Home / All / Kepentok cinta dosen duda / Bab 2 Dosen baru

Share

Bab 2 Dosen baru

Author: Dwi Susanti
last update publish date: 2020-11-13 14:50:41

Ryan masih memperhatikan wajah mungil Agnes. Agnes, seorang gadis yang tomboi, namun wajahnya cantik jelita tanpa make up itu, selalu membuat Ryan setiap haru kangen sama Agnes. 

Agnes, gadis yang ceria dan menyenangkan. Walau terkadang dia judes dan galak, namun Agnes itu sudah bisa membuat hati Ryan penuh warna. Sudah sejak SMA mereka berteman. Dan mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Ryan yang sudah begitu mengenal Agnes, dan Agnes yang sudah begitu mengenal Ryan. Namun, perasaan Ryan pada Agnes itu, semakain hari, kian tumbuh menjadi perasaan cinta. Namun tidak dengan Agnes, dia hanya menganggap Ryan sebatas sahabat.

Ha...ha...Ryan tertawa. Lagi- lagi dia tertawa. 

Ryan memang selalu bisa membuat Agnes bahagia. Dengan kehumorisannya, Agnes jadi semakin suka bersahabat dengan Ryan. Ryan bisa mengisi kebahagaiaan dalam hidup Agnes yang selalu dalam kesulitan itu.

" Udah dong Ian, berhenti tertawanya. Aku lagi pengin ngomong serius nih." Kata Agnes.

" Iya...iya... Ada apa?" Tanya Ryan sudah mulai serius. 

Ryan menatap Agnes. Wajah Agnes sudah tampak sekali menunjukan kemurungan. Jika Agnes sudah seperti itu, Ryan tahu, kalau saat ini Ahnaes itu sedang punya masalah besar dahn harus benar-benar di selesaikan. Tapi, Ryan tidak tahu apa yang membuat Agnes menjadi murung.

" Agnes, kamu kenapa?" Tanya Ryan penasaran. Dia penasaran dengan masalah apa yang sebenarnya terjadi sama Agnes. 

Agnes diam.

" Agnes, kamu kan sudah janji sama aku, kalau kamu lagi ada masalah, aku akan siap membantumu. Kamu lagi ada masalah apa Agnes?" Tanya Ryan.

" Orang tua ku , masih nunggak kontrakan Ryan, Kami jika tidak bisa melunasi sekarang, mereka akan mengusirku." 

" Oh, begitu?"

" Iya Ryan."

Ryan tersenyum. " Kamu tenang saja. Aku pasti akan membantu kamu."

" Terimakasih Ryan."

Ryan tahu apa maksud Agnes dan apa yang Agnes inginkan. Ryan kemudian melangkah pergi meninggalkan Agnes. Ryan melangkah ke arah kamarnya. Dia kemudian mengambil dompetnya. 

" Aku tahu, Agnes lagi butuh uang. Aku akan  pinjamakan uang ku ke Agnes Kasihan dia. " Gumam Ryan.

Ryan memang selalu peduli pada sahabatnya itu. Bukan hanya peduli. Dia sayang dan cinta sama Agnes. Apapun kesulitan Agnes, pasti dia akan bantu. Termasuk, meminjamkan uang miliknya. 

Ryan kemudian keluar kamarnya dan kembali ke ruang tamu. 

Ryan menatap Agnes. Agnes telihat tampak cemas dan khawatir. Mungkin saat ini di Fikiran Agnes itu, Agnes takut di usir dari rumah kontrakannya. Bagaimana jika keluarga Agnes di usir dari rumah kontrakan itu. Orang tua Agnespun tidak mempunyai rumah lagi. Mungkin mereka akan menjadi orang gelandangan yang tidak mempunyai tempat tinggal. Dan seandainya adapun, paling orang yang mau berbaik hati memberikan tumpangan sementara.

Ryan mendekat ke arah Agnes. Dia kemudian duduk di samping Agnes.

" Ini. Siapa tahu, ini cukup buat bayar kontrakan rumah kamu." Ucap Ryan sembari menyodorkan sejumlah uang pada Agnes.

