LOGINKeluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku.
"Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya."
"Iya, Pak. Terimakasih banyak."
"Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.
Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?
Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit.
"Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku.
"Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."
Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.
"Punten, apa Irfannya ada?"
"A Irfan sudah pergi barusan dengan Bapak dan Ibunya, Teh. Ada yang perlu disampaikan?"
"Ouh, Ndak. Saya mau bicara langsung dengan A Irfan."
"Iya. Kebetulan baru saja pergi."
"Kira-kira sampai kapan?"
"Saya kurang tau, Teh." Jawabku sekedarnya.
Perempuan itu diam sejenak. Seolah mempertanyakan sesuatu pada dirinya. Lalu kembali bersuara.
"Nuhun, A. Kalau gitu saya pamit dulu. Assalamualaikum."
"Ouh iya. Waalaaikumsalam. Hati-hati, Teh."
Saat perempuan bermata teduh itu berjalan keluar, suaraku tiba-tiba menjedakan langkahnya. Begitu saja.
"Teh... ," panggilku.
"Iya?"
"Maaf, dengan Teteh siapa? Barangkali saya bisa sampaikan ke Irfan nanti."
"Wulan."
"Nuhun. Nanti saya sampaikan ke Irfannya."
Ia hanya menunduk. Membuat segaris senyum lalu pergi. Meninggalkan bayang-bayang di halaman mataku yang terus mencari sosoknya.
"Astaghfirulloh... Pria!"
"Tapi, perempuan itu bukannya perempuan yang tadi sedang dimarahi Ibu berdaster merah yang kulihat di seberang jalan sebelum berangkat? Kenapa dia kesini?"
Tak sabar menunggu Irfan pulang, akupun segera menanyakannya lewat ponsel.
"Hei... tadi ada cewek dateng nyariin lo."
"Hah? Siapa?"
"Wulan."
"Trus? Dia bilang apa?"
"Dia gabilang apa-apa. Cuma katanya mau bicara langsung sama lo. Trus ko bisa lo tau namanya?"
"Ya gue tanya lah. Kalau gak tanya, gimana ngabarin lo."
"Ouh gitu. Yaudah."
"Udah, gitu doang?"
"Iya, kenapa emang?"
"Gapapa. Gue penasaran aja, Fan."
"Gausah penasaran. Bahaya deket-deket sama dia."
"Maksud lo?"
Namun pesan bernada penasaranku tak dibalasnya. Membuatku makin penasaran saja. Aku menggerutu kesal.
"Mana bisa dekat-dekat dengan perempuan seteduh dia bisa jadi bahaya?"
***
"Nak, kamu sudah kabarin Kakakmu? Sudah berapa minggu ini dia ko gak nelpon ya?"
"Iya, Bu. Mungkin Kakak sibuk. Maklum kan masih baru. Mungkin aturannya ketat, gabisa asal pegang hp."
"Iya juga ya, Nak. Tapi nanti sore coba kamu telpon lagi. Siapa tau sudah bisa dihubungi."
"Iya, Bu."
"Oh, ya. Temennya Kakakmu, sudah pastiin motornya sampai, 'kan?"
"Sudah, Bu. Katanya siang ini sampai di alamat yang Kak Genta berikan."
"Syukurlah. Nah nanti sore skalian tanyain. Buat mastiin. Kakakmu sedang butuh-butuhnya motor itu."
Sukma mengangguk. Sambil tangannya merapikan daun-daun bougenvil yang menguning.
***
"Genta... kamu bawa motor ke kontrakan?"
Sebuah whatsapp melayang ke ponselku dengan foto motorku. Pesan dari Mas Ahsan.
"Iya, Mas. Maaf, sebelumnya saya lupa ngabarin. Tolong ditandatangani bukti terimanya ya, Mas. Saya belum bisa pulang."
"Hmm, ada-ada saja kamu ini. Ngirim barang berharga gak ngabarin. Yaudah, saya tandatanganin tanda terimanya."
"Ibu... terimakasih." Lirihku.
***
"Nak, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibu Sekar bertanya pada Sukma.
"Ibu kok kawatir sekali dengan Genta, Nak. Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya.
"Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin.
"Gimana kalau dia ada apa-apa?"
"Apa dia sudah makan?"
"Kenapa sampai saat ini tak berkabar?"
"Kan seharusnya motornya sudah sampe. Dia bisa kabarin Ibu. Kenapa sampe sore begini, belum juga kabarin Ibu?"
"Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi."
"Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa."
"Iya, Bu... Ibu tenang, ya."
"Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.
***
Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah aku makan siang di warteg, segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang kurasa. Setidaknya, beban itu kian menunjukkan tanda menemukan solusinya. Bekerja di mable? Apapun!
