Share

II. Part 1

Author: Nur Cahaya
last update publish date: 2020-09-24 01:33:27

Hari yang aku tunggu akhirnya tiba, aku menyiapkan pakaianku untuk seminggu ke depan menginap dirumah Rani. Hari ini aku berangkat ke rumah Rani menggunakan transportasi umum. Sebenarnya ayah berniat mengantarku, karna ini adalah untuk pertama kalinya aku pergi sendiri, tapi aku menolaknya, aku ingin mandiri. Selain itu, nanti diterminal Rani akan menjemputku. Aku berjanji akan sering memberi kabar pada orang tuaku agar mereka tidak khawatir.

Kepergianku ke rumah Rani, selain untuk membantunya menyiapkan perayaan ulang tahunnya, aku juga berniat untuk mencari pekerjaan karna aku sudah mendapat izin dari orang tuaku. Rani juga berjanji akan menemaniku. Setibanya di terminal, aku turun dan mulai mencari keberadaan Rani.

" Lisaaaaa... ! " terdengar Rani memanggilku.

Aku berjalan ke arah Rani, kemudian memeluknya.

" Lama nggak ketemu lo keliatan lebih mungil ya " candaku padanya.

Rani melotot dan mencubit lenganku. Kamipun tertawa bersama. Ah rindunya..

Selama perjalanan, kami bertukar cerita pengalaman selama kami tidak bertemu. Rani adalah sahabat yang baik, dia selalu setia mendengar ceritaku dan menasehatiku. Menurutku, Rani juga cukup dewasa, terbukti dari setiap perkataannya saat memberiku nasehat, selalu bisa menenangkan.

Mobil Rani sudah memasuki pekarangan rumahnya yang besar, aku turun dari mobil mengikuti Rani. Ku edarkan pandanganku di sekitar taman di rumah Rani, bersih dan terawat. Terlihat beberapa bunga bermekaran. Aku jadi teringat rumahku yang dulu, aku bersama ayah paling menyukai bercocok tanam dirumah untuk mengisi waktu weekend.

" ssstt.. Sssttt... Ssssttt " lamunanku buyar saat terdengar seseorang memanggil Rani.

" Siapa ?" tanyanya dengan mengarahkan dagunya ke arahku.

" temen " jawab Rani singkat.

Kami langsung menuju kamar Rani, sesampainya di kamar Rani, aku bertanya padanya siapa laki - laki yang barusan menyapanya, ternyata dia adalah kakak Rani. Aku baru ingat Rani mempunyai seorang kakak, karna selama aku berteman dengannya, aku sama sekali belum pernah bertemu dengan kakak Rani, aku bahkan sampai lupa Rani mempunyai seorang kakak. Aku sempat berfikir, kenapa Rani tidak pernah menceritakannya padaku. 

Hari sudah menjelang malam saat aku bangun dari tidurku, aku tidak menyadari tertidur saat kami bercerita tadi.

" lo udah bangun ? " sapa Rani.

" kenapa lo nggak bangunin gue ? Gue belum mandi " protesku.

" lo keliatan capek banget, gue kan nggak tega " jawab Rani.

" udah, lo mandi dulu, setelah itu kita turun, makan bareng, oke ? " sambungnya.

" oke deh " sabutku langsung menuju kamar mandi.

Setelah mandi, aku bersama Rani makan di meja makan, aku tidak melihat kakak Rani ikut makan bersama. Kalau orang tua Rani aku tahu, beliau pasti masih ada di luar negri, menjalankan bisnis mereka.

" kakak lo kemana ? Nggak ikutan makan malam bareng ?" tanyaku.

Rani hanya mengerdikkan bahunya, tanpa minat untuk menjawab. Setelah makan malam bersama, aku dan Rani memutuskan untuk duduk di balkon kamar menyiapkan apa saja yang perlu di beli untuk persiapan ulang tahunnya. Ulang tahun sederhana yang hanya akan di datangi kerabat dekatnya.

