan tanda menemukan solusinya.
Langkah kaki yang cukup capek, tak membuat mulut Genta mengucapkannya. Tiada keluh untuk seorang pria. Pun, aku. Sampai di belokan menuju indekos, aku melihat istri Mas Ahsan pulang. Iya, Ahsan adalah Kakak dari temanku. Aku akan menginap sekitar dua hari di sini.
"Sudah pulang?" Yang kusapa hanya menoleh. Entah, apa yang dirasakannya.
Baru saja kelegaan menyelimuti, kini terasa lebih bertumpuk.
"Ada apa? Kenapa istri Mas Ahsan tak menjawabku? Bahkan ekspresinya. Itu menakutkan sekali." Lirihku.
Perempuan berjaket abu itu terus berjalan. Tak sedikitpun menoleh. Apalagi menengk ke sumber suara di belakangnya. Tak laim adalah aku sendiri.
Semilir angin yang sayup menerpanya pun tak digubrisnya. Ia terus melangkah ke depan. Ingin rasanya aku segera menelpon Mas Ahsa. Setidaknya, aku yakin. Apakah aku harus pulang sekarang atau tidak?
Kuambil ponsel dari saku celanaku.
"Ahh, lowbat. Aku lupa." Mau tak mau, aku pun menyusul langkahnya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa dia? Apa masih marah padaku karena aku menumpang di kontrakannya? Tahu diri? Apa aku kurang tahu diri?" Ragam pertanyaan cemas kian mengemasi pikiranku.
"Aku harus segera pulang!"
***
"Eh, kamu sudah pulang, Mia." Ahsan mengulurkan tangannya. Tapi Mia tak mengambil tangan itu. Ia masuk begitu saja. Tanpa salam. Tanpa ekspresi. Aneh sekali.
"Sayang, kamu kenapa? Sakit? Ada masalah di kerjaan? Kenapa sudah pulang?!"
"Arrrgh!! Jangan ganggu aku, cerewet!" Ia menendang Ahsan. Dengan begitu brutalnya. Matanya melotot tajam. Seakan menyiapkan ragam pisau yang siap menyerbunya.
"Sayang... kamu sebenernya kenapa?"
"Ini semua gara-gara Genta!"
"Genta? Emang Genta kenapa?"
"Kamu yang ijinin dia tinggal di sini. Baru sehari, aku sudah kena PHK. Dia emang pembawa sial!!" Wajahnya memerah marah. Menakutkan.
"Tenanglah, sayang. Genta ndak salah. Lagian dia di sini cuma numpang beberapa hari. Kasian."
"Terus aja belain!! Dia bukan siapa-siapa kamu, kenapa terus belain, hah?"
"Karena permintaan adik kamu? Sampai kapan kamu menuruti adikmu yang sudah dewasa?!" Mia, istri Ahsan kian menyeringai kesal.
"Tapi... dia sebatang kara di sini. Aku kasian. Yah? Setelah itu, kamu boleh memintanya pergi. Tapi sekarang, aku mohon, ya." Ahsan terdengar meminta. Memelas diri demi aku.
"Aku? Bikin sial? Sebegitu membebanikah aku di sini?!" Ucap Genta lirih.
"Kalau begitu... suruh dia bayar juga. Di dunia ini gak ada yang gratis!!"
"Tapi... dia belum dapat kerja. Dia juga cuma mau nyari info lowongan kerja. Tak lebih dari dua hari."
"Ya cari kerja apa saja! Tidak ada yang gratis. Dia harus tahu diri!"
Degg!!
Kata itu terasa menusukku kembalu: tahu diri. Setelah tak sengaja mendengar percakapan mereka, aku mengetuk pintu.
"Assalamualaikum...."
"Sebentar, itu sepertinya Genta. Kumohon, kamu jangan bahas sekarang. Biar aku yang bicara nanti." Ahsan beranjak membukakan pintu. Mia memalingkan wajahnya. Kesal.
"Waalaikumsalam... eh, sudah pulang?" Ahsan menyapaku begitu ramah. Seakan tak pernah ada kejadian apapun yang menimpanya tadi.
"Iya, Mas. Sebenernya sudah selesai dari siang, tapi makan dulu. Dan baru pulang deh."
"Alhamdulillah. Semoga nanti bisa kerja di sini juga, ya. Biar cepet jadi orang sukses!"
"Aamiin." Ucapku tersenyum menanggapinya.
"Oh ya, Mas. Aku permisi dulu, ya. Mau charging hp. Lowbat."
"Oh, iya."
***
Beberapa menit ponsel sudah dalam proses pengisian. Aku membukanya. Dan, sebelas kali panggilan tak terjawab dari Cahya.