Langkah kaki yang cukup capek, tak membuat mulutku mengucapkannya. Tiada keluh untuk seorang pria. Pun, aku. Sampai di belokan menuju indekos, aku melihat istri Mas Ahsan pulang.
"Mba, sudah pulang?" Yang kusapa hanya menoleh. Entah, apa yang dirasakannya.
Baru saja kelegaan menyelimuti, kini terasa lebih bertumpuk.
"Ada apa? Kenapa istri Mas Ahsan tak menjawabku? Bahkan ekspresinya. Itu menakutkan sekali." Lirihku.
Perempuan berjaket abu itu terus berjalan. Tak sedikitpun menoleh. Apalagi menengk ke sumber suara di belakangnya. Tak laim adalah aku sendiri.
Semilir angin yang sayup menerpanya pun tak digubrisnya. Ia terus melangkah ke depan. Ingin rasanya aku segera menelpon Mas Ahsan. Setidaknya, aku yakin. Apakah aku harus pulang sekarang atau tidak?
Kuambil ponsel dari saku celanaku.
"Ahh, lowbat. Aku lupa." Mau tak mau, aku pun menyusul langkahnya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa dia? Apa masih marah padaku karena aku menumpang di kontrakannya? Tahu diri? Apa aku kurang tahu diri?" Ragam pertanyaan cemas kian mengemasi pikiranku.
"Aku harus segera pulang!"
***
Beberapa menit ponsel sudah dalam proses pengisian. Aku membukanya. Dan, sebelas kali panggilan tak terjawab dari Sukma.
"Astaghfirulloh... aku lupa kabarin Ibu."
Tanpa memedulikan ponsel yang masih dalam pengisian baterai, aku segera menelpon balik Sukma.
"Assalamualaikum, Dek. Kamu apa kabar?"
"Waalaikumsalam... Adek baik, Kak. Mas yang apa kabar? Kenapa telpon adek gak diangkat? Kenapa baru ngabarin?" Terdengar Sukma begitu cemas dari suaranya.
"Alhamdulillah Mas juga baik. Tadi batere lowbat, Kakak lupa ngisi baterainya."
"Lupa? Masa dari kemarin lupa?"
"Ehm, critanya panjang adekku yang bawel. Yang penting baik-baik aja 'kan? Tolong telponnya kasih ke Ibu, ya. Kakak mau bicara sama Ibu."
"Ehmm. Iya, bentar."
"Ada apa, Nak?" Bu Sekar sedang memasak di dapurnya.
"Kak Genta udah telpon balik. Katanya mau ngomong sama Ibu."
"MasyaAllaah... kamu apa kabar, Nak? Kenapa baru berkabar? Kata Sukma nomer hpnya juga ndak bisa dihubungi. Kamu kenapa, Nak?" Suara cemas kian terdengar jelas.
"Ssst, Ibu tenang, ya. Alhamdulillah Genta sudah sampe. Aman. Dan baik-baik aja. Iya, hpnya lowbat. Maaf ya, Bu."
"Syukurlah kalau baik-baik saja. Gimana Kakak temenmu itu? Dia baik 'kan? Kamu nyaman kan, Nak?"
"Genta... Nak...," aku terdiam memikirkan akan menjawab apa.
"Kamu baik-baik saja, Nak?" Suara Ibu masih menunggu jawabku.
"Alhamdulillah, semuanya baik, Bu. Oh ya, tadi motornya sudah sampai. Terus doain ya, Bu. Biar bisa bahagiain Ibu dan Sukma."
"Alhamdulillah. Aamiin. Ibu selalu do'ain kamu, Nak."
"Oh, ya. Sudah dulu ya, Bu. Pria mau beberes. Pria baik-baik aja di sini. Jadi Ibu di sana tenang, ya. Jangan kawatir."
"Yasudah, pokonya kalau ada apa-apa kabarin ya, Nak? Jangan seperti kemarin. Bikin Ibu kawatir.
"Iya, Ibuku sayang."
"Dek, titip Ibu, ya. Jaga dia baik."
"Assalamualaikum."
"Iya, Kak. Waalakumsalam.
***
"Sudah? Kamu sudah bilang ke dia, Mas? Hah? Kondisi sekarang sudah beda. Aku sudah di-PHK. Ditambah satu beban di rumah. Uang darimana?""
"Sssst, kamu jangan keras-keras. Gaenak sama Pria." Terdengar, Ahsan berusaha menenangkannya.
"Biar! Biar dia dengar dan tahu diri!!"
"Punten, Mas." Suaraku menjedakan keributan mereka.
"Ya, Pria? Ada apa?"
