MasukMonalisa, hidup dalam bayang-bayang cinta pertamanya. Kisah antara dirinya dan Adrian belum pernah dimulai, tapi Monalisa selama belasan tahun rela 'menunggu' Adrian dalam ketidak pastian. Bahkan, sederet lelaki yang menjalin kasih dengannya haruslah bernama Adrian. Segila itu Monalisa terobsesi dengan Adrian. Monalisa hanya butuh tahu, apakah Adrian pernah mencintainya? Di tengah penantiannya, Monalisa bertemu dengan William. Lelaki yang selalu terbakar oleh rindu, tapi anehnya William tidak pernah tahu siapa yang ia rindukan. Saat ia bertemu Monalisa, ia tahu bahwa ia telah menemukan jawaban atas segala rindunya selama ini. Apakah William mampu mengusir nama Adrian dalam hidup monalisa? Dan apakah Monalisa mampu untuk lari dari pesona William? Dan disaat semua rumit, Adrian datang membawa segudang cinta untuk Monalisa.
Lihat lebih banyakLisa.Kadang, hidup ini begitu lucu. Bertahun-tahun aku merindukannya, dia sama sekali tak tergapai. Kini, saat aku ingin semua masa lalu itu hilang, dia hadir tanpa diminta.Apakah ini jawaban atas ketakutanku?Suara magis itu menyebut namaku tanpa beban, tanpa dosa. Seolah memang tidak ada satu hal pun yang terjadi di antara kami berdua.Aku yakin, dia sadar tubuhku gemetar dan dingin saat jemarinya menyentuh bahuku yang telanjang.Kenapa harus sekarang dia datang?"Hi ... Iya?""Benar, Lisa, kan?" Jari telunjuknya menunjuk ke arah wajahku, yang aku yakin sudah pucat pasi.Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum."Masih ingat aku, kan? Enggak mungkin kamu lupa."Are you kidding me, Adrian? Aku lupa sama kamu?Mataku nanar menatap matanya. And
Indonesia. Lisa.Langit mendung, tak nampak bintang-bintang di sana. Hanya gedung-gedung tinggi yang memanjakan mata, dan keramaian jalanan di depan hotel. Ini sudah pukul 18.00 wib, tapi aku masih termenung di balkon kamar. Menatap langit yang tak ada menariknya sama sekali. Harusnya, aku sudah berada di depan cermin, memoles wajah dan memakai gaun terbaik untuk hadir di pesta resepsi Rosie.Nyatanya, aku memilih menikmati atmosfer negara ini yang justru membuka semua luka lama. Mengingat mereka, orang-orang yang menyakitiku. Ibuku yang menghianati aku dan ayah, juga Adrian yang menggantung perasaanku sepanjang belasan tahun.Semilir angin dingin menyapa tubuhku, bersamaan dengan perasaan takut yang tiba-tiba hadir begitu saja. Kini aku berada begitu dekat dengan mereka, orang-orang di masa laluku. Apakah aku akan tersakiti kembali? Pertanyaan itu sedikit mengusik ketenanganku malam ini.
Indonesia. Lisa.Kesal membuatku menjadi tidak fokus. Apapun yang aku kerjakan rasanya salah.Sepatu dengan hak yang terlalu tinggi, kain bawahan yang menyapu lantai, sungguh bukan suatu hal yang aku suka.Sepanjang menuju ballroom aku mengumpat tidak jelas. Rasa frustrasi yang sebenarnya aku sendiri tidak mengerti karena apa? Seorang Lisa, tidak akan hilang kendali hanya karena sepatu yang ketinggian dan kain yang kepanjangan.But ... I'm doing it now!Dan, saat melihat seberapa banyak anak tangga yang harus aku naiki? Umpatan keras hewan pink berkaki empat itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa bisa dicegah."BABI!!!"-Aku menarik napasku dalam-dalam. Aku mulai menyesali keputusanku datang ke negara ini dan acara ini. Aku tidak pernah punya keberuntungan di negara ini!Perlahan aku mulai m
Indonesia. Lisa.Aku tak percaya pada keputusanku saat menapakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta. Aku kembali ke negara ini setelah sekian lama aku berusaha lari.Dua minggu yang lalu, Rosie memaksaku untuk berangkat bersama dirinya dan keluarga besarnya. Namun, aku menolak dengan berbagai macam alasan.Sebenarnya aku ragu untuk kembali ke negara ini, jika bukan karena Rosie. Aku sudah terlanjur berjanji kepadanya untuk menjadi pendamping mempelai di hari bahagianya.Sekarang aku bingung harus bagaimana? Aku memutuskan datang di detik-detik terakhir. Dan hari ini adalah acara mereka berdua. Aku tidak yakin akan sampai tepat waktu untuk datang ke acara tersebut. Apalagi mengingat bagaimana macetnya ibukota negara ini."This is my first time to Jakarta."Ucapan Lucas menyentak kesadaranku. Kami sedang mengantre bagasi. Ya ... Aku mengajak Lucas, aku butuh