Share

SHIT

Author: NUR EVA LAILY
last update Petsa ng paglalathala: 2020-10-01 16:49:52

halo... selamat membaca hasil karyaku

semoga kalian suka

jangan lupa follow ig @littleeva93 untuk info pembelian buku

terima kasih :)

LOVE YOUUUU

SHIT

JULLIO sudah menunggu sejak satu jam yang lalu di depan rumah Hillary. Hari ini, ia dan Hillary berencana akan membahas mengenai bisnis club malam yang sengaja diberikan ayahnya kepadanya. Satpam rumah Hillary, yang sudah berteman baik dengannya menyuruhnya untuk masuk tapi Jullio menolak. Hari ini ia ingin menunggu Hillary di depan rumah saja. Mungkin saja Hillary pulang lebih cepat meski rasanya itu mustahil. Sebenarnya, selama ini Jullio penasaran, kemana saja Hillary setelah pulang sekolah. Gadis itu selalu pulang terlambat setiap harinya. Jullio ingin sekali bertanya tapi ia tidak mau mengganggu privasi Hillary.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Jullio mendesah lega. Ia membuang rokoknya ke selokan sebelum Hillary memergokinya merokok. Hillary pernah melarangnya merokok dan Jullio sudah mengatakan kepada Hillary akan berhenti merokok. Hillary mungkin akan marah jika mendapati dirinya merokok lagi.

Hillary membuka jendela mobilnya, “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya gadis itu pada Jullio.

“Menunggumu,” sahut Jullio singkat. Hari ini Hillary tampak berbeda. Gadis yang biasanya selalu terlihat tenang itu entah mengapa siang ini tampak gelisah.

Hillary memutar bola matanya, “Aku tahu. Kenapa kau menunggu di luar? Kenapa tidak masuk saja?” tanyanya.

“Aku takut ayahmu di rumah. Atau kakakmu mungkin.”

“Mereka tidak di rumah. Masuklah!” titah Hillary. Gadis itu menutup kaca mobil lalu melajukan mobilnya menuju garasi, diikuti Jullio di belakangnya.

Begitu mereka sampai di garasi dan kedua mobil itu telah tersusun rapi, Hillary segera bersandar di mobilnya dan mengamati Jullio. Jullio yang melihat hal itu dibuat penasaran. “Ada apa?” tanya lelaki itu dengan alis mengkerut.

“Tidak ada.” Sahut Hillary singkat lalu melenggang pergi meninggalkan Jullio. Jullio menyusul langkah Hillary, ia menggandeng tangan Hillary. Untungnya gadis itu tidak keberatan

Kebisuan menyelimuti mereka berdua. Sesampainya di kamar Hillary, Jullio membuka jaket kulit yang sejak beberapa waktu membungkus dadanya. Tak lupa ia juga membuka celana jeansnya. Sementara itu, Hillary mengambil handuk dan membersihkan tubuhnya.

Selama beberapa saat, Jullio hanya memandangi ponselnya dengan perasaan kalut. Tidak biasanya Hillary bersikap demikian. Hillary berbeda. Entah apa yang membuat gadis itu tampak memikirkan sesuatu yang sangat berat. Jullio menghubungi Angkasa untuk mengatakan pada adiknya kalau malam ini ia tidak akan pulang lagi. Penting bagi ia dan adiknya berkomukasi setiap saat karena kini mereka hanya memiliki satu sama lain sejak kematian ibu mereka.

Usai mandi dan mengganti pakaiannya, Hillary bergabung dengan Jullio di ranjang. Hati dan pikirannya lelah. Ia hanya ingin mengarungi alam mimpi saat ini.

“Ada masalah?” tanya Jullio lembut.

Hillary menggeleng. Bagaimana mungkin ia mengatakan pada Jullio kalau saat ini ia telah memikirkan adik kandungnya.

Jullio mengamati wajah lelah Hillary. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat. Namun Jullio tahu kalau sebenarnya Hillary sedang tidak ingin tidur. Jullio melepas kaos yang dipakainya, ia lalu berbaring di sisi Hillary. Salah satu tangannya mengambil sejumput rambut yang menutup pelipis Hillary. “Katakan kalau ada masalah. Tidak baik menyimpan masalahmu sendiri.”

Dalam hati Hillary tertawa. Bagaimana jika masalahnya menyangkut dua kakak-beradik yang kini memenuhi harinya? Hillary membuka mata, senyumnya mengembang melihat wajah Jullio yang sedih tapi terlihat menggemaskan. “Bagaimana jika aku memintamu menjauh dariku?” tanya Hillary.