"Ada yang kurang dengan motornya?"
"Ndak, Mas. Motornya bener. Ndak ada yang kurang."
"Syukurlah... " ia nampak lega.
"Begini, Mas. Saya sepertinya cukup sampai bulan ini saja di sini. Saya begitu berterimakasih sudah ditolong dan diberi tumpangan sampai sekarang."
"Terimakasih aja mana cukup." Istrinya berceletuk.
"Huss!!" Mas Ahsan menegurnya.
"Ini, Mas. Diterima ya." Aku mengeluarkan amplop dan memberikan pada Mas Ahsan.
"Apa ini, Genta?"
"Anggap saja buat bantu biaya selama saya disini, Mas. Maaf, sudah banyak merepotkan."
"Ndak usah. Saya sudah menganggap kamu seperti adik saya sendiri."
Namun, istrinya langsung mengambil amplop dari tangan Mas Ahsan yang berusaha mengembalikannya padaku. Segera direbutnya.
"Syukur deh tau diri. Mana ada yang gratis!"
Mas Ahsan tampak kesal pada istrinya. Tapi menahan amarahnya di depanku. Suasana seperti ini membuatku makin bertekad diri. Pergi. Iya, aku harus pergi dari sini.
"Saya akan pindah besok, Mas, Mba. Sebelumnya terimakasih banyak sudah rela membantu."
"Ya-ya-ya." Istrinya berkata tetap dengan nasa ketusnya.
"Genta... saya minta maaf, ya."
"Ndak, Mas. Saya yang sudah merepotkan."
"Saya ijin pamit dulu ya, Mas. Mau ngecek motor."
Di luar, suara gemericik air mulai terdengar telingaku. Suaranya bernada indah dengan sempurna. Seperti saat aku melihat perempuan bermata teduh itu. Sejuk. Angin menghembus pelan. Rona jingga mulai memamerkan diri di langitnya. Teduh. Kuning. Kamu. "Siapakah sebenernya kamu?"
Genta berusaha menjalani pilihan yang ada. Ia tak tega kalau harus pulang tak membawa apa-apa. Minimal, sedikit bekal untuk pulang. Meski ia tak tahu akan menjalani kehidupan seperti apa saat pulang? Namun, sekarang adalah menjalani yang ada. Ya, menjalani yang ada.
Keluarga Irfan menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku."Nak Genta, saya sekeluarga pamit dulu. Sebentar lagi paling karyawan lain sudah masuk. Silahkan bekerja, ya.""Iya, Pak. Terimakasih banyak.""Semangat, Bro!" Irfan menepuk bahuku. Aku pun mengikuti langkah mereka keluar rumah.Saat Irfan dan keluarganya melesat jauh dengan mobil putih, aku terdiam sendiri. Mematung. Entah, menunggu seseorang menyapaku?Aku lihat sekelilingnya. Belum ada tanda-tanda karyawan lain sudah berangkat. Kulihat jam di ponselku. Pukul tujuh lebih dua puluh menit."Pantesan belum pada berangkat." Celetukku seraya memeriksa amplop upah pertamaku."Satu juta lima ratus ribu rupiah. Ah, sepertinya ini cukup untuk mengganti biaya hidupku. Sisanya bisa buat nyari kontrakan baru."Datang seorang perempuan berkerudung hitam. Berkulit kuning langsat, dan bermata teduh mendekatiku. Aku bergegas menaruh amplop di saku celanaku.