Tanpa terasa malam semakin larut, Rani memutuskan untuk tidur karna sudah sangat mengantuk. Sedangkan aku masih duduk di balkon kamar Rani, belum ingin tidur karna memang tadi aku baru terbangun menjelang makan malam. Rasa bosan menghampiriku, ku putuskan turun menuju ruang keluarga untuk menonton tv. Rumah Rani sangat sepi, mungkin semua penghuni rumah ini sudah tidur, pikirku. 

Aku duduk di sofa empuk di depan tv, mengambil remote tv dan kemudian menyalakannya, aku mencari acara yang bagus dan aku menemukannya. Acara drama korea kesukaanku, entah mengapa aku sangat menyukai drama korea, mungkin karna cerita romantisnya. Aku tersenyum - senyum sendiri.

" mau coklat hangat ?" tanya mas Andi.

Sontak aku kaget, sejak kapan mas Andi berdiri disitu, pikirku. Aku malu karna mungkin saja tadi dia melihatku tersenyum sendiri. Aku gugup, dan tanpa menunggu jawabanku dia duduk di sebelahku dan memberikan coklat hangat padaku.

" terima kasih " akhirnya kata itu yang keluar dari mulutku.

" kamu kok belum tidur ? " mas Andi bertanya.

Seketika bulu kudukku merinding, mas Andi bilang apa ? Kamu ?

" hei.. " tangannya melambai - lambai didepanku.

" oh, itu.. Aku belum ngantuk mas.. Mas Andi kenapa belum tidur ?" aku balik bertanya.

" aku, sama. Belum ngantuk juga " jawabnya

Aku kembali fokus menonton tv, kulirik mas Andi juga asik menonton dengan sesekali mengesap coklat hangatnya dan memainkan ponselnya. Mas Andi manis ya, pikirku. Dengan kulit kecoklatan dan rambut lurus terlihat rapi. Haish, kutepis pikiranku, jangan sampai berfikir yang lebih jauh. 

Sesaat hening, dan suasana menjadi kikuk ketika kami melihat adegan romantis di film. Aku mengambil minuman coklat yang sudah dingin, meminumnya sedikit sambil kulihat mas Andi yang masih terlihat santai. Aku bingung harus bagaimana karena aku malu harus menonton adegan ciuman bersama seorang pria, terlebih hanya berdua saja. Ya berdua saja.

Reflek kututup mukaku dengan bantal sofa, aku menertawakan sikapku dalam hati. Sekarang aku lebih malu lagi untuk menunjukkan wajahku karna tanpa sadar aku bersandar di lengan kanan mas Andi yang memang duduk di sebelah kiriku.

" kamu nggak papa ?" tanyanya.

' Ah, bodoh bodoh bodoh '.  Aku mengumpat dalam hati, ' kenapa aku harus salah tingkah sih '. Pikirku, aku berusaha menetralkan wajah dan perasaanku.

" nggak apa - apa kok mas " aku menjawab dengan tersenyum kikuk.

" santai aja " kata mas Andi lagi sambil tersenyum.

Oh Tuhan, mas Andi semakin terlihat manis dan karismatik kalau tersenyum, apalagi aku melihatnya sedekat ini. Aku memutuskan untuk bangkit dari dudukku dan masuk ke kamar sebelum pikiranku semakin melayang jauh. Namun, baru akan melangkah, mas Andi tiba - tiba menghentikan langkahku dengan memegang tanganku.

Deg

" mau kemana ? Kamu nggak lapar ? Temani aku cari makan di luar yuk " ajak mas Andi.

' Aku ingat, mas Andi tidak ikut makan malam tadi, mungkin karna itu saat ini dia lapar. Tapi di dapur banyak makanan, kenapa harus cari makan di luar ?' pikiranku mulai sibuk.

Tanpa menunggu jawabanku mas Andi menarik tanganku keluar rumah dan memasuki mobilnya. Aku hanya diam tidak menolak ajakannya karna ku pikir bukan ide buruk juga jalan - jalan di malam hari. Sudah sangat lama aku tidak melakukannya sejak pindah ke desa.

