Home / All / JULLIO and HILLARY / WHERE IS YOUR MOM?

Share

WHERE IS YOUR MOM?

Author: NUR EVA LAILY
last update publish date: 2020-10-01 16:51:32

halo... selamat membaca hasil karyaku

semoga kalian suka

jangan lupa follow ig @littleeva93 untuk info pembelian buku

terima kasih :)

LOVE YOUUUU

WHERE IS YOUR MOM?

JULLIO tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Hillary. Selama ini, ia selalu berusaha untuk tidak terlalu jauh menjalin hubungan dengan Hillary. Jullio tahu ia tidak akan bisa menyentuh Hillary lebih dari ini. Ia tidak mau melihat masa depan Hillary rusak karena dirinya. Namun, dengan keadaan, saat Hillary bahkan tidak canggung berdiri di dalam pelukannya tanpa busana, rasanya ia tidak yakin  bisa menahan diri lebih lama lagi.

Bibir ranum Hillary menyesap bibirnya penuh hasrat.  Jullio yakin lima menit lagi Hillary tidak akan selamat dari amukannya. Jullio menggelengkan kepalanya berkali-kali. Membuatnya pagutan bibirnya dan bibir Hillary terlepas begitu saja. “Kumohon…” bisiknuya parau.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu.” Hillary menyapukan jemari lentiknya di dada bidang Jullio. Rona merah yang menjalar di sekitar leher dan wajah Jullio membuatnya sedikit gugup. Sekaligus bahagia. Jika boleh jujur, Hillary sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya setelah ini. Namun, menggoda Jullio seperti sekarang ternyata mengasyikkan. Dan Hillary masih sangat penasaran dengan hubungan antara pria dan wanita. Oh, ayolah, usianya baru tujuh belas tahun. Hillary mungkin gila. Tapi ia tidak akan menyesali kegilaannya.

Jullio mengerang. Sialan! Umpatnya dalam hati. “Kita tidak bisa melakukannya ini, Hill.”

“Kenapa tidak?” Hillary berjalan mengitari Jullio dan berhenti tepat di belakang Jullio. Ia memeluk Jullio dari belakang dan mencium pundak pria muda itu. “Kupikir bkita bisa melakukan kegilaan di sini.”

“Kau masih sekolah.”

Bibir Hillary melengkung ke atas. “Lalu, apa hubungannya?” satu tangan Hillary masuk ke dalam celana dalam Jullio.

“Itu masalah besar. Bagaimana jika kau hamil?”

“Mungkin kau punya kondom?” satu kata itu terdengar sangat vulgar di telinga Hillary sendiri. Kondom? Memangnya sejak kapan ia memakai kondom? Melihat bentuknya saja Hillary belum pernah. Apalagi membayangkan bagaimana benda itu bisa mencegahnya hamil. Astaga. Benar- benar keterlaluan.

Dengan gerakan super cepat, Jullio berbalik dan menangkap pinggang Hillary agar mereka berdua tidak terjatuh. Jullio bisa melihat betapa terkejutnya Hillary saat itu. “Kau mau bermain-main?”

“Tidak.” Hillary berjinjit untuk mengecup bibir Jullio lagi. “Jadi, kau mau atau tidak?”

“Berjanjilah kau tidak akan menyalahkanku jika kau hamil.”?

“Jangan hamili aku kalau begitu,”

“Kau takut?” salah satu tangan Jullio meremas pantat sekal Hillary. Melihat itu, Hillary mengaduh pelan.

“Tidak.” jawab Hillary mantap. “Aku hanya belum siap mengurus anakmu.”

“Anak kita kalau kau yang mengandungnya.”

“Aku akan dengan senang hati mengandung anakmu. Tapi nanti setelah aku lebih dewasa dari ini.”

“Lebih dewasa?”

“Ya.” tanpa malu, Hillary kembali memasukkan salah satu tangannya ke dalam celana Jullio. “Aku masih anak-anak, kurasa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seorang anak mengurus bayi.” Hillary menggeleng lagi.

“Kau bahkan belum cukup dewasa untuk melakukan kegiatan ranjang.”

“Aku tahu. Tapi teman-temanku bilang kalau rasanya menyenangkan. Dan aku selalu penasaran bagaimana rasanya tidur dengan laki-laki.”

Jullio menyentil kening Hillary. “Buang rasa penasaranmu sebelum kau menyesal.”

Hillary tampak berpikir sejenak. “Hmb… sayangnya aku bukan tipe yang seperti itu. Aku akan selalu merasa penasaran sebelum berhasil mendapatkan apa yang aku mau.”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang jika aku menolakmu?”

“Mencari pria lain yang mau denganku.” Hillary berbalik, mengambil pakaiannya tanpa menoleh sedikit pun pada Jullio.