Kalian pernah menebak apa yang akan Genta itu putuskan? Tetap tinggal bersama Ahsan dan istrinya atau benar-benar memutuskan pindah?Begini, sayangnya kenyataan seringkali tak perlu ditebak. Meski takdir adalah sesuatu yang mirip tebak-tebakan. Bagaimana takdirmu beberapa detik setelah membaca ini? Pun tak ada yang tahu. Seseorang pernah mengatakan, "Jangan pernah menebak isi kepala perempuan."Namun, agaknya hal itu pun berlaku untuk laki-laki berwajah tegas bernama Genta itu. Ya, itulah dia. Aku sendiri. Setelah berbagai pertimbangan, ada satu hal yang benar-benar kuputuskan. Aku memilih pergi lebih jauh. Meski aku sendiri masih meragu bagaimana memakna jauh? Seperti seorang kekasih yang patah hati dan rela pergi sejauh ujung dunia ini? Ah, sebentar bukannya dunia ini bulat, bukan segitiga yang gampang ditebak ujungnya? Apa itu bermakna sejauh apapun pergi, hakikatnya ia tetap berada berputar di satu sisi: ingatan dan perasaannya sendiri.Aku merasa demikia
"Jangankan orang lain, tak jarang orangtua kita sendiripun belum tentu mengerti. Sejak aku mengenal kaum hawa, aku kira pertanyaan sia-sia yang paling populer dari mereka adalah, 'Kenapa gak bisa ngertiin aku?'"***Tak ada yang benar-benar mengerti selain diri sendiri. Kesepian barangkali semacam menu yang melekat pada tiap insan. Terutama, mereka yang senantiasa mengejar Cahaya. Berpegang teguh di dalamnya. Bersinar karena kebaikan-kebaikan yang ditebar, apapun yang diterimanya. Seorang aktivis Soe Hok Gie juga merasakan kesepian dalam menjalani hidupnya. Merasa sepi karena orang-orang tertentu tak mampu memahami jalan pikirnya. Idealisnya. Namun dia tetap fight dengan hal itu. Begitupun penulis sekelas Pramoedya Ananta Toer, selaras merasa kesepian—tersebab memang beberapa orang di sekitar kita barangkali memang tercipta bukan untuk memahami, tapi membentuk diri berjalan lebih tenang sendiri—tanpa puja puji."B
"Sukma, gimana? Sudah bisa dihubungi?" Ibunya Genta bertanya pada Sukma."Ibu kok kawatir sekali dengan Genta. Apa sudah sampai? Kenapa ia ndak kabarin Ibu?" Cemas kian menggelayutinya."Ibu tenang, ya. Mungkin hp Kakak mati. Jadi susah dihubungin."Gimana kalau dia benar-benar belum sampai?""Apa dia sudah makan?""Kenapa sampai sore hari tak berkabar?""Kan harusnya siang ini sudah sampai. Kenapa sampai sore begini, belum juga kabarin Ibu?""Ssstt, Ibu tenang, ya. Kakak pasti nggakpapa. Ibu istirahat dulu aja, ya. Biar nanti sorean Sukma telpon Kakak lagi.""Nak, tolong kabarin terus Kakakmu. Dia tak punya siapa-siapa di sana. Ibu kawatir dia kenapa-napa.""Iya, Bu... Ibu tenang, ya.""Ya Allah, Kakak kemana aja si? Kenapa gak berkabar juga?" Sukma ikut cemas.***Terik mentari siang itu cepat memudar. Setelah Genta makan siang di warung makan, ia segera bergegas pulang. Ada sedikit kelegaan yang di
Mataku memang tak berkaca. Tapi pikiranku sungguh penuh tanya. Apakah nanti di sana baik-baik saja? Di atas cemas Ibu dan adikku, sebenarnya aku lebih mencemasi diriku sendiri.Kupungut sedih yang tak kulukis di wajah. Tak kubiarkan wajah jadi kanvas lukisan mendung. Sebab awan mendung, tak pantas jadi pajangan. Begitu, pikirku.Kubalikkan wajah menatap Ibu dan Sukma, kutinggalkan senyum penuh tanda tanya."Esok?" "Bukankah hari inilah yang harus kulakukan sepenuhnya? Meski entah apa saja yang akan menimpa?" Aku tak membiarkan tanya itu keluar dari bagian tubuhku. Apalagi wajahku. Kembali, kukemasi segala cemas. Segala cemas kukemasi."Bismillaah... yaAllah, jika nanti benar yang terbaik, ridhoilah.""Bu, Genta pamit, ya. Cuma dua hari. Genta cuma ingin lihat suasana di sana dulu. Ada Kakaknya teman Genta di sana. Nanti Genta menginap di sana.""Kamu yakin?""Iya, Bu. Anggap saja ini semacam liburan. Tidak lama.""Bai
"Ada apa?" Genta bertanya pada salah satu temannya."Kamu dipanggil guru bimbingan konseling! Dari kemarin kenapa gak berangkat? Kamu ada masalah apa?""Masalah? Aku merasa tak ada masalah.""Ya sudah, lebih baik kamu temuin guru bimbingan konseling sana!""Baiklah. Makasih, infonya!"Beberapa saat kemudian, Genta keluar dari ruangan guru. Teman-temannya sudah cemas. Takut Genta tak lulus atau kabar buruk menyertainya."Gimana, Genta? Ada apa?""Tidak apa-apa. Bukan masalah ko. Tak usah kawatir.""Serius?""Iya.""Oh ya, kamu mau kemana setelah lulus nanti?""Lihat saja nanti ya. Aku mau pulang dulu.""Buru-buru?""Iya. Gatau kenapa lagi kangen Ibu.""Aneh banget kamu, Genta." Ucap salah seorang temannya.***Rumah ini pilihan IbuDipilih karena batu-batu rinduSapulah karena waktuKarena Ibu tahu kemana langkah waktuKarena Ibu...Rumah