"Astaghfirulloh... aku lupa kabarin Ibu."
Tanpa memedulikan ponsel yang masih dalam pengisian baterai, aku segera menelpon balik Sukma.
"Assalamualaikum. Kamu apa kabar?"
"Waalaikumsalam... Sukma baik, Kak. Mas yang apa kabar? Kenapa telponku gak diangkat? Kenapa baru ngabarin?" Terdengar Sukma begitu cemas dari suaranya.
"Alhamdulillah Mas juga baik. Tadi baterai lowbat, Kakak lupa ngisi baterainya."
"Lupa? Masa dari tadi pagi lupa?"
"Ehm, critanya panjang adik perempuanku yang cerewet. Yang penting baik-baik aja 'kan? Tolong telponnya kasih ke Ibu, ya. Kakak mau bicara sama Ibu."
"Ehmm. Iya, bentar."
"Ada apa, anakku?" Ibunya sedang memasak di dapurnya.
"Kak Genta udah telpon balik. Katanya mau ngomong sama Ibu."
"MasyaAllaah... kamu apa kabar, anak laki-lakiku? Sudah sampai di sana? Kenapa baru berkabar? Kata Sukma nomor hpnya juga ndak bisa dihubungi. Kamu kenapa, Sayang?" Suara cemas kian terdengar jelas.
"Ssst, Ibu tenang, ya. Alhamdulillah Genta sudah sampai. Aman. Dan baik-baik aja. Iya, hpnya lowbat. Maaf ya, Bu."
"Syukurlah kalau baik-baik saja. Gimana Kakak temenmu itu? Dia baik 'kan? Kamu nyaman kan, Nak?"
"Genta...," aku terdiam memikirkan akan menjawab apa.
"Kamu baik-baik saja, Sayanh?" Suara Ibu masih menunggu jawabku.
"Alhamdulillah, semuanya baik. Doain ya, Bu. Biar nanti dapat kerjaan di sini. Biar cepet kerja. Biar bisa bahagiain Ibu dan Sukma."
"Aamiin. Ibu selalu do'ain kamu, Nak."
"Oh, ya. Sudah dulu ya, Bu. Genta mau beberes. Pria baik-baik aja di sini. Jadi Ibu di sana tenang, ya. Jangan kawatir."
"Yasudah, pokonya kalau ada apa-apa kabarin ya, Nak? Jangan seperti kemarin. Bikin Ibu kawatir.
"Iya, Ibuku sayang."
"Sukma, titip Ibu, ya. Jaga dia baik."
"Assalamualaikum."
"Iya, Kak. Waalakumsalam.
***
"Sudah? Kamu sudah bilang ke dia, Mas? Hah? Kondisi sekarang sudah beda. Aku sudah di-PHK. Ditambah satu beban di rumah. Uang darimana?""
"Sssst, kamu jangan keras-keras. Gaenak sama Genta." Terdengar, Ahsan berusaha menenangkannya.
"Biar! Biar dia dengar dan tahu diri!!"
***
"YaAllah... aku harus bagaimana?"
Drrttt...
Ponselku bergetar. Sebuah pesan whatsapp dari nomor baru.
"Hei, Genta. Kamu beneran lagi merantau? Kok gak ngabarin aku?" Salah seorang temannya bertanya.
"Tidak. Ini cuma lagi nyari lowongan aja. Belum merantau."
"Yaa... harusnya ajak aku juga. Sampai kapan kamu di sana?"
"Gak lama ko. Besok juga kayaknya sudah pulang."
"Ok. Gue tunggu lo di sekolah nanti, ya! Atau nanti gue ke rumah lo."
"Ok, Bro!"
Tahu diri. Beban. Dan... sekarang bertambah kata yang menyayatku sewaktu-waktu. Tahu diri. Apa sebenernya makna tahu diri? Apakah serupa kepasrahan yang dibiarkan berjalan begitu saja tanpa tuannya yang sebenernya? Beban. Pun apa makna makna beban sebenarnya? Apa ia serupa benda-benda yang jatuh tiba-tiba dari langit ke tubuhmu tanpa penopang apapun? Atau ia hanya rekaan manusia yang belum mampu mengerti dirinya sendiri? Entahlah. Genta ingin segera berkemas. Ia cukup sehari itu saja menumpang di sana. Ya, sore itu juga diputuskannya. Ia harus pulang.
***
"Apa yang akan kulakukan nanti saat pulang? Apa yang akan aku katakan pada Ibu?" Cemas Genta.
Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.
Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia
"Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B
"Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di
Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai
"Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah