LOGINTak ada gading yang tak retak. Tak ada cinta yang tak patah. Sama halnya dengan hidupnya. Laki-laki itu menunggunya. Perempuan itu dicintai sedemikian besarnya hingga membuat siapa saja merasa iri. Sungguh beruntungnya perempuan itu. Betapa bahagianya perempuan itu. Tapi nyatanya perempuan itu memilih untuk pergi. Perempuan itu memilih mundur dari cintanya sendiri. "Aku mencintainya hingga dada ini terasa terbelah. Tapi kenapa dia pergi tanpa memberikan alasan yang pantas? Padahal aku bisa menerima semuanya, tapi kenapa dia tetap pergi?” __Tobias Chandrawinata__ "Dia tidak jujur, aku pun demikian. Kita sama-sama perlu waktu untuk menata ulang rasa ini. Dia mungkin bisa menerima, tapi aku? Aku terbebani.” __Rubiena Mahendra__
View MoreYogyakarta menjadi salah satu tujuan yang sengaja dipilih Rubie untuk menyendiri. Setelah memberikan uang fee pada petugas yang mengantarkan mereka menuju kamar villa, Rubie meletakkan tas yang sedari tadi menempel dipundaknya di atas me
Hidup itu adalah sebuah pilihan. Terdengar mudah, kan? Tapi nyatanya tidak. Memilih tidak semudah itu untuk Rubie. Keinginan terdalamnya tidak semudah itu dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa. Setelah peristiwa naas itu, kehidupan Rubie tidaklah sama. Ia menutup semua komunikasi dengan siapapun. Rubie bahkan tidak sudi bertatapan muka dengan lawan jenis. Tragisnya lagi ia akan menjerit dan berteriak membabi buta apabila anggota tubuhnya tidak sengaja disentuh. Bahkan yang lebih ekstrimnya, Rubie pernah mencoba bunuh diri dengan menyayat nadinya berulang kali. Tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Sampai-sampai pihak rumah sakit harus mengikat kedua tangannya di tempat tidur.
Perpustakaan kampus tampak sepi pengunjung hari ini. Cuaca di luar yang terlihat mendung sangatlah wajar hingga membuat siapapun malas dan memutuskan betah di kosan masing-masing. Namun tidak berlaku dengan mahasiswa tahun akhir seperti Rubie. Hari itu Rubie harus kembali meminjam buku referensi untuk tambahan materi penelitiannya kelak. Rubie meregangkan punggungnya yang lelah. Sedari pagi hingga petang, tidak ada satu paragraf pun yang berhasil ia ketik di layar notebook. Rasanya tumpukan buku yang telah dipilahnya jauh-jauh hari itu kurang memuaskannya. Namun hari sudah terlanjur sore dan sebentar lagi ia pasti akan disuruh pulang oleh kakak penjaga perpustakaan. Rubie menenteng beberapa buku dalam pelukannya dan secepatnya pergi meninggalkan perpustakaan. Rubie menoleh ke belakang. Beberapa laki-
Pintu apartemen Rubie tidak terkunci. Sedangkan Rubie tidak berada di tempat. Berulang kali Tobias mencoba menghubungi ponselnya, tapi tidak bisa. Ponsel Rubie dalam keadaan tidak aktif. Sungguh aneh. Rubie yang terkenal selalu teliti dalam hal apapun itu bisa-bisanya sampai lupa mengunci pintu. Tobias mencoba membuka pintu kamar mandi.Terkunci? Batin Tobias.