Mag-log in" hello bro.. Sorry tadi gue jemput si cunguk ini dulu, jadi lama " kata teman mas Andi sambil menunjuk teman di sebelahnya.
" hei, ayo duduk " sahut mas Andi.
" lo sama siapa ? Kenalin gue donk " kata teman mas Andi sedikit berbisik. Tapi aku bisa dengan jelas mendengarnya.
" oh iya, kenalin ini calon istri gue " kata mas Andi kepada dua orang temannya, memperkenalkanku.
Aku merinding, ada desiran halus di hatiku.
" nggak usah pake acara jabat tangan ! Awas lu ya macem - macem " sambung mas Andi ketika temannya baru akan mengulurkan tangan.
Aku hanya tertawa kecil.
" idih " kata teman mas Andi menanggapi.
Mas Andi kemudian tertawa mendengar tanggapan temannya.
Mas Andi dan teman - temannya asik mengobrol, sedangkan aku sendiri hanya diam menatap luar jendela. Mereka membicarakan tentang bisnis yang mereka bangun bersama. Aku hanya sesekali mendengarkan.
" bosan ya ?" dengan tiba - tiba mas Andi memegang tangaku. Aku menoleh, melihatnya.
" pake aja ponselku biar nggak boring, aku ngobrol sama temen - temen sebentar " tambahnya lagi.
Aku mengangguk dan meraih ponsel yang diberikan mas Andi. Aku mulai stalking instagramnya. Aku follow instagramku, aku tersenyum. Lumayan banyak juga followersnya. Dari foto - foto di instagramnya, aku tahu kalau mas Andi hobi dengan motor cross. Ada beberapa fotonya dengan motor trailnya. Dia sering berkeliling mengikuti tour dan adventure.
Aku hanya melihat foto - foto di instagramnya, aku tidak mempunyai hak untuk melihat aplikasi yang lainnya. Lalu aku mulai menscroll feed instagram, lama - lama aku mulai bosan dan mengantuk. Aku mulai memejamkan mata dan sayup - sayup masih bisa ku dengar suara akustik penyanyi cafe menyanyikan lagu lawas Dewa 19.
' aku bisa membuatmu... Jatuh cinta ke padaku, meski kau tak cinta.... Kepadaku '
Kemudian aku bisa merasakan sebuah tangan memagang pundakku. Mas Andi menyandarkan kepalaku di pundaknya. Aku semakin larut dalam mimpiku.
⭐️⭐️⭐️
Ketika aku terbangun, aku melihat sekeliling. Aku terkejut karna aku sudah berada di kamar Rani. 'Aduh, apa yang terjadi kemarin ya? Kenapa aku bisa tidak sadar sama sekali', batinku. Begitu pulas tidurku sampai - sampai aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di kamar Rani.
" ada apa dengan ekspresi lo itu ? " Rani baru keluar dari kamar mandi. Entah ekspresi seperti apa yang Rani maksud.
" maksud lo ? " aku balik bertanya.
Rani memilih - milih baju yang akan dikenakannya, dia tidak menjawab pertanyaanku.
" tidur lo nyenyak ? Mimpi indah ? " tanya Rani lagi.
Aku semakin tidak mengerti dengan pertanyaan - pertanyaan Rani.
" emangnya kenapa ? "
" nggak ada, nanya doang " ku lempari Rani dengan bantal karna membuatku bingung, ternyata Rani hanya menggodaku.
" eh tapi Ran, gue semalem diajak mas Andi ke cafe, apa gue cuma mimpi ya ? Kok tiba - tiba gue bangun udh disini " tanyaku belum yakin.
" serius lo ? lo pasti ngebo lagi deh " jawab Rani meledek.
" kalau bukan mimpi dan gue ngebo lagi, berarti mas Andi yang bawa gue kesini donk ? Ah, malunya gue " aku menggelengkan kepala sambil menutup muka.
" nggak usah lebay deh, buruan sana mandi " Rani memukulku dengan bantal.
" Ran, nanti gue harus ngomong gimana ya kalau ketemu sama mas Andi " rengekku pada Rani.
" bilang aja makasih " jawab Rani cuek.