" Terimakasih." Agnes tersenyum. Dia tidak mungkin menolak pinjaman uang itu. Karena, Agnes memang sedang membutuhkan.

" Terimakasih Ryan. Kamu sudah mau meminjami aku uang. Aku janji, kalau aku sudah kerja nanti, aku akan ganti semua uang uang kamu."

Ryan tersenyum.

" Oke, santai aja kalau sama aku. Kamu bisa membayarnya kapanpun." Kata Ryan.

*Agnes, padahal aku ikhlas membantu kamu Agnes. Karena aku sayang sama kamu. Aku tidak mengharapkan kamu mengembalikan uang itu. Tapi, aku tahu siapa kamu Agnes. Kamu itu gadis yang sangat sulit sekali menerima bantuan secara cuma-cuma. Jadi, terserah kamu saja, mau di kembalikan atau tidak.* Batin Ryan.

" Alhamdulilah, " Agnes hanya bisa mengucap syukur. 

Setelah Agnes berhasil meminjam uang pada Ryan, Agnes kemudian pamit pulang. Agnes kemudian keluar meninggalka rumah Ryan.

" Agnes, Hati- hati yah." Ucap Ryan.

Agnes tersenyum sembari menaiki sepedanya. Setelah itu dia menggoes sepeda sampai ke rumahnya. 

" Ibu, Bapak, Agnes pulang nih." Ucap Agnes sembari membawa amplop cokelat yang berisi sejumlah uang yang entah berapa isinya. Agnes belum menghitungnya. 

" Kenapa Nak?" tanya Ibu Agnes.

" Lihat, ini uang aku dapat pinjaman  dari Ryan."

Ibu Agnes dan Bapak Agnes saling menatap.

" Alhamdulilah, Ryan memang anak yang baik yah. Dia mau membantu kita terus." Kata Bapak Agnes.

" Makanya dari itu Pa,aku suka bersahabat sama dia. Dia itu, cowok yang baik. Sangat baik." Kata Agnes tampak memuji.

" Ibu harap,kamu berjodoh dengannya. " Kata ibu Agnes tiba-tiba.

Agnes terkejut mendengar ucapan ibunya. Agnes kemudian terbahak.

" Ha...ha...ha... Ibu ini. Bisa aja bercandanya. Ini uangnya. " Kata Agnes sembari memberikan uang pada ibunya.

Bapak dan ibu Agnes tersenyum bahagia.

" Mudah-mudahan saja, nanti bapak ada rezeki untuk membayar hutang pada Nak Ryan."

" Amin. Agnes juga mau cari tahu lagi, soal lowongan di cafe." Kata Agnes.

" Iya Nak. Sepertinya, kamu itu sangat lelah Nak. Kamu sejak pagi belum istirahatkan? Sekarang, pergilah ke kamar. Mandi dan istirahatlah."

" Iya ibu."

Agnes kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi, dia akan membersihkan tubuhnya yang sudah tampak lengket karena seharian dia beraktifitas di luar rumah.

Setelah selesai mandi, Agnes pun merebahkan dirinya ke kasur. Dia kemudian meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Ya

Agnes memencet nomer Sarah sahabatnya. 

" Halo, Agnes."

" Halo Sar. Kamu lagi sibuk yah." 

" Nggak kok, lagi santai ini. Ada apa?"

" Sar, saya mau tanya lowongan di cafe. Apa di cafe tempat kamu kerja ada lowongan?"

" Lah, emang Ryan gimana? Dia nggak jadi nyariin?"

" Nggak. Katanya di cafe itu, sudah banyak yang daftar."

" Ya udah deh. Nanti aku coba yah, tanya sama manager aku tempat aku kerja."

" Iya. Makasih ya Sar. Aku tunggu lho."

" Iya sama-sama."

" Sudah dulu yah. Aku capek nih. Aku mau istirahat."

" Iya Nes. Selamat istirahat yah. "

" Iya." 

Tut. Agnespun kemudian memutus saluran telponnya. Dia sudah terasa capek sekali. Seharian dia jalan kaki. Ditambah lagi, bertemu dengan lelaki yang membuatnya kesel. Karena membuat dia pulang ke rumah dengan basah-basahan.

*****

Pagi-pagi, Agnes sudah tampak rapi. Dia sudah menyisir rambutnya dan mengucirnya ke atas. Pagi ini, dia hanya memakai celana jeans dan kaos sedikit ketat. Agnes sedari tadi masih bercermin. Dia tersenyum dan menghela nafasnya dalam.

" Ah, rasanya berat banget beban hidup aku. Tapi, aku akan selalu bersyukur. Karena, aku masih bisa kuliah. Walau gaji bapak, cuma pas- pasan untuk bayar kontrakan pun kurang, tapi nggak apa-apa. Yang penting aku masih bisa kuliah. Nanti aku mau nyoba nyari kerja untuk sampingan aku. Aku nggak boleh mengandalkan bapak dan ibu terus." Gumam Agnes.

Agnes semakin semangat saja melakukan aktifitasnya di pagi ini. Apa lagi, dia mempunyai hutang yang cukup banyak pada Ryan sahabatnya.

" Aku akan tunggu kabar dari Sarah. Siapa tahu, di tempat Sarah, ada lowongan kerja." Kata Agnes lagi.

Agnes kemudian memutar tubuhnya dan melangkah keluar kamarnya. Di ruang tengah, dia melihat bapaknya sedang duduk sembari menikmati secangkir kopi dan membaca surat kabar.

" Agnes..." Seru ibu Agnes yang tampak masih berkutat di dapur.

" Iya Ibu." Kata Agnes sembari melangkah ke arah ibunya.

" Ada apa ibu?" Tanya Agnes yang sekarang sudah tepat ada di samping ibunya. 

" Kamu sudah siap mau berangkat ke kampus?" 

" Iya ibu. Kenapa? Ibu butuh bantuan ?" Tanya Agnes sembari menatap lekat ibunya. 

" Tidak, ibu cuma mau tanya. Kamu mau sarapan dulu apa nggak?"

" Nggak dulu lah Bu. Aku sarapan di kantin saja nanti."

"Baiklah kalau begitu." Kata Ibu Agnes.

Agnes kemudian mencium punggung tangan ibunya. Kemudian dia mengecup kedua pipi ibunya. Setelah itu dia menghampiri ayahnya. Dipun melakukan hal yang sama. Mencium ayahnya dan menyalin tangan ayahnya.

" Berangkat dulu yah." Ucap Agnes.

" Iya. Hati- hati yah Agnes." Kata Bapak Agnes.

" Iya Pak Bu." Kata Agnes sembari pergi meninggalkan ruang tamu.

Agnes kemudian melangkah ke arah samping rumah. Dia mengambil sepedanya. Agnespun kemudiam menggoes sepeda sampai ke kampus.

Agnes menyusuri jalanan yang penuh polusi.Agnes tidak pernah malu walau ke kampus harus naik sepeda. Walau terkadang, ada anak kampusnya yang mencemoohnya. Tapi, Agnes tidak pernah memperdulikan mereka. Baginya, menuntut ilmulah yang terpenting, yang akan membawanya pada kesuksesan.

Di tengah perjalana tiba- tiba saja Agnes menjerit saat ada sepeda motor yang akan menyerempetnya. Sepeda Agnes oleng ke kiri dan akhirnya Agnespun terjatuh. 

" Auh, sakit sekali." Gumam Agnes. 

Sebuah mobil mewah, tiba-tiba saja berhenti di depan Agnes. Seseorang yang ada di mobil itu, turun dan menyelamatkan Agnes.

" Agnes." Ucap Ryan.

" Ryan...tolong aku." Kata Agnes dengan menahan sakit.

Ryan kemudian mendekat ke arah Agnes.

" Kamu, kenapa bisa jatuh seperti ini?" Tanya Agnes.

" Iya Ryan. Tadi ada motor yang mau menyerempetku. Jadi aku terjatuh seperti ini deh."

" Mana yang luka"

Agnes kemudian menunjukan semua luka- lukanya. 

" Ini, ini, dan ini..." Ucap Agnes.

Ryan tersenyum. Tanpa fikir panjang lagi, Ryan menggendong tubuh Agnes dan membawa kemobilnya. 

" Hei, Ryan apa yang kau lakukan?"