Mas Andi melajukan mobilnya pelan, aku menikmati suasana malam di kota yang tidak terlalu ramai. Mobil mas Andi memasuki area parkir sebuah cafe.

" kita ngopi aja ya, mendadak nggak laper " kata mas Andi menjelaskan, seolah mengerti yang aku pikirkan. Aku hanya mengangguk.

Mas Andi memilih duduk di sofa empuk di ujung dekat dengan jendela. Kami duduk berhadapan. Aku tersenyum melihat keluar jendela, rasanya menenangkan.

" kamu mau pesen apa ?" mas Andi menyodorkan buku menu, mengagetkan lamunanku.

Aku memilih coffe latte dan churros sebagai cemilan. Mas Andi lebih memilih coffe espresso. Pelayan cafe tampak mencatat pesanan kami. Dan meminta kami menunggu sebentar.

Hening, ku lihat mas Andi sibuk dengan ponselnya. Aku lupa membawa ponselku karna memang mas Andi langsung mengajakku keluar tanpa aku harus menyiapkan diri. Aku baru sadar, apa penampilanku terlihat berantakan ? Aku mulai merapikan rambut dan memegang wajahku, aku bahkan tidak memakai bedak ataupun lip balm.

" udah cantik kok, aku lebih suka kayak gini, cantikmu natural " ucap mas Andi tanpa menoleh, mengerti apa yang aku pikirkan.

Aku menghentikan aktifitasku merapikan rambut. Mas Andi melihatku dan tersenyum.

Deg, lagi.. Senyum mas Andi membuat aku salah tingkah.

Aku ikut tersenyum, mungkin saat ini mas Andi bisa melihat pipiku memerah dan salah tingkah. Tiba - tiba mas Andi menunjukkan ponselnya padaku, terpampang jelas fotoku disana sedang menatap keluar jendela.

" cantik kan ?" tanyanya.

" kamu nyuri - nyuri foto ya mas " kataku terkejut.

" maaf ya " katanya seraya mendekat dan duduk di sebelahku.

Aku hanya diam. Hening sampai akhirnya pelayan cafe datang dengan membawa pesanan kami.

Beberapa menit setelah pesanan datang tetap hening, aku terdiam dan mas Andi lagi - lagi sibuk dengan ponselnya. Aku mulai sebal melihatnya, dia yang mengajakku kesini tapi dia juga yang sibuk sendiri dengan ponselnya. Ku alihkan pandanganku keluar jendela.

" kamu marah ?" tanya mas Andi sambil meletakkan ponselnya diatas meja.

Lagi, pernyataan dan pertanyaan mas Andi selalu tepat dan seolah mengerti apa yang ada di pikiranku.

" nggak kok mas " aku berusaha menyangkal rasa sebal yang tidak seharusnya. Seharusnya aku berterima kasih telah diajak jalan - jalan malam hari.

" kok diam ? Nggak dimakan cemilannya " katanya kemudian.

Aku tersenyum, aku hampir lupa kalau ada makanan yang juga tidak aku pedulikan karna sibuk dengan pikiranku. Aku memakan churros pesananku, ku lihat mas Andi memperhatikanku.

" mas Andi mau ?" aku menawarkan.

" buat kamu aja " jawabnya tersenyum.

Tiba - tiba ada dua orang laki - laki mendekat dan menyapa mas Andi.