Aku memajukan bibirku, perkataan Rani ada benarnya juga. Segera aku ke kamar mandi dan menyelesaikan mandiku. Kemudian turun untuk sarapan. Lagi - lagi aku tidak melihat mas Andi ikut makan bersama kami. Mungkin dia masih tidur, pikirku.
Hari ini aku dan Rani berbagi tugas untuk menyiapkan pesta ulang Tahun Rani. Rani mendekor ruangan dan menyiapkan catering, sedangkan aku akan membeli perlengkapan dekorasi ruangan.
" lo yakin, nggak papa beli perlengkapan dekorasi sendiri ?" Rani tampak ragu.
" yakinlah Ran, udah lo tenang aja " aku meyakinkan.
" lo kan nggak pernah kemana - mana sendirian " Rani masih tampak khawatir.
" eh jangan salah, gue kesini kemaren sendirian " aku membela diri.
Rani tersenyum.
" Biar aku aja yang temenin." tiba - tiba mas Andi muncul dengan pakaian santai.
" loh mas, kirain masih tidur. Mas Andi nggak kerja ?" aku bertanya.
" aku lagi libur " jawab mas Andi santai.
Ku lihat Rani hanya diam.
" ayok " ajak mas Andi.
" lo hati - hati ya " kata Rani.
Aku mengangguk " pergi dulu ya "
Mobil mas Andi melaju pelan menuju pertokoan di pusat kota. Aku bimbang ingin menanyakan pada mas Andi perihal semalam, atau aku hanya perlu bilang terima kasih, seperti saran Rani. Kulirik mas Andi hanya diam fokus pada jalan di depannya.
" mas, makasih ya tadi malam " aku membuka suara.
" emang tadi malam kenapa ? " tanya mas Andi.
Aku bingung mau menjawab apa, apa benar semalam hanya mimpi ? Jika benar cuma mimpi, lalu sekarang aku harus menjawab apa ? Lagipula untuk apa aku bermimpi tentang mas Andi.
Mas Andi tertawa, mungkin aku terlihat konyol saat ini.
" kamu ternyata lumayan berat ya, kalo tidur ngebo lagi " ledek mas Andi.
Ku pukul lengan kirinya. Ku tutup wajahku yang memerah karna mas Andi meledekku. Melihat responku, mas Andi semakin tertawa. Ku palingkan wajahku menatap luar jendela.
" aku cuma bercanda, kamu itu lucu ya " tangan mas Andi membelai rambutku.
Aku melihat ke arahnya, mungkin bagi mas Andi, aku seperti adiknya. Tapi entah mengapa aku selalu merasa nyaman berada di dekat mas Andi, baru kali ini aku merasa seperti ini. Padahal baru dua kali juga aku berada di dekatnya. Aku tidak ingin terburu - buru mengansumsikan perasaanku.
" tadi malem, kamu keliatan capek banget. Aku nggak tega mau bangunin, jadi maaf ya, aku gendong kamu " jelasnya.
" maaf ya mas merepotkan " kataku.
" temenin aku sarapan dulu ya " pinta mas Andi.
Aku dan mas Andi sudah berada di sebuah rumah makan khas jawatimuran. Aku hanya memesan minuman karna aku memang baru saja sarapan.
" mas kenapa nggak ikut bareng kita aja tadi sarapan, kan sayang dirumah juga banyak makanan " tanyaku.
" tadi aku mandi, mau sarapan dulu keburu kamu pergi " jawab mas Andi.
" aku bisa nunggu kok " elakku
" aku pengennya ditemenin aja " jawabnya asal
Aku mencebikkan bibirku.
Setelah sarapan, aku berjalan dari toko satu ke toko lainnya untuk mencari bahan - bahan dekorasi ulang tahun. Satu jam berkeliling, akhirnya aku selesai berbelanja.
Sesampainya dirumah, aku mulai mendekorasi ruangan dibantu Rani dan dua orang asisten rumah tangga. Aku tidak lagi melihat ada mas Andi dirumah.
Hingga malam datang dimana acara pesta ulang tahun Rani diadakan, aku masih tidak melihat mas Andi. Setelah aku memberikan kado dan do'a terbaik untuk Rani, aku mencoba bertanya kepadanya tapi Rani hanya diam.
