Kepentok cinta dosen duda

Kepentok cinta dosen duda

last updateLast Updated : 2020-11-13
By:  Dwi SusantiOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
2Chapters
27views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Agnes adalah seorang gadis tomboi, cuek, jutek, dan pemberani. Dia pernah mengatakan kalau dia itu tidak akan pernah jatuh cinta pada duda. Tapi nyatanya dia benar-benar jatuh cinta pada dosennya sendiri, yang tak lain adalah duda anak satu. Dan Agnes langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana dengan lelaki itu? Apakah dia mau menerima Agnes dan melupakan istrinya yang sudah meninggal itu, atau cinta Agnes akan bertepuk sebelah tangan.

View More

Chapter 1

Bab 1 Pertemuan pertama

Agnes masih berada di jalanan yang penuh polusi. Dia menyusuri jalan setapak menuju pulang. Siang ini sinar mentari semakin panas saja. Seperti hampir mendekati kulit.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju sangat kencang. Dan Agnes terkejut saat dia mendapati bajunya basah karena kecipratan genangan air yang ada di tepian jalan.

"Apa- apaan ini. Dasar mobil sialan." Gerutu Agnes.

"Hei ... Kurang ajar kau mobil. Tanggung jawab kamu. Gara- gara kamu semua baju ku jadi basah seperti ini." Agnes tampak meneriakai mobil itu. 

Seorang lelaki berkacamata hitam melirik ke arah sepion mobilnya. Setelah itu dia menjalankan mobilnya mundur.

Sekarang mobil itu tepat berhenti di depan Agnes. Lelaki itu kemudian menurunkan kaca mobilnya dan menatap ke arah Agnes.

"Hei kamu. Apa-apaan sih kamu. Gara-gara kamu aku jadi basah kuyup begini. Tanggung jawab kamu ...!" Kata Agnes yang wajahnya tampak marah sekali. Dia sudah tampak emosi sekali saat ini.

"Hei, aku nggak sengaja." Kata Lelaki yang ada di dalam mobil itu.

Agnes diam. Dia tampak sedang memperhatikan siapa lelaki yang ada di dalam mobil itu. Dia lelaki asing yang baru pernah di lihat Agnes.

Penampilannya memang oke. Dia cakep, wangi, dan dia mempunyai tubuh atletis. Tubuh tegap tinggi bak model papan atas.

Agnes diam saja. Dia masih menatap tajam lelaki yang ada di hadapannya itu.

Lelaki itu turun dari mobilnya. Dia kemudian menghampiri Agnes.

Agnes masih bisa tertegun, Menatap  tubuh seksi itu. 

"Em ... eh ... Duh ..." Agnes jadi salah tingkah sendiri. 

Bagaimana tidak. Lelaki yang ada di hadapannya itu sangat tampan. Dia seperti lelaki kaya raya. Dan di lihat dari kulitnya pun, sepertinya lelaki itu adalah lelaki yang suka melakukan perawatan. 

Agnes masih mematung dan tidak berkedip. Matanya masih menatap lelaki itu.

Lelaki itu kemudian membuka kaca matanya. Dia tampak mengernyitkan kedua alisnya karena kepanasan. 

"Hei nona. Kenapa? Ada apa? Tadi kau meneriakiku? Mau minta ganti rugi? Ganti rugi seperti apa yang kau inginkan?" Tanya lelaki itu 

Agnes tidak mau hanyut dengan perasaannya. Dia memang sangat mengagumi sosok lelaki itu. Tapi Agnes tampik perasaan itu. Dia kemudian menatap tajam lelaki itu.

"Hei, kamu telah membuat bajuku basah semua." Kata Agnes dengan suara meninggi.

lelaki itu masih memegang kacamatanya. Setelah itu dia meletakan kaca matanya di saku jasnya. Dia kemudian mendekat ke arah wajah Agnes. 

"Apa yang kau inginkan heh, kau menginginkan aku, untuk melepas bajumu?"

"Apa maksudmu?"

He..he .. lelaki itu terkekeh.

"Tadi kamu minta untuk aku tanggung jawab. Terus aku harus tanggung jawab seperti apa? Aku kan tidak pernah salah." Lelaki itu bertentangan dengan diri.

"Apa kamu bilang, kamu tidak pernah salah? Kamu itu sudah jelas- jelas salah. Aku basah begini juga gara-gara kamu!"

Lelaki itu kemudian membawa Agnes pergi dari tempat itu. Dia Agnes untuk ikut bersamanya.

"Hei, apa yang kau lakukan? Kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Agnes sedikit takut.

Lelaki itu hanya senyum-senyum.

"Kamu mau macam-macam yah sama aku? Awas aja yah kalau kamu mau macam-macam sama aku. Aku nggak akan pernah mengampunimu." Kata Agnes.

Ha ha ha ... Lelaki itu terbahak.

"Nona, nona. Emang kamu fikir, aku mau ngapain kamu? Mau memperkosa kamu? Tidak nona. Emang aku punya tampang orang jahat?"

Agnes diam saja. Pandangannya masih tertuju ke depan.

"Terus kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Agnes.

"Ke butik nona." Jawab lelaki tampan itu.

"Mau ngapain?" Tanya Agnes lagi. Dia mulai bingung dengan lelaki itu. Karena tiba- tiba, lelaki itu mau ajakan Agnes ke butik.

"Mau beli baju baru." Jawab lelaki itu dengan santai.

"Buat siapa?"

"Buat kamu."

Agnes menatap tajam lelaki yang ada di sampingnya itu. Agnes heran, kenapa tiba-tiba saja dia mau mengajaknya ke butik.

"Maksud kamu, kamu mau belikan aku baju?"

"Yah, Bukankah itu yang kamu mau?" Tanya lelaki itu menatap lekat wajah Agnes. 

Agnes Hanya bisa melengos, mencampakkan wajahnya ke arah luar kaca mobil.

Agnes saat ini hanya bisa pasrah. Terserah lelaki itu mau membawanya kemana. Yang pasti saat ini, Agnes ingin sekali pulang. Pasti ibunya sudah menunggunya di rumah.

"Oh, iya. Siapa nama kamu nona ...?" Tanya Lelaki itu.

Agnes masih diam. Dia tidak menghiraukan lelaki itu. Pandangan Agnes masih keluar.

Ehm ...

Lelaki itu berdehem. Membuat Agnes tersentak.

Kenapa ? Kok ngelamun ...? "

"Oh, nggak apa-apa. Kenapa ... kenapa ...?". tanya Agnes.

Siapa nama kamu?

"Agnes. Kalau nama Tuan?

"Nama ku Raka."

"Oh, Raka. Senang berkenalan dengan anda Tuan."

"Yah," kata Raka sembari fokus menyetir.

Raka kemudian membawa Agnes ke butik. Setelah sampai di butik, Agnes dan Raka turun.

"Kenapa Tuan bawa saya kesini?" Tanya Agnes.

"Karena aku mau tanggung jawab."

"Tanggung jawab?"

"Bukankah baju kamu basah gara- gara aku?"

Agnes tersenyum.

"Ah, Tuan. Nggak usah sampai segitunya kali. Aku nggak apa-apa kok."

"Bukankah tadi, kamu minta aku untuk tanggung jawab." 

Agnes diam. Dia tidak enak sendiri. Dia telah marah- marah pada Raka Tuan muda yang baik hati itu.

"Aduh, bukan gitu maksud ku Tuan. Aku cuma ..."

Raka masih menatap Agnes.

"Cuma apa?. Udah, nggak usah bawel. Ayo cepat turun ...!"

"Iya Tuan."

Agnes dan Raka kemudian turun dari mobilnya. Mereka keluar dan melangkah ke arah butik.

Butik yang cukup luas, dengan lima orang karyawan di dalamnya dan pemiliknya adalah seorang wanita limapuluhan dia adalah Nyonya Anita. Teman dari Bu Rima mama Raka.

Agnes mengikuti Raka di belakangnya. Raka kemudian masuk ke dalam butik itu. Betapa takjubnya Agnes, melihat gaun- gaun indah di sana. Dia bingung, gaun apa yang mau dia pilih.

"Agnes, kamu boleh pilih baju mana yang kamu sukai."

Agnes melebarkan senyum.

"Wah, yang benar Tuan? Aku boleh nih pilih- pilih baju."

Iya. Raka mengangguk.

Agnes kemudian mengitari ruangan itu dan lekas memilah- milih baju.

"Oh, Tuan tampan itu. Luar biasa. Udah tampan, baik hati lagi. Buktinya dia mau membelikan aku gaun. Tapi, gaun yang mana yah, yang mau aku pilih?" Gumam Agnes.

Agnes benar-benar di bingungkan dengan berbagai pilihan di butik itu. Butik yang luas, dengan berbagai pilihan baju yang indah. Harganyapun mahal-mahal.

Agnes menatap sebuah patung boneka yang terpajang di butik itu. Dia memegang dengan penuh rasa takjub. Betapa indahnya gaun yang berwarna merah mawar itu. Namun, betapa terkejutnya Agnes. Dia melihat bandrol harga yang terpajang di sana.

Rp. 2.000.000

"Waduh, mahal amat yah. Ini sih, gaji ayah saja tidak cukup untuk membeli baju ini." Gumam Agnes.

"Ayo Agnes. Pilih, baju mana yang kamu mau. Cepat. Aku tidak punya banyak waktu." Kata Raka.

“Tapi Tuan, baju bajunya mahal banget.” Kata Agnes.

Raka tersenyum.

"Iya. Kamu boleh pilih mana aja, untuk menggantikan baju kamu yang basah itu." Kata Raka.

Agnes menggeleng. Dia tampak cemberut.

Kenapa?

"Em, nggak usah deh Tuan." Agnes tidak merasa enak sendiri.

Jelas Agnes menolak. Karena di antara baju- baju itu, tidak ada yang sesuai dengan pilihannya.

"Gimana? Agnes."

"Tuan, aku tidak suka baju- baju kayak gini. Ini terlalu terbuka. Dan terlalu mahal buat aku."

"Terus, kamu nggak mau ganti baju kamu yang kotor dan basah itu?"

Agnes menggeleng.

"Terus, mau kamu apa?" tanya Raka yang sudah tampak emosi dan kesal. 

"Tuan antarin aku saja sampai rumah. Jangan buang-buang duit Tuan, sayang. Aku nggak apa-apa kok basah- basahan gini. Basahnya juga nggak kok."

"Ya udahlah. Kalau nggak mau aku gantiin baju kamu yang basah itu, nggak usah teriak- teriak dong. Buang- buang waktu saja." Dengus Raka.

Setelah itu, Raka dan agnespun kembali lagi ke mobil. Mereka kemudian meluncur ke arah rumah Agnes.

Raka sepertinya sedang emosi pada gadis yang sekarang ada di sebelahnya itu. Seharusnya dia sudah sampai di kantor. Tapi gara- gara gadis itu teriak-teriak minta ganti rugi, Raka harus ngurusin dulu gadis itu.

Raka dan Agnes saling diam. Raka masih fokus menyetir, sementara Agnes masih tampak melihat Raka, tanpa sepengetahuan Raka. 

Agnes itu sedikit suka sama lelaki tampan dan tajir itu. Agnes masih berkhayal, seandainya dia punya suami seperti Raka. Pasti dia akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini.

Raka lelaki yang baik hati, dermawan, dan dia orang yang sangat lembut pada wanita. Buktinya sejak tadi dia di buat jengkel oleh Agnes, tapi Raka hanya bisa diam. Tidak meluapkan emosinya pada Agnes.

Sekarang, Raka telah sampai di depan halaman rumah Agnes. 

"Ini rumah kamu?" Tanya Raka.

"Iya Tuan." Jawab Agnes.

Agnes menatap tajam Raka.

Kenapa? Raka yang di tatap hanya bingung.

"Oh, dari Tuan membelikan baju mahal- mahal untuk saya, mending Tuan berikan uang saja pada saya."

Raka mengernyitkan alisnya.

* Matre juga yah ini cewek. * Batin Raka

Raka kemudian mengambil dompetnya. Setelah itu dia memberikan sejumlah uang pada Agnes.

Agnes tersenyum. "Gitu dong Tuan."

Setelah itu Agnes turun dari mobilnya. Sementara Raka melajukan mobilnya kembali.

Raka masih tampak menggerutu di dalam mobilnya. Dia masih heran dengan gadis yang berpenampilan seperti lelaki itu. 

"Dasar gadis mata duitan. Aku fikir, dia nggak akan minta duit. Tapi, nyatanya dia minta duit juga." Gumam Raka.

****

Agnes masuk ke dalam rumah tahanan. Dia melihat ayah dan ibunya menangis. Agnes bingung dengan kedua orang tuanya. Kenapa mereka menangis.

Agnes melangkah masuk ke dalam rumah adat.

"Ayah, ibu, ada apa?" Tanya Agnes.

Ibu Rani mengusap matanya. 

"Agnes, kita akan di usir dari rumah kontrakan ini Agnes, jika ibu dan bapak, tidak bisa membayar kontrakan bulan ini." Kata Ibu Rani menuturkan. 

"Oh, begitukah ...?"

"Iya Agnes. Gaji bapak juga bulan ini di potong, untuk melunasi hutang kantor. Bapak udah banyak banget hutang nya di kantor."

"Ya udah Pak. Saya mau bertemu Ryan dulu. Kemarin, saya itukan di tawarin oleh Ryan. Kerja di tempatnya."

"Di mana Nak?" Tanya Pak Budi.

"Di cafe." Jawab Agnes singkat.

"Kamu mau pergi lagi Nak? Kamu kan baru nyampe?" Kata Bu Rani.

"Iya. Agnes mau pinjam uang dulu sama Ryan." Kata Agnes.

Agnes kemudian pergi ke rumah Ryan sahabatnya

Ryan itu adalah sahabat dekat Agnes. Dia yang selama ini membantu Agnes. Mereka saling mengenal sudah sejak lama. Sejak mereka SMA. Tapi sepertinya sekarang itu, Agnes butuh bantuan Ryan. Dia ingin meminjam uang Ryan untuk membantu kedua orang tua yang belum bayar kontrakan.

Agnes kemudian pamit kepada kedua orang tua.Dia melangkah pergi ke luar rumah. Dia akan menuju ke rumah Ryan. Dia membawa sepedanya. Seperti yang biasa dia lakukan. Ke kampus pun naik sepeda.

* Aku mau ke penjara Ryan. Siapa tahu dia bisa bantu aku. Fikir Agnes.

Agnes sangat mengerti dengan keadaan ekonomi orang tua sekarang. Mereka harus bekerja banting tulang untuk membiayai Agnes dan adiknya sekolah. 

Ayah Agnes adalah seorang karyawan Tata usaha di sekolah. Gajiannya pun cuma sedikit. Wajar saja jika keluarga Agnes hidupnya serba kekurangan. 

Mereka harus membiayai kuliah Agnes, dan harus membiayai adiknya Agnes yang masih SMP. Rumah merekapun masih mengontrak. Jadi wajar saja kalau setiap bulannya, ada ibu- ibu yang menagih uang kontrakannya.

Seperti halnya ini, kontrakannya sudah dua bulan belum di bayar dan saat ini juga, keluarga Agnes terancam terusir dari rumah kontrakannya. 

Sesampai di rumah Ryan, Agnes pun memarkirkan sepedanya di bawah pohon. Dia kemudian melangkah ke arah teras depan rumah Ryan.

Tok tok tok ..

Agnes perselisihan pintu depan rumah Ryan. Beberapa lama kemudian, seorang wanita paruh baya keluar. Dia adalah pembantu rumah Ryan. 

Ryan di rumah hanya tinggal bersama ibunya. Ayahnya itu sudah menikah lagi.Jarak antara Rumah Ryan dan Agnes, tidak begitu jauh. Jika berjalan kaki akan memakan waktu dua puluh menit saja. 

"Eh, Non Agnes. Cari den Ryan yah?" tanya Bik Munah yang sepertinya sudah sangat mengenal sosok yang sekarang ada di lapangan. 

Dia adalah sosok cantik yang cerewet, dan selalu ceria. Walau sedang di timpa masalah yang berat sekalipun, dia akan tetap tersenyum. 

Agnes tersenyum. Dia menampakan gigi putinya. 

"Selamat siang Bik? Ryannya ada?"

"Siang non. Eh, ada Non. Dia ada di kamar. Ayo non masuk!" Kata bik Munah ajakan Agnes masuk ke dalam rumah gede milik Ryan.

Yah, rumah Ryan gede. Karena sekarang kehidupan Ryan di tanggung oleh mbak Yayu istri ayah nya yang kaya raya itu. Ayah Ryan menikah lagi karena dia menginginkan menikah dengan janda kaya raya. Dan ibu Ryan tidak di ceraikan. Namun status ibu Ryan saat ini adalah istri pertama yang belum di ceraikan. Dan ibu Ryan sekarang terkena stroke dan sekarang, dia hanya ada di kursi roda.

Agnes sekarang sudah ada di ruang tamu rumah Ryan. Dia sedang menunggu Ryan keluar. Karena sedari tadi Ryan itu sedang ada di kamar ibunya.

Bik Muna dengan tergopoh-gopoh menghampiri tuan mudanya.

" Den, ada Non Agnes." Kata Bik Munah.

" Oh ya?" Kata Ryan dengan mata berbinar. Sepertinya dia sangat bahagia jika Agnes menemuinya. 

" Iya Den. Udah bibik suruh nunggu di ruang tamu."

" Iya saya akan segera turun."

Setelah itu Ryan menystroke elimuti tubuh ibunya yang sudah tidak bisa bicara itu karena derita penyakit stroke.

" Ibu tunggu di sini dulu yah.Ada teman Ryan di depan. " Kata Ryan menatap ibunya lekat.

Ibu Ryan hanya mengagguk dan tersenyum.

Ryan kemudian pergi melangkah ke ruang tamu. Di lihatnya Agnes gadis tomboi itu. 

Agnes melebarkan senyum.

" Agnes." Ucap Ryan sembari mendekat ke arah Agnes.

Ryan kemudian duduk di samping Agnes. 

" Ada apa Nes. Tumben kamu kemari." Kata Ryan 

" Apa kamu bilang,tumben? Hei Ryan. Bukannya aku hampir setiap hari kesini yah? Kenapa tumben?" Agnes tampak tidak terima

Ha...ha...ha...

Agnes mencubit pinggang lelaki tampan yang ada di sampingnya itu.

" Auh, sakit Agnes." 

" Habis, kamu jahat sih. Orang hampir setiap waktu aku kesini  kok di bilang tumben." Dengus Agnes.

Yah, Agnes memang hampir setiap hari main di rumah Ryan. Dia juga ikut membantu Ryan mengurus ibu Ryan. Ryan itukan hanya tinggal berdua saja dengan ibunya. Jadi Agnes itu yang selalu menemani Ryan untuk merawat ibu Ryan yang sedang terkena stroke itu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status