MasukYogyakarta menjadi salah satu tujuan yang sengaja dipilih Rubie untuk menyendiri. Setelah memberikan uang fee pada petugas yang mengantarkan mereka menuju kamar villa, Rubie meletakkan tas yang sedari tadi menempel dipundaknya di atas me
Hidup itu adalah sebuah pilihan. Terdengar mudah, kan? Tapi nyatanya tidak. Memilih tidak semudah itu untuk Rubie. Keinginan terdalamnya tidak semudah itu dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa. Setelah peristiwa naas itu, kehidupan Rubie tidaklah sama. Ia menutup semua komunikasi dengan siapapun. Rubie bahkan tidak sudi bertatapan muka dengan lawan jenis. Tragisnya lagi ia akan menjerit dan berteriak membabi buta apabila anggota tubuhnya tidak sengaja disentuh. Bahkan yang lebih ekstrimnya, Rubie pernah mencoba bunuh diri dengan menyayat nadinya berulang kali. Tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Sampai-sampai pihak rumah sakit harus mengikat kedua tangannya di tempat tidur.
Perpustakaan kampus tampak sepi pengunjung hari ini. Cuaca di luar yang terlihat mendung sangatlah wajar hingga membuat siapapun malas dan memutuskan betah di kosan masing-masing. Namun tidak berlaku dengan mahasiswa tahun akhir seperti Rubie. Hari itu Rubie harus kembali meminjam buku referensi untuk tambahan materi penelitiannya kelak. Rubie meregangkan punggungnya yang lelah. Sedari pagi hingga petang, tidak ada satu paragraf pun yang berhasil ia ketik di layar notebook. Rasanya tumpukan buku yang telah dipilahnya jauh-jauh hari itu kurang memuaskannya. Namun hari sudah terlanjur sore dan sebentar lagi ia pasti akan disuruh pulang oleh kakak penjaga perpustakaan. Rubie menenteng beberapa buku dalam pelukannya dan secepatnya pergi meninggalkan perpustakaan. Rubie menoleh ke belakang. Beberapa laki-
Pintu apartemen Rubie tidak terkunci. Sedangkan Rubie tidak berada di tempat. Berulang kali Tobias mencoba menghubungi ponselnya, tapi tidak bisa. Ponsel Rubie dalam keadaan tidak aktif. Sungguh aneh. Rubie yang terkenal selalu teliti dalam hal apapun itu bisa-bisanya sampai lupa mengunci pintu. Tobias mencoba membuka pintu kamar mandi.Terkunci? Batin Tobias.
Tobias menatap ponselnya berulang-kali. Tidak ada telepon serta pesan Whatsapp satu pun dari Rubie. Mereka berdua memang memutuskan untuk break sejenak seperti kesepakatan yang mereka buat minggu lalu. Tapi, tanpa pesan satu pun? Sepertinya sedikit keterlaluan bagi Tobias. Tipikal mudah khawatir dan posesif seperti Tobias pastinya akan sangat tersiksa sekali melewati satu hari tanpa kabar dari Sang Pujaan Hati. Sedangkan Rubie, sepertinya bukanlah tipikal perempuan yang akan peka dengan perasaannya jika tidak diberitahu terlebih dahulu.
Pemandangan yang disuguhkan kedua matanya kemarin benar-benar sulit untuk Arvino percayai. Arvino mengenali siapa sosok perempuan yang hendak ia temui sore itu. Rencananya sore itu Arvino ingin mengajak Rubie jalan-jalan sembari membahas hal yang sempat tertunda oleh keduanya. Namun apa yang Arvino lihat? Perempuan pujaannya itu tengah digandeng masuk ke dalam sebuah mobil jenis sporty yang melaju melewati mobil miliknya. Tanpa sadar Arvino mengikuti ke mana mobil di depannya melaju. Bahkan ketika mobil yang ia ikuti memasuki area parkiran sebuah Mall, Arvino pun masih setia mengikuti.