Ryan melebarkan senyum dan menatap Agnes.

" Sudah, nggak usah cerewet. Aku akan ngajak kamu ke kampus bareng. Mulai sekarang, kamu tidak usah pakai sepeda lagi yah. Bareng aku aja ke kampusnya. " Kata Ryan.

Agnes hanya mengangguk dan tersenyum. Dia hanya bisa pasrah dalam gendongan Ryan. 

Ryan kemudian membawa Agnes naik ke dalam mobil. Dia kemudian mendudukkan Agnes di dalam mobil.

" Kamu tunggu di sini yah. Aku akan ambil sepeda kami." Ucap Ryan.

Ryan kemudian pergi meninggalkan Agnes dan melangkah ke arah di mana Agnes jatuh. Ryan mengangkat sepedanya dan Ryan meletakan sepedanya di belakang mobil.

Setelah itu, Ryanpun melajukan mobilnya sampai ke kampus. 

Sesampai di parkiran, Ryan dan Agnes turun. Mereka melangkah ke arah kelasanya. Setelah sampai di kelas Ryan, Agnes dan Ryanpun berpisah, karena kelas Agnes itu berbeda dari kelas Ryan.

Agnes berajalan dengan terpincang-pincang karena menahan sakit. Dia melangkah menuju ke mejanya.

" Hei Nes, kamu kenapa? Kok jalannya pincang gitu...?" Tanya Sarah teman Sekelas Agnes. 

" Iya ini Sar. Tadi aku kecelakaan di jalan. Untung ada Ryan yang nolongin. Kalau nggak, mungkin aku nggak bisa sampai ke sekolah."

" Ya udah duduk. Sebentar lagi, masuk."

Agnes kemudian duduk.

Beberapa menit kemudian, semua anak sekelas diam,saat seorang dosen wanita datang dan menghampiri kelasnya.

" Selamat pagi anak-anak...?" Sapa Bu Lasmi. 

" Pagi Bu..." Koor Mahasiswa kompakan.

" Baiklah, hari ini Bu Dian sudah tidak mengajar lagi, karena Bu Dian sudah mengambil cuti hamil. Sekarang, ibu akan memperkenalkan asisten dosen yang akan menggantikan Bu Dian mengajar." Ucap Bu Lasmi.

Semua mahasisawa berpandangan. Mereka tampak penasaran dengan asisten dosen itu.

Tak lama kemudian,seorang lelaki berpawakan tegap tinggi,dengan senyuman yang menawan, melangkah masuk ke dalam kelas Agnes.

"Astaga, cakep banget..." Sarah bergumam lirih.

" Iya. Cekep banget. Apa kita lagi mimpi yah, Pagi-pagi gini udah di hadirkan orang cakep." Ratih menimpali.

Agnes tersenyum. Dia sudah tidak heran lagi dengan lelaki itu. Dia itu lelaki yang kemarin sempat memaksanya untuk membeli baju ke butik. Yah, dia itu adalah Raka. 

Raka tersenyum pada semua siswanya. 

" Selamat pagi anak-anak?"

" Pagi Pak..."

Bu Lasmi kemudianberpamitan untuk keluar. " Silahkan Pak. Lanjutkan." Ucap Bu Lasmi.

" Iya terimakasih."

" Apa kabarnya pagi ini anak- anak?"

" Baik Pa." Seru anak sekelas kompakan. Mereka sangat antusias sekali menyambut dosen barunya itu.Mereka tidak menyangka, kalau asisten dosen pengganti Bu Dian itu akan setampan itu.

Raka kemudian memperkenalkan diri sebelum mengajar. Dia juga belum memberikan materi apapun di kelas, karena dia yang masih baru, jadi Raka itu cuma perkenalan saja sama siswa- siswanya.

Setelah jam pelajaran selesai, siswi- siswi di kelas, tampak mengerumuni Pak Raka. Mereka sepertinya ingin berkenalan lagi, atau apa. Yang pasti, itu semua membuat Raka risih sendiri.

" Pak, boleh tanya-tanya dong."

" Iya mau tanya apa?"

" Udah punya istri belum sih?" 