Sementara itu, Jullio mash berpikir kalau apa yang terjadi di antara dirinya dan Hillary bukanlah hal yang pantas dilakukan. Jullio bisa saja tidur dengan wanita mana pun do clubnya. Tapi ia tidak mau menyakiti Hillary. Ia ingin menjaga Hillary dari kejamnya dunia. Termasuk menjaga Hillary dari kebodohannya sendiri. Melihat Hillary mengenakan pakaian dalamnya, Jullio berlari menghampiri gadis itu dan mencekal tangannya. “Kau mau pergi.”

“Sudah kukatakan dengan jelas.”

“Kemana?”

“Kau tahu jawabannya.”

“Tidak. Aku tidak tahu!” bantah Jullio sengit.

“Kau mengajariku sampai sejauh ini. Dan sekarang kau menolakku. Sebenarnya apa maksudmu?”

“Hill,” Jullio menyatukan keningnya dengan kening Hillary. “Kau tahu aku sangat mencintaimu.”

“Aku tidak melihat itu dari matamu.”

“Akan kulakukan apa pun agar kau percaya padaku.”

“Bercintalah denganku.”

Jullio menggeleng tegas. “Selain itu.”

“Kalau begitu,” Hillary melepaskan dirinya dari Jullio. “Lupakan aku!” putusnya.

Mau tak mau, Jullio membiarkan nafsunya menguasai akal sehatnya. Jullio mengangkat tubuh -ramping Hillary dan membawa gadis itu ke ranjang. Ia mulai meluncurkan ciuman bertubi-tubi sambil sesekali menggerayangi bagian tubuh Hillary yang begitu menggodanya. Jullio tahu ini kesalahan terbesarnya. Namun, ia tidak akan melewatkan  momen ini. Tidak sampai kapan pun.

Mungkin nanti Hillary akan menyadari kesalahannya karena telah menggoda Jullio. Tapi Jullio tidak mau tahu. Selama ini, selama ia menjalin hubungan dengan wanita mana pun, ia tidak pernah membiarkan dirinya merasakan perasaan sedalam ini. Hanya dengan Hillary lah ia memikirkan bagaimana perasaan seorang perempuan.. Jullio sangat yakin jika memang mereka dtakdirkan untuk bersama.

Sekali lagi, Jullio menatap Hillary. Masih ada keraguan yang senantiasa menyergap dirinya, tetapi ia tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. “Kau yakin?” tanyanya sekali lagi.

Hillary menjawab pertanyaan Julli dengan anggukan kecil. “Ini akan sakit.”

“Aku pernah mendengarnya.”

“Sekali lagi, kuharap kau tidak menyesalinya di kemudian hari.”

“Selama aku tidak hamil.” Hillary menggingit bibir bawahnya kuat-kuat. “Kurasa tidak ada yang perlu kita khawatirkan.” Begitu ia selesai mengucapkan kata-kata itu, Jullio menancapkan miliknya ke dalam diri Hillary. Rasa sakit di angkal pahanya menjadi pertanda bahwa ia kini telah berbeda.

Hillary sadar betul bahwa sejak detik itu, semuanya tidak lagi sama.  Hillary yang sekarang berbeda dengan Hillary yang beberapa saat lalu masih berdiri di hadapan Jullio dan mencoba menggoda pria itu. Dan keberadaan Jullio serta pergerakan pria itu di atas tubuhnya menjadi pertanda bahwa ini bukanlah mimpi. Semua ini nyata. Ia telah kehilangan mahkota terpenting dalam hidupnya. Kesuciannya.

**

Malam ini, lagi-lagi Harry tidak pulang. Hillary baru saja menerima telepon dari ayahnya. Ayahnya mengatakan ia tidak akan pulang hingga bulan depan. Itu artinya, selama liburan sekolah, Hillary harus  menghabiskan masa liburannya dengan Harry saja. Itu pun kalau kakak semata wayangnya itu mau pulang.

Sebenarnya, akhir-akhir ini Hillary selalu bertanya-tanya. Kemana kakaknya itu pergi. Selama ini Harry tidak pernah membiarkannya sendiri seperti sekarang. Hillary sangat yakin kalau kakaknya pasti sedang melakukan sesuatu yang sengaja dirahasiakan darinya atau sedang menghadapi masalah serius.

Masalah? Hillary ngeri membayangkannya.

“Kau melamun?’ suara baritone serta lengan kokoh yang melingkar di perutnya menyadarkan Hillary dari lamunan.

“Tidak.” elak Hillary.

“Bohong.” Jullio mengecup punggung Hillarry lembut.

Setelah percintaan hebat siang tadi, Jullio memutuskan untuk tinggal di rumah Hillary malam ini. Bisnis malamnya bisa menunggu, sementara Hillary, ia harus tahu apa yang terjadi dengan Hillary setelah apa yang mereka lakukan.

“Masih dua minggu lagi.” ucap Jullio lirih.

“Sekolahmu. Apa lagi?”

“Oh…” Hillary menyandarkan punggungnya di dada Jullio. “Aku bahkan lupa soal itu.”

“Ada rencana liburan?” tanya Jullio.

“Tidak.” Hillary tidak mengenal kata liburan. Apalagi dengan kondisi keluarganya yang sekarang. Membayangkan liburan saja sudah membuatnyaa muak.

