ANMELDENSemua orang selalu memandangku sebelah mata. Kita kembar, namun yang mereka lihat hanya Maria, bukan aku - Rania. Aku hanya menjadi bayang - bayangnya. Semua perhatian, tercurah kepada Maria, sementara aku, tak pernah mendapatkan perhatian sekecilpun. Aku sendirian, dalam kegelapan, dan ketidak sempurnaan. *** "Jika Rania mati, apa Papah mau memeluk Rania? Meski hanya untuk sekali saja?" tanya Rania dengan terisak. "Bagi saya, hanya Maria anak saya. Bukan kamu. Mati pun saya tidak akan peduli dengan kamu." kata Rama dengan dingin.
Mehr anzeigenRania, merasa tubuhnya sangat pegal. Dia memutuskan untuk beristirahat sejenak, karena sedari tadi dia lelah bekerja seharian mengurus rumah sebesar istana. Dia, mencoba memejamkan matanya sebentar. Belum sampai ke alam bawah sadarnya, Rania merasakan tubuhnya basah karena guyuran air."Bangun kamu pemalas!"Rania yang gelagapan karena guyuran air, membuka matanya dan merubah posisinya menjadi duduk. Didepannya, Rama dengan tatapan tajam menatap Rania dengan tangan yang berkacak pinggang."Jadi ini yang kamu kerjakan di rumah saya? Bermalas - malasan, tanpa sepengetahuan saya?!"Rania menggelengkan kepalanya lemah. Dia, menggigit bibirnya tak berdaya dihadapan pria itu."Pah, Rania sudah bersihin rumah kok. Cuma, tubuh Rania sedikit lelah, jadinya istirahat sebentar Pah.""Bersihin rumah kamu bilang?"Rama dengan kasar menarik tangan Rania. Rania, perempuan itu terseret dengan tertatih. Lengannya yang dicengkram kasa
Delapan belas tahun sudah Rania lalui, Kehidupan menuntut dia dewasa sebelum waktunya. Semua harus dia kerjakan seorang diri, tanpa kasih sayang siapapun. Tetapi wanita itu menerimanya, berharap bahwa kelak takdir akan membawanya ke atas. Dia percaya, kebahagiaan akan menjemputnya, meski, saat ini dia merasa menderita.Dengan kaos tipis berenda, dipadukan dengan rok dibawah lutut, wanita itu memegang sapu dan mulai menggerakan ke depan dan belakang menarik dedauan yang jatuh dari pohon besar. Dia melakukannya dengan tersenyum, meski bulir keringat jatuh mengganggu pandangan wanita itu. Sesekali bulir keringat dia sapu dengan kulit putihnya, terus berulang hingga daun – daun tadi menggunung menjadi satu.“Akhirnya, pekerjaan pertama sudah selesai. Aku tinggal membuangnya ditempat sampah.”
Didepan meja, sudah terdapat sebuah kue dengan lilin yang menyala. Dia tersenyum, lebih tepatnya memaksakan dirinya untuk tersenyum. Tangannya mengatup didepan dadanya, matanya terpejam."Selamat ulang tahun Rania, sama seperti tahun sebelumnya, selalu sendirian. Di tahun ini, semoga Papah mau menyayangi Rania. Rania, sayang Papah..."Dia meniup lilinnya, lalu air matanya menetes. Dia terisak, melihat foto album yang ada diatas meja samping kue ulang tahunnya.Disana, seorang wanita dewasa dan pria, memeluk seorang anak perempuan mirip sepertinya. Rania tersenyum, dia mengelus bingkai fotonya."Mungkin belum waktunya Papah sayang sama Rania. Rania akan nunggu Papah sayang seperti Papah sayang Kak Maria."Dia memeluk bingkai fotonya, dia terisak dengan kencang. Dadanya sesegukan naik turun merasakan sesak didadanya. Dia merasa kesepian, sepanjang hidupnya. Tanpa mendapatkan kasih sayang dari sang Papah.Kesepian, seora





