LOGINhalo... selamat membaca hasil karyaku
semoga kalian suka
jangan lupa follow ig @littleeva93 untuk info pembelian buku
terima kasih :)
LOVE YOUUUU
BE MY GIRLFRIEND
HIILARY melambaikan tangannya pada Angkasa. Hari ini ia sangat lelah, semua ini karena ia harus menghabiskan waktu bersama Angkasa. Bukan salah Angkasa sebenarnya, ia sendiri yang memutuskan untuk ikut dengan Angkasa. Dan yang lebih membuatnya lelah adalah kenyataan bahwa Angkasa dan Jullio ternyata saudara kandung. Sepanjang jalan, ia terus memikirkan kenyataan bahwa kedua orang yang saat ini dekat dengannya adalah saudara kandung. Bahkan, saat ia sampai di rumah pun, ia masih juga memikirkan mereka berdua.
Gerbang rumah dibuka oleh satpam yang berjaga di rumahnya. Begitu memasuki garasi mobilnya, mobil Jullio sudah tidak ada di sana. Hillary mendesah lega. Ia hanya takut kalau ayah atau kakaknya memergoki laki-laki di rumahnya.
“Hay,” sebuah suara mengagetkan Hillary. Gadis itu terlonjak hingga ia hampir menjatuhkan ponsel di tangannya.
“Kau!” Hillary menendang kaki Jullio secara spontan. “Kenapa kau mengagetkanku!”
“Sakit!” Jullio mencebik. Hillary terlihat lelah, salahnya juga karena telah mengagetkan gadis itu. “Kenapa baru pulang?”
“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan di rumahku? Dan bagaimana kau bisa masuk ke sini?”
“Aku sudah kenal satpammu. Dia membiarkanku masuk,”
“Lain kali aku harus menegurnya,”
“Lakukan saja. Kurasa dia akan memihakku.”
“Aku yang menggajinya. Bukan kau!”
Mereka terus berdebat sepanjang jalan menuju kamar Hillary. “Kau tidak mengusirku?” tanya Jullio.
“Tidak,” Hillary tersenyum. “Apa kau ada perlu denganku?” gadis itu membuka pintu kamarnya. Setelah melepas sepatu, meletakkan tas di tempatnya, ia segera mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
“Kurasa tidak. Aku hanya ingin menumpang tidur di sini.”
“Tidak boleh.” Hillary menjulurkan lidahnya sebelum menutup pintu kamar mandi. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran Jullio. Lama-kelamaan, pria itu tidak semenyebalkan seperti sebelumnya. Mungkin Hillary lah yang terlalu kasar padanya.
Usai mandi, Hillary mengganti pakaiannya dengan piyama panjang seperti biasa. Matahari sudah lama tenggelam. Sudah saatnya ia mengistirahatkan tubuh dan otaknya. Hillary melihat Jullio yang kini duduk di ranjangnya. Laki-laki itu sepertinya tengah asyik bermain game.
“Kau mau pulang jam berapa?” Hillary mengambil ponselnya lalu mengisi baterai gawainya.
“Aku akan menginap di sini,” jawab Jullio. “Boleh aku mandi?”
“Silakan.” Jawab Hillary. “Kau sudah makan?” tanya Hillary sebelum Jullio masuk ke kamar mandi. “Sudah.”
“Oh…”
Lima belas menit kemudian, Jullio dan Hillary kembali duduk di ranjang. Kali ini, Jullio membantu Hillary mengerjakan soal-soal fisikanya. Hillary bosan melihat tugas-tugasnya. Belum lagi berbagai macam laporan yang harus ia selesaikan. Ayahnya membebani dirinya dengan setumpuk laporan keungan yang harus ia periksa setiap satu bulan sekali.
“Apa kau selalu mengerjakan laporan keuangan kantor ayahmu?” tanya Jullio tiba-tiba.
“Daddy tidak bisa mempercayakan perusahaan kepada orang lain. Beliau ingin aku dan kakakku yang mewarisi perusahaannya.”
“Pasti rumit,” komentar Jullio.
“Tidak juga. Sejujurnya, aku menikmati pekerjaan yang diberikan oleh daddy. Terkadang, laporan keuangan ingi sedikit menghiburku.”
“Menghibur?” Jullio melipat keningnya. Bagaimana bisa laporan keuangan yang terlihat rumit bisa menjadi hiburan bagi seseorang?
“Ya. Sejak kecil aku suka sekali dengan apa saja yang berhubungan dengan angka. Sedikit konyol memang, tapi aku memang menukainya.” Hillary menutup komputernya. Setelah meletakkan benda berbentuk kotak itu di meja belajar, ia segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang. “Apa kau masih kuliah?” tanya Hillary penasaran. Sebenarnya, selama ini ia sangat yakin kalau Jullio bukanlah laki-laki brengsek seperti yang selama ini ia pikirkan.
“Kuliahku berantakan.” Jawab Jullio enggan. “Aku tidak ingin membahasnya.”
“Kenapa tidak?”
“Sudahlah. Tidak penting juga.”