Aku mulai bertanya - tanya dalam hati, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh sahabat baikku. Aku pasti akan mencari tahu.
Disaat ulang tahunnya Rani mengundang kerabat dekatnya untuk berkumpul, kenapa justru kakak kandungnya menghilang tidak menampakkan diri.Sungguh suatu kejanggalan menurutku. Tapi Rani tidak menceritakan apapun padaku, bahkan apapun tentang kakaknya itu.Aku berniat ke kamar mandi saat aku melihat seseorang duduk sendiri di taman belakang. Mas Andi, kenapa dia justru hanya diam disini. Aku mendekat, berniat mengajaknya masuk." mas, kenapa ada disini ? Masuk yuk " ajakku." bentar, cari angin " elaknya.Aku duduk di sebelahnya, mengikuti arah pandangnya yang menengadah ke langit. Bisa ku lihat banyaknya bintang bertebaran dengan sinarnya. Indah.Benar saja, seperti terhipnotis, aku ikut terdiam menikmati indahnya bintang bersinar di malam hari."nanti masuk angin " kata mas Andi seraya memakaikan jasnya padaku." terima kasih " aku tersenyum s
" hello bro.. Sorry tadi gue jemput si cunguk ini dulu, jadi lama " kata teman mas Andi sambil menunjuk teman di sebelahnya." hei, ayo duduk " sahut mas Andi." lo sama siapa ? Kenalin gue donk " kata teman mas Andi sedikit berbisik. Tapi aku bisa dengan jelas mendengarnya." oh iya, kenalin ini calon istri gue " kata mas Andi kepada dua orang temannya, memperkenalkanku.Aku merinding, ada desiran halus di hatiku." nggak usah pake acara jabat tangan ! Awas lu ya macem - macem " sambung mas Andi ketika temannya baru akan mengulurkan tangan.Aku hanya tertawa kecil." idih " kata teman mas Andi menanggapi.Mas Andi kemudian tertawa mendengar tanggapan temannya.Mas Andi dan teman - temannya asik mengobrol, sedangkan aku sendiri hanya diam menatap luar jendela. Mereka membicarakan tentang bisnis yang mereka bangun bersama.
Hari yang aku tunggu akhirnya tiba, aku menyiapkan pakaianku untuk seminggu ke depan menginap dirumah Rani. Hari ini aku berangkat ke rumah Rani menggunakan transportasi umum. Sebenarnya ayah berniat mengantarku, karna ini adalah untuk pertama kalinya aku pergi sendiri, tapi aku menolaknya, aku ingin mandiri. Selain itu, nanti diterminal Rani akan menjemputku. Aku berjanji akan sering memberi kabar pada orang tuaku agar mereka tidak khawatir.Kepergianku ke rumah Rani, selain untuk membantunya menyiapkan perayaan ulang tahunnya, aku juga berniat untuk mencari pekerjaan karna aku sudah mendapat izin dari orang tuaku. Rani juga berjanji akan menemaniku. Setibanya di terminal, aku turun dan mulai mencari keberadaan Rani." Lisaaaaa... ! " terdengar Rani memanggilku.Aku berjalan ke arah Rani, kemudian memeluknya." Lama nggak ketemu lo keliatan lebih mungil ya " candaku padanya.Rani melotot dan mencubit lenganku
Dear Diary..Senja telah pergi berganti dengan gelapnya malam.Mulai terdengar nyanyian suara katak dan jangkrik bersahutan.Terkadang, aku merasa mereka ingin menghiburku.Aku yang kesepian.Tanpa kepastian, tanpa impian.Adakah yang bisa mendengar jeritanku ?Adakah yang bisa meredakan tangisku ?Adakah yang sanggup mengerti perasaanku ?Adakah seseorang.. ?Atau...Hanya katak, jangkrik dan gelapnya malam?Lisa with ❤⭐️⭐️⭐️Ku tutup buku bersampul biru di depanku, ku rebahkan diri di kasur empuk di kamarku, lalu ku pejamkan mata guna menetralisir pikiranku. Aku Lisa, Allyssa Kanza Mahardika. Aku berusia 17 tahun, kulitku langsat dan rambutku lurus kecoklatan. Tinggi badanku ideal, otakku pun bisa dimasu