Jullio mengusap rambut Hillary dengan lembut. “Siapa yang menelepon?” tanyanya.

Daddy.” Jawab Hillary singkkat.

“Ada masalah dengan ayahmu?”

“Tidak.” Hillary memeluk Jullio. Ia tahu ini salah. Hillary rindu keluarganya. Hanya itu. Dan sekarang, seharusnya ia bisa memeluk salah satu di antara keluarganya. Ayahnya atau mungkin kakaknya. Atau ibunya. Hillary bahkan lupa bagaimana rasanya hangat pelukan wanita yang pernah melahirkannya dulu.

“Aku tahu kau punya masalah.” Dengan gerakan bak seorang kesatria, Jullio menarik Hillary ke dalam pelukannya lalu menenangkan gadis itu dengan mengusap lembut punggung Hillary. “Katakan apa yang kau rasakan.”

“Tidak ada. Aku hanya merindukan keluargaku.”

Mendengar Hillary menyebut kata keluarga, tiba-tiba saja jantung Jullio terasa seperti diremas sekaligus dicabik oleh sesuatu. Punggung Jullio menegang. Saat ini, satu-satunya keluarga yang ia miliki hanya Angkasa-adik kandungnya. Hillary mungkin memiliki keluarga yang utug. Tidak seperti keluarhanya.

Hancur berantakan.

“Mereka tidak pulang selama beberapa hari ini?” tanya Jullio tenang. Bagaimana pun juga, Jullio tidak akan membiarkan Hillary bersedih. Meskipun topic keluarganya juga menyiksanya, Jullio mau Hillary tersiksa hanya karena memikirkan keluarganya.

“Entahlah.” Jullio tahu, Hillary juga menghindari topic itu. Ia semakin penasaran, sebenarnya ada apa dengan keluarga Hillary.

“Ayahku tidak bisa terbang ke sini untuk beberapa minggu ke depan. Aku tidak bisa menyalahkannya. Dia memiliki pekerjaan.”

“Dia pasti sanagt sibuk.”

“Kau benar.” Hillary memaksakan senyumnya. Meskipun rasanya hambar karena pura-pura tersenyum saat hatinya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. “Aku tidak pernah menylahkan kesibukan ayahku. Bagaimana pun juga, Daddy melakukan ini semua demi aku dan kakakku.”

“Dan di mana kakakmu selama beberapa hari terakhir?”

“Dia sibuk dengan kuliahnya.”

“Oh.” Jullio menarik selimut hingga menutupi tubuh keduanya. Sebenarnya ada yang harus ia selesaikan malam ini. Selain club malam, Jullio harus bertemu dengan seseorang. Namun, itu semua bisa menunggu hingga esok hari. “Dan saudaramu?”

“Aku jarang bertemu dengannya. Kakakku jarang pulang akhir-akhir ini.” Hillary mengakui. Ia butuh teman untuk membicarakan kakaknya. Ia butuh teman untuk mencurahkan isi harinya. Dan yang ada di sisinya saat ini hanya Jullio. Ia tidak pernah sedekat ini dengan seseorang. Kecuali Freddy. Sejauh ini, hanya Freddy lah yang selalu tahu bagaimana kondisi keluarganya. “Dan aku mulai khawatir terjadi hal buruk dengan kakakku. Bagaimana jika dia terlibat masalah dengan sekelompok orang tidak bertanggung jawab? Kakakku tidak pernah seperti ini sebelumnya.”

“Sssttt…. Kakakmu sudah dewasa. Aku yakin dia bisa menjaga dirinya.”

“Ya, kau benar.” Hillary menautkan jemarinya dengan jemari Jullio. “Kuharap dia baik-baik saja.”

“Aku akan membantumu mencari Harry. Dia harus bertemu denganmu.”

“Tidak.” Hillary menggeleng. “Kau tidak perlu repot-repot melakukannya. Kau punya kesibukan lain selain mengurusku. Aku tidak mau merepotkanmu.”

“Aku akan tetap melakukannya agar kau bisa tenang.”

“Terima kasih.” Kali ini, senyuman Hillary benar-benar tulus. Tidak salah jika ia mencurahkan isi hatinya kepada Jullio. Ternyata, selain menyebalkan karena sering membuntutinya, Jullio juga sosok pendengar yang baik dan bijak.

Hillary menyesal kenapa ia dulu sering sekali mengaggap Jullio manusia yang tidak berguna?

“Dan di mana ibumu?”

Senyuman Hillary memudar saat Jullio bertanya mengenai ibunya. Sejak beberapa tahun terakhir ia tidak pernah menganggap ibunya ada. Dan entah sampai kapan ia akan beranggapan seperti itu. Bagi Hillary, sosok ibu hanyalah manusia yang tidak sengaja menampung dirinya dan Harry selama kurang lebih sembilan bulan di dalam rahim. Selebihnya, Hillary tidak pernah menganggap wanita itu sosok seperti itu seperti yang ia bayangkan dari cerita teman-temannya.

“Aku tidak punya ibu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status