“Aku ingin mendengarnya,”
Jullio mendengus. Mungkin Hillary akan merasa jijik dengannya. Ia bukanlah laki-laki yang pantas untuk bersanding dengan Hillary. “Aku tidak ingin membahas masalah ini.” Ucap Jullio malas.
“Kalau begitu pergilah dari rumahku.” Hillary berkata enteng. Ia lalu masuk ke dalam selimut dan mengubur dirinya di sana. Percuma saja mempercayakan tubuhnya pada Jullio jika laki-laki itu bahkan tidak mau menceritakan kehidupan pribadinya?
“Baiklah, baiklah.” Jullio menegakkan punggung, bersandar di kepala ranjang dengan malas. “Aku sudah lulus kuliah sejak setahun yang lalu.”
“Berapa usiamu?”
“Dua puluh tiga bulan depan.”
Hillary mengangguk-anggukan kepalanya. “Kalau begitu kau termasuk anak yang cerdas. Kau bisa lulu secepat itu.”
“Ya. Aku melanjutkan kuliahku. Dan setelah satu semester, aku memutuskan keluar.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin membahasnya.”
“Jullio…” suara lembut Hillary terdengar sangat menggoda di telinga Jullio. Pria itu mengerucutkan bibirnya. Kenapa pula ia tergoda hanya dengan suara Hillary.
“Ibuku meninggal. Sejak saat itu aku tidak pernah kuliah lagi.”
“Dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di klub malam?” Sindir Hillary.
Mau tidak mau Jullio meringis. “Aku harus ke club itu.”
“Harus?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Club malam itu diberikan padaku setelah ibuku meninggal.”
“Jadi club itu milikmu?”
“Begitulah. Aku harus mengelolanya jika ingin mendapatkan uang.”
“Bagaimana dengan ayahmu?”
Jullio ikut berbaring dengan Hillary. Ia menatap lekat-lekat mata biru milik gadis itu. Sorot mata itu menyejukkan, Jullio menyukainya. “Haruskan kujawab?”
Saat Hillary baru saja akan mengatakan iya, Jullio lebih dulu menyambar bibir Hillary. Hillary yang awalnya ingin protes mengurungkan niatnya karena ia juga merasa membutuhkan ciuman ini. Keduanya hanyut ke dalam ciuman bertubi-tubi itu. Jullio menginginkan ciuman itu. Tidak berbeda jauh dengan Hillary. Mereka saling menahan diri masing-masing. Jullio tidak ingin menyakiti Hillary. Dan Hillary yang tidak ingin merusak masa depannya.
“Maukah kau menjadi milikku?”
“Tidak mau,” Hillary menetralkan napasnya. Dimiliki oleh pria seperti Jullio mungkin akan menjadi pengalaman menyenangkan untuknya. Namun, mengorbankan masa depannya? Sunggug, Hillary tidak mau hal buruk menimpa keluarganya. Setelah…
“Aku mencintaimu, sangat…”
“Kau mengatakannya kepada semua wanita,”
“Tidak. Aku bersumpah.”
Ingin sekali rasanya Hillary mempercayai hal itu. Mempercayakan hatinya pada Jullio. Rasanya, tidak masalah jika sesekali ia membuka hati untuk lelaki lain selain Angkasa. Namun, siapa yang akan bertanggung jawab jika hatinya dilukai oleh Jullio? Lagipula, bukanlah saat ini ia sedang dekat dengan Angksa. “Aku tidak siap menjalin hubungan serius dengan siapa pun,”
“Kita bisa memulainya pelan-pelan. Lama-lama, kau pasti terbiasa.”
Ujung bibir Hillary terangkat. “Baiklah, aku akan mencoba.”
“Ceritakan bagaimana harimu,”
“Biasa saja. Dan kau?”
“Sama.”
Sisa malam itu, mereka kembali saling memiliki dalam dekapan. Hillary membiarkan Jullio tidur dengannya. Ciuman adalah ritual rutin yang selalu mereka lakukan sebelum akhirnya keduanya terlelap dan pindah ke alam mimpi. Jullio tidak akan membiarkan dirinya dikendalikan oleh nafsu. Jullio tidak ingin merusak masa depan Hillary. Meskipun entah mengapa, ia juga rasanya tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
Pagi hari, mereka terbangun dalam kondisi yang sama seperti sebelumnya. Sama-sama setengah telanjang. Jullio membelai wajah Hillary dengan sayang. Ia ingin sekali melihat wajah itu setiap kali ia membuka mata di pagi hari. Jullio tidak peduli jika ia harus menunggu seribu tahun untuk hal yang satu ini. Ia akan terus menunggu, menunggu dan menunggu.
“Ada apa denganmu?” Hillary membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah senyuman Jullio. Menyenangkan memang, tapi hal itu justru membuatnya gugup.
“Selamat pagi, calon istri.”
“Huh, masih seperti biasa?” Hillary memiringkan kepalanya. “Percaya diri level Dewa!”
Jullio terbahak. Kenapa terbangun di sisinya seperti ini seolah aku memiliki dunia yang berisi kebahagiaan? Tanpa rasa sakit? Tanpa luka dan derita? “Satu tahun lagi, menikahlah denganmu.”