" hello bro.. Sorry tadi gue jemput si cunguk ini dulu, jadi lama " kata teman mas Andi sambil menunjuk teman di sebelahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Pertama Lisa   IV. Part 3

    Disaat ulang tahunnya Rani mengundang kerabat dekatnya untuk berkumpul, kenapa justru kakak kandungnya menghilang tidak menampakkan diri.Sungguh suatu kejanggalan menurutku. Tapi Rani tidak menceritakan apapun padaku, bahkan apapun tentang kakaknya itu.Aku berniat ke kamar mandi saat aku melihat seseorang duduk sendiri di taman belakang. Mas Andi, kenapa dia justru hanya diam disini. Aku mendekat, berniat mengajaknya masuk." mas, kenapa ada disini ? Masuk yuk " ajakku." bentar, cari angin " elaknya.Aku duduk di sebelahnya, mengikuti arah pandangnya yang menengadah ke langit. Bisa ku lihat banyaknya bintang bertebaran dengan sinarnya. Indah.Benar saja, seperti terhipnotis, aku ikut terdiam menikmati indahnya bintang bersinar di malam hari."nanti masuk angin " kata mas Andi seraya memakaikan jasnya padaku." terima kasih " aku tersenyum s

  • Cinta Pertama Lisa   III. Part 2

    " hello bro.. Sorry tadi gue jemput si cunguk ini dulu, jadi lama " kata teman mas Andi sambil menunjuk teman di sebelahnya." hei, ayo duduk " sahut mas Andi." lo sama siapa ? Kenalin gue donk " kata teman mas Andi sedikit berbisik. Tapi aku bisa dengan jelas mendengarnya." oh iya, kenalin ini calon istri gue " kata mas Andi kepada dua orang temannya, memperkenalkanku.Aku merinding, ada desiran halus di hatiku." nggak usah pake acara jabat tangan ! Awas lu ya macem - macem " sambung mas Andi ketika temannya baru akan mengulurkan tangan.Aku hanya tertawa kecil." idih " kata teman mas Andi menanggapi.Mas Andi kemudian tertawa mendengar tanggapan temannya.Mas Andi dan teman - temannya asik mengobrol, sedangkan aku sendiri hanya diam menatap luar jendela. Mereka membicarakan tentang bisnis yang mereka bangun bersama.

  • Cinta Pertama Lisa   II. Part 1

    Hari yang aku tunggu akhirnya tiba, aku menyiapkan pakaianku untuk seminggu ke depan menginap dirumah Rani. Hari ini aku berangkat ke rumah Rani menggunakan transportasi umum. Sebenarnya ayah berniat mengantarku, karna ini adalah untuk pertama kalinya aku pergi sendiri, tapi aku menolaknya, aku ingin mandiri. Selain itu, nanti diterminal Rani akan menjemputku. Aku berjanji akan sering memberi kabar pada orang tuaku agar mereka tidak khawatir.Kepergianku ke rumah Rani, selain untuk membantunya menyiapkan perayaan ulang tahunnya, aku juga berniat untuk mencari pekerjaan karna aku sudah mendapat izin dari orang tuaku. Rani juga berjanji akan menemaniku. Setibanya di terminal, aku turun dan mulai mencari keberadaan Rani." Lisaaaaa... ! " terdengar Rani memanggilku.Aku berjalan ke arah Rani, kemudian memeluknya." Lama nggak ketemu lo keliatan lebih mungil ya " candaku padanya.Rani melotot dan mencubit lenganku

  • Cinta Pertama Lisa   I. Prolog

    Dear Diary..Senja telah pergi berganti dengan gelapnya malam.Mulai terdengar nyanyian suara katak dan jangkrik bersahutan.Terkadang, aku merasa mereka ingin menghiburku.Aku yang kesepian.Tanpa kepastian, tanpa impian.Adakah yang bisa mendengar jeritanku ?Adakah yang bisa meredakan tangisku ?Adakah yang sanggup mengerti perasaanku ?Adakah seseorang.. ?Atau...Hanya katak, jangkrik dan gelapnya malam?Lisa with ❤⭐️⭐️⭐️Ku tutup buku bersampul biru di depanku, ku rebahkan diri di kasur empuk di kamarku, lalu ku pejamkan mata guna menetralisir pikiranku. Aku Lisa, Allyssa Kanza Mahardika. Aku berusia 17 tahun, kulitku langsat dan rambutku lurus kecoklatan. Tinggi badanku ideal, otakku pun bisa dimasu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status