Raka tersenyum." Sudah. Saya sudah beristri 

Agnes yang masih duduk di tempat duduknya. Terdiam. 

*Oh,jadi Pak Raka sudah punya istri.* Batin Agnes. Agnes tampak sedikit kecewa. Entah kenapa gadis tomboi itu jadi kecewa sekali mendengar penuturan Raka.

" Tapi, " Raka memotong pembicaraan yang membuat gadis di sekelilingnya, itu penasaran.

" Tapi apa Pak?"

" Istriku sudah meninggal." Ucap Raka.

" Ha..." 

Mahasiswa itu saling berpandangan, dengan wajah penuh keterkejutan. Ternyata yang ada di depannya itu lelaki duda. Dan istrinya sudah meninggal. 

Raka tampak membereskan buku-buku nya. Dia tidak ingin berlama-lama di kelasnya. Karena masih banyak tugas yang harus dia kerjakan.

" Oke, kalau begitu, saya rasa sudah cukupkan perkenalanya. Saya permisi." Kata Raka sembari pergi meninggalkan kelas itu.

" Nes, duda Nes...ternyata dia duda." Kata Sarah yang tampak masih terkagum- kagum.

" Wah, seandainya aku bisa jadi istri penggantinya Pak Raka, aku pasti senang banget. Pak Raka cakep bangetkan Nes." Ucap Sarah 

Agnes hanya mengedikan bahunya.

Setelah pelajaran selesai, Agnes dan Sarah kemudian keluar kelas. 

" Nes, cakep banget ya tuh dosen." Ucap Sarah yang belum bisa melupakan assiten dosen itu.

Agnes hanya tersenyum.

" Kenapa? Kamu naksir? Gimana dengan Thomas...?"

" Duh, iya. Aku naksir. Tapi, aku masih sayang sama Thomas. Jadi, mana mungkin aku berpaling dari Thomas."

Ha...ha...ha..

" Kok ketawa sih...!" Dengus Sarah.

" Lucu kamu. Kamu udah punya pacar, sempat- sempatnya kamu naksir sama dosen duda."

Agnes dan Sarah kemudian menuju ke parkiran. Sesampai di sana, Thomas menghampiri Sarah kekasihnya. 

" Hai sayang..." Sapa Thomas.

" Hai Thomas." Ucap Sarah.

" Pulang bareng yuk.." ajak Thomas.

" Ayo...!" Kata Sarah bersemangat. Sarah memang selalu bersemangat jika di ajak Thomas pulang bareng, walau cuma naik motor.

" Nes, aku tinggal dulu yah?"

" Oh iya Nes, tolong yah, nanti itu kapan mulai kerjanya. "

" Nanti sore aku ke rumah kamu. Nanti aku ajakin kamu ke cafe itu."

" Oke kalau begitu. Nanti aku tunggu yah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kepentok cinta dosen duda   Bab 2 Dosen baru

    Ryan masih memperhatikan wajah mungil Agnes. Agnes, seorang gadis yang tomboi, namun wajahnya cantik jelita tanpa make up itu, selalu membuat Ryan setiap haru kangen sama Agnes.Agnes, gadis yang ceria dan menyenangkan. Walau terkadang dia judes dan galak, namun Agnes itu sudah bisa membuat hati Ryan penuh warna. Sudah sejak SMA mereka berteman. Dan mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Ryan yang sudah begitu mengenal Agnes, dan Agnes yang sudah begitu mengenal Ryan. Namun, perasaan Ryan pada Agnes itu, semakain hari, kian tumbuh menjadi perasaan cinta. Namun tidak dengan Agnes, dia hanya menganggap Ryan sebatas sahabat.Ha...ha...Ryan tertawa. Lagi- lagi dia tertawa.Ryan memang selalu bisa membuat Agnes bahagia. Dengan kehumorisannya, Agnes jadi semakin suka bersahabat dengan Ryan. Ryan bisa mengisi kebahagaiaan dalam hidup Agnes yang selalu dalam kesulitan itu." Udah dong Ian, berhenti tertawanya. Aku lagi pengin ngomong serius nih." Ka

  • Kepentok cinta dosen duda   Bab 1 Pertemuan pertama

    Agnes masih berada di jal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status