“Menikah dengan pria brengsek, fuckboy¸sepertinya bukan impianku.”
“Seringkali impian seseorang memang tidak bisa diraih dengan mudah. Kenapa harus bermimpi jika kau bisa memiliki aku di dunia nyata?”
“Tapi bukan kau yang kuinginkan di dunia nyata, Jullio.”
“Terus saja mengelak. Kelak kau akan mencariku dan memohon cintaku.”
“Kita tunggu saat hari itu tiba.” Hillary mencium Jullio lebih dulu. Ah, biarlah ia menghabiskan saat-saat menyenangkan bersama Jullio. Toh, selama ini Jullio tidak keberatan dengan hubungan mereka. Hubungan yang tidak ia ketahui akan dibawa kemana.
**
Kembali ke sekolah. Hari ini, adalah hari terakhir sebelum ujian nasional digelar. Minggu depan seluruh siswa kelas sepuluh dan sebelas akan diliburkan. Angkasa menyiapkan diri dan mentalnya untuk hal yang satu ini. Ia ingin sebelum ujian dimulai, Hillary mengetahui tentang perasaannya. Ya, Selama ini Angkasa menyimpan perasaannya untuk Hillary. Ia hanya tidak menyadarinya saja. Selama ini Angkasa terlalu sibuk memperhatikan Elsa sehingga ia sadar bahawsa bukan Elsa yang ia inginkan, melainkan Hillary.
Angkasa menunggu hingga bel sekolah berdentang. Saat semua teman-teman di kelasnya berlari menuju gerbang, ia justru berlari menghampiri kelas Hillary. Seperti biasa, gadis itu masih duduk manis di kursinya. Dengan buku yang terbuka lebar dan music yang mengalun lembut, Hillary menikmati buku yang di mejanya.
“Belum pulang?” Angkasa mendaratkan pantatnya di meja Hillary. Tidak sopan.
Hillary terlonjak kaget. Kenapa kakak-adik ini memiliki kebiasaan yang sama? Sama-sama suka mengejutkan orang. Gerutunya dalam hati. “Belum. Kau sendiri?”
“Aku berniat mengajakmu ke rumahku lagi.”
“Aku tidak bisa,” tolak Hillary halus. Hari ini ia akan pulang lebih awal. Jullio menunggunya di rumah. Jullio akan mendiskusikan tentang club malamnya. Pria itu ingin mengelola club dengan lebih baik lagi. Bagaimanapun juga, club malam itu satu-satunya penghasilannya saat ini. Dan Hillary berniat akan membantu Jullio mengelola club malam itu.
“Kau ada acara?” Tanya Angkasa terdengar kecewa.
“Ya. Beberapa hari ini aku selalu terlambat. Aku ada janji dengan kakakku hari ini. Tidak apa-apa kan?”
“Ya,” Angkasa menelan kekecewaaannya. Tidak masalah jika memang Hillary tidak bisa pulang dengannya. Yang terpentingb saat ini adalah, Angkasa ingin mengungkapkan perasaannya pada Hillary.
“Kuharap kau tidak marah,” Hillary mengulas senyum. Sebuah senyuman yang berhasil membuat jantung Angksa berlompat-lompatan.
“Tidak. Lain kali aku akan berkunjung ke rumahmu,”
Hillary tersedak ludahnya sendiri. Ia batuk beberapa kali sebelum akhirnya kembali tenang karena Angkasa memberinya air mineral. “Kau baik-baik saja?” tanya Angkasa panic.
“Ya,” dusta Hillary. Mampir ke rumahnya? Sementara di rumahnya ada Jullio? Tidak, Hillary tidak akan membiarkan hal itu terjadi. “Kakakku tidak mengijinkan teman laki-lakiku datang ke rumah.”
“Oh,” Angkasa seolah paham dengan ucapan Hillary. “Baiklah kalau begitu, kau saja yang datang ke rumahku.”
Hillary tersenyum. “Bolah.” Meskipun ia tidak yakin dengan jawaban itu.
Baik di rumahnya ataupun di rumah Jullio, ia sama-sama akan bertemu dengan Jullio kan?”
“Maukah kau jadi pacarku?” bisik Angkasa tepat di telinga Hillary. Angkasa mengecup pipi Hillary singkat. Membuat pipi Hillary bersemu merah. Untungnya tidak ada yang melihat mereka waktu itu.
halo... selamat membaca hasil karyakusemoga kalian sukajangan lupa follow ig @littleeva93 untuk info pembelian buku
halo... selamat membaca hasil karyakusemoga kalian sukajangan lupa follow ig @littleeva93 untuk info pembelian buku
halo... selamat membaca hasil karyakusemoga kalian sukajangan lupa follow ig @littleeva93 untuk info pembelian buku
halo... selamat membaca hasil karyakusemoga kalian sukajangan lupa follow ig @littleeva93 untuk info pembelian buku
halo... selamat membaca hasil karyakusemoga kalian sukajangan lupa follow ig @littleeva93 untuk info pembelian buku
halo... selamat membaca hasil karyakusemoga kalian sukajangan lupa follow ig @littleeva93 untuk info pembelian buku