Pertanyaan itu mengejutkan Jullio. Selama ini Jullio berpikir Hillary telah membuka hatinya untuk Jullio. Namun seperetinya ia salah. Jullio berusaha bersikap tenang, tentu saja ia tidak mau semuanya menjadi runyam. Setelah semuanya, setelah Hillary mau menerimanya, satu-satunya yang ia inginkan adalah Hillary menjadi miliknya. “Aku tidak akan menjauh darimu.” jawab Jullio tenang.

“Kenapa?” Hillary memiringkan wajahnya.

“Aku tidak akan sanggup,” Jullio mengerucutkan bibirnya.

“Kau lucu.”

“Aku tidak bohong, Hill. Aku tidak sanggup menjalani hariku tanpamu.”

Kata-kata Jullio mengundang tawa Hillary. Hillary yakin semua yang keluar dari bibir Jullio adalah kebohongan. “Dasar perayu!” katanya sinis.

“Hill…” Jullio menggenggam tangan Hillary. “Kumohon, percayalah padaku.”

Hillary menggeleng. “Aku tidak bisa.”

“Katakan padaku bagaimana aku bisa mempercayaimu,”

“Tidak ada.” Jawab Hillary singkat.

Jullio merengut. Percuma saja berbicara dengan Hillary, gadis itu tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Jullio turun dari ranjang dan bersiap memakai celana dan jekatnya lagi. Namun gerakannya terhenti saat Hillary memanggil namanya, “Kau mau kemana, Jullio?”

“Pulang.” Jawab Jullio ketus.

“Pulang? Kalau kau pulang sekarang, aku tidak akan mengijinkanmu kembali ke sini lagi.”

“Bukankah kau memang memintaku menjauh darimu?”

“Semudah itukah kau menyerah?” sindir Hillary. “Aku tidak menyangka.”

Jullio berbalik. “Apa selama ini aku merepotkanmu? Aku sadar aku bukanlan pria baik-baik. Tapi bukan berarti aku berbohong mengenai perasaanku padamu!”

“Kalau begitu buktikan kalau kau memang tidak berbohong padaku.”

“Bagaimana caranya?” Jullio menatap Hillary sengit.

“Terserah kau saja.”

Untuk sesaat, mereka seolah terhipnotis satu sama lain. Baik Jullio maupun Hillary sama-sama terdiam. Hillary masih belum bisa mengenyahkan penawaran Angkasa untuk menjalani hubungan serius. Sementara Jullio, meskipun ia ingin menyerah saat ini juga, sejujurnya ia masih sangat ingin tingal bersama Hillary.

Jullio melempar celananya ke lantai. “Pokoknya, aku tidak mau menjauh darimu!” putusnya seraya kembali ke ranjang bersama Hillary.

Hillary tersenyum dalam hati. Hatinya mungkin dimiliki oleh Angkasa, tapi untungnya ia memiliki hati Jullio yang ia yakin akan rela melakukan apa saja demi dirinya.

“Sebenarnya, apa yang membuatmu tiba-tiba menyuruhku menjauh darimu?”

Adikmu, jawab Hillary dalam hati.

**

Hillary menikmati saat Jullio membelai lembut kepalanya. Berada di dekat Jullio selalu membuatnya jauh lebih baik. Sejujurnya ia tidak menyangka kalau Jullio bisa membawa pengaruh sebesar ini kepada dirinya. Awalnya, Hillary pikir ia tidak akan bisa menerima Jullio. Namun nyatanya, semua berubah seiring berjalannya waktu. Atau, waktulah yang mengubah segalanya.

“Aku ingin mengajakmu ke club malamku.” Ucap Jullio dengan suara khas laki-laki penggoda.

“Tidak mau. Belum apa-apa, kau sudah mau merusak masa depanku.”

Jullio menggeleng pelan. Memang tidak mudah menghadapi anak-anak. “Bukan itu maksudku. Katamu kau mau membantuku mengurus club itu. Jadi apa salahnya jika kau melihat kondisi club malamku secara langsung?”

Hillary tampak berpikir. “Aku menduga kau mau mengajakku mencoba hal-hal nakal seperti yang biasa kau lakukan dengan teman-temanmu.”

“Sejujurnya,” Jullio menyeringai, membuat Hillary langsung bersikap waspada. “Aku memang ingin melakukannya kalau mau mau.”

“Jullio!” jerit Hillary.

Jullio menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Astaga, Hillarynya yang manis, yang mudah digoda, Hillarynya yang menggemaskan. Jullio memastikan jika cepat atau lambar Hillary akan menjadi miliknya.

“Kau hampir membuat gendang telingaku pecah.” Keluh Jullio.

“Salahmu sendiri. Kenapa kau selalu membuatku kesal.”

“Aku suka melihatmu kesal seperti itu.” wajah Jullio diliputi kebahagaiaan yang tidak dapat diartikan oleh Hillary, Hillary hanya menduga semua itu karena Jullio memang suka menghabiskan waktu dengannya.

“Jadi, kau hanya suka denganku saat aku kesal?” Hillary membalik tubuhnya. “Begitu?”

Jullio tidak mau kalah. Pria itu beranjak dari posisinya lalu membalik lagi tubuh Hillary sehingga mereka bisa berhadapan seperti sebelumnya. “Tidak. Aku suka semua tentangmu.”

“Dasar buaya!”

“Aku buaya paling tampan di seluruh daratan kalau kau menyebtku buaya.”

“Percaya diri seperti biasanya?”

“Aku menyebut diriku tampan hanya saat bersamamu saja.”

“Terserah. Kau tampan atau tidak, tetap saja kau menyebalkan.” Hillary menjulurkan lidahnya.

Sebenanrnya, dari penampilan Jullio, Hillary bisa melihat ada Angkasa di sana. Warna kulit kedua laki-laki itu serupa. Belum lagi bola mata indah mereka. Rambut pirang dan postur tubuh serupa. Mudah bagi Hillary menganggap Jullio dan Angkasa itu satu orang. Namun, sejauh ini, ia tidak bisa melakukannya. Jullio pria menyebalkan yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi. Pria yang  telah mencuri ciuman pertama darinya.

Jullio mencium bibirnya. Bodohnya Hillary selalu menyukai ciuman itu. Rasa manis yang disuguhkan oleh bibir Jullio selalu membuatnya mabuk kepayang. Terkadang Hiillary bertanya-tanya, dari mana Jullio balajar mencium seperti ini? Dan berapa banyak wanita yang sudah takhluk dengan keganasan pria itu?

Membayangkan itu seketika  membuat Hillary mual. Hillary ingin menjadi satu-satunya perempuan di hati Jullio. Dia tidak mau berbagi Jullio dengan wanita lain. Siapa pun itu! Dan sampai kapan pun dia tidak akan mau.

Tanpa Hillary sadari, kini Jullio telah berbuat lebih jauh. Jullio membuka pakaiannya, menyisakan bra yang hanya menutup buah dadanya. Hillary meringis. Kedua tangannya berada di dada bidah Jullio. Selama ini ia sama sekali tidak menyadari kalau ternyata Jullio memiliki postur tubuh sempurna.

“Aku tidak bisa menahannya lebih lama.” Ucap Jullio parau.

“Dan aku tidak mau.” Balas Hillary.

Jullio beranjak dari posisinya. Semula ia berada di atas tubuh Hillary. Bersiap menerjang gadis itu seperti singa kelaparan yang siap memakan mangksanya. Jullio meremas rambutnya frustasi. Jika dibiarkan terus seperti ini, tidak akan lama lagi Hillary akan kehilangan keperawannya. Jullio tidak mau berperan sebagai pria brengsek yang mengambil keperawananan gadis yang dicintainya.

“Aku mau ke club sekarang.” Jullio turun dari ranjang seraya. Bersiap memungut celana dan memakai lagi bajunya.

“Mencari perempuan yang bisa memuaskanmu?” sindir Hillary sinis.

“Tidak. Aku tidak ingin merusakmu.” Jullio mencoba tidak memandang Hillary. Jika sekali lagi ia melihat Hillary dalam keadaaan seperti sekarang, ia yakin sesaat lagi Hillary akan kehilangan keperawanannya. “Ikutlah denganku.” Pinta Jullio. Kau harus melihat club malamku. Mungkin kita bisa mengurusnya bersama.

Ketika Jullio berbalik, setelah semua pakaian terpasang di tubuh atletisnya, betapa terkejutnya ia saat mendapati Hillary justru tidak memakai sehelai kain pun. Jullio mengumpat tertahan. “Shit, apa yang kau lakukan, Hill?!”

“Aku ingin kau tinggal di sini. Mungkin dengan cara seperti ini kau mau tinggal lebih lama bersamaku.” Ucap Hillary dengan nada polos.

“Aku tidak tahu apa maksudmu!” Jullio meremas rambutnya. Matanya menyipit mendapati Hillary bangkit dari ranjang dan berjalan menghampirinya. Dadanya begemuruh hebat. Kali ini, Jullio tidak yakin bisa menahan diri lebih lama lagi.

Hillary berada tepat di depan Jullio. Berjalan layaknya wanita penggoda yang siap memberikan kepuasan terhadap pelanggannya. Meski ia tidak yakin dengan cara berjalannya sendiri, apalagi dengan tindakan gila yang saat ini dilakukannya, Hillary tetap berusaha mencoba terlihat baik-baik saja. Dengan elegan, ia mencium bibir Jullio. Memberikan sensasi luar biasa kepada Jullio dan juga